
Anak-anak baru yang baru datang berpose dengan anak-anak lama di mathar (foto: hamdoen)
Hari ini anak baru datang. Mereka berenam. Cukup banyak memang. Tidak seperti dua tahun terakhir, yang jumlahnya tak sebanyak kali ini. Jumlah ini tentu saja menambah anggota ikamaru. Apalagi tahun ini sedikit yang bertekad pulang.
Merupakan kebanggaan bisa studi di luar negeri. Apalagi di Universitas Al Azhar, sebuah universitas tertua di dunia yang familiar di masyarakat Indonesia, karena di sana dianggap tempat yang tepat untuk mendalami ilmu agama. Mereka bisa dikatakan beruntung, masih bisa mencicipi bangku kuliah, apalagi mendapat dukungan moral dan materi dari orang tua. Belajar di luar negeri, dengan buku pegangan dan pengantar bahasa Arab, bukan bahasa sehari-hari kita di Indonesia, merupakan tantangan sendiri.
Ya, semua orang tahu, jika sudah ke luar negeri, maka siapa pun yang belajar di sana, harus menguasai bahasanya. Tapi kadang banyak juga anak-anak baru yang minim kemampuannya berbahasa Arab. Menurutku, mereka yang datang ke sini dengan kondisi demikian, adalah tindakan yang nekad. Meskipun dalam bayangannya bisa jadi kekurangmampuannya bisa ditutupi dengan menyeriusi belajar bahasa Arab lagi disini, tapi hal itu tetap saja merupakan kendala jika mereka sudah berhadapan dengan diktat kuliah. Mereka pasti kesulitan memahami, dan akhirnya, kalau tidak punya semangat tinggi untuk belajar, maka akan membuatnya dalam posisi yang sulit.
Sebenarnya, hal tersebut bisa disiasati. Yang penting adalah mereka rajin membaca dan rajin membuka kamus. Juga sering-sering bertanya jika masih susah memahami apa yang sedang dibaca. Memahami bacaan berbahasa Arab memang susah. Untungnya, diktat kuliah di Al Azhar sebagian besar ditulis dengan bahasa turats yang mudah dipahami. Bahasa ini juga sering kita pelajari saat di pesantren. Jadi, tidak terlalu sulit untuk memahaminya terutama bagi mahasiswa baru.
Nah, selain itu, mereka harus terbiasa menghapal. Salah satu kunci kesuksesan untuk meraih nilai maksimal saat ujian di Al Azhar adalah kemampuan seseorang menghapal muqarrar saat ujian. Ini yang perlu diperhatikan. Jadi, selain pemahaman, hapalan amatlah penting untuk menghadapi ujian Al Azhar yang, bagi pemula seperti aku dulu, sangat menyeramkan dan bikin deg-degan
Lambat laun mereka yang masih baru akan memahami apa yang perlu dilakukan sebagai mahasiswa Al Azhar. Yang penting, semangat mereka untuk belajar tidak luntur. Yang sering aku sayangkan kepada mereka adalah, ketika mereka larut dalam kondisi yang melenakan, sehingga mereka jadi aras-arasen belajar. Atau, mereka di sini banyak dolanan mulu. Itu yang aku khawatirkan. Belajar di sini sangat berat. Menjaga semangat tidaklah mudah. Kondisi di sini kadang tidak kondusif.
Aku ucapkan selamat datang buat mereka. Semoga mereka mampu menggali khazanah keilmuan di sini. Dan ketika pulang, semoga bermanfaat bagi orang banyak. Amin.
Kattamea, 9 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar