Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Minggu, 10 Oktober 2010

Indonesia dibantai Uruguay 1 - 7, Ndak Kaget!!

Timnas Indonesia (foto: google.com)

Jumat sore kemarin (8/10) Indonesia dibantai. Dengan skor telak. Oleh Uruguay yang juara empat pada Piala Dunia 2010. Agak tragis memang. Skor sebanyak itu cukup menonjok. Apalagi melihat permainan Indonesia, seolah tanpa daya di hadapan salah satu raksasa sepakbola dunia. Kita hanya kecewa, sembari menahan rasa malu.

Sejak kemarin, saya berniat membuat catatan tentang permainan Indonesia. Tentang sehimpun kelemahan tim Indonesia yang sampai saat ini saya sukar memahaminya. Juga tentang gaya permainannya dan skil individu pemain. Dengan memelototi sepanjang laga tentu saja. Namun sayang, sore kemarin koneksi internet kurang bagus, tampilan laga di layar komputer pun sering putus-putus. Jadi, selain tidak nyaman nontonnya juga agak susah mengikuti detail laga akbar tersebut.

Namun kali ini saya hendak berbicara tentang kekalahan. Tim Indonesia hari-hari ini memang akrab dengan kekalahan. Saya kurang tahu data statistik kemenangan dan kekalahan Indonesia dalam laga Internasional sejak PSSI dipimpin Nurdin Halid. Selain pertandingan frendly melawan Uruguay kemarin malam, kekalahan dramatis Indonesia yang paling menghebohkan adalah saat ditekuk Oman 1 - 2 dalam lanjutan kualifikasi Piala Asia 2011, Juni lalu di Stadion Gelora Bung Karno. Dengan kegagalan ini, otomatis Indonesia tidak bisa mempertahankan berlaga di putaran final Piala Asia 2011.

Memang dalam babak kualifikasi itu Indonesia berada dalam grup yang berat. Selain Oman, dalam grup B Indonesia bergabung dengan Australia dan Kuwait, hingga akhirnya dua negara terakhir ini lolos pada putaran final Piala Asia 2011 di Qatar. Dengan demikian, pupus sudah harapan pecinta bola Indonesia menyaksikan tim kesayangannya, yang setidaknya mengharapkan permaian aktraktif seperti saat berlaga pada Piala Asia 2007 di Jakarta.

Kekalahan Indonesia melawan Oman terasa pahit. Di kandang sendiri, seolah tak berkutik menghadapi lawan yang secara kualitas tak jauh dengan Indonesia. Saya tidak melihat keseluruhan pertandingan waktu itu. Tapi menyimak dan mendengar kekalahan Indonesia, yang lagi-lagi akrab di telinga saya, rasanya saya semakin tak paham, sebenarnya apa yang salah dengan sepakbola kita. Sengaja saya mengambil sampel dari momen pertandingan ini. Karena laga tersebut membuhulkan kekecewaan para supertor Indonesia yang tim kesayangannya gagal berlaga di ajang Piala Asia. Apalagi harapan terakhir itu disudahi dengan kekalahan Indonesia yang dipermalukan di rumah sendiri.

Bisa dimaklumi kenapa saya, seperti suporter-suporter Indonesia lainnya, mengharapkan sepakbola Indonesia unjuk gigi di ajang internasional. Ada kerinduan dan harapan jika timnas kita sesungguhnya bisa mengharumkan Indonesia. Kita juga maklum bagaimana prestasi tim Indonesia akhir-akhir ini. Tak ada yang dibanggakan sama sekali. Kekecewaan suporter terlihat di mana-mana. Dalam forum-forum dan komentar situs-situs berita tentang timnas Indonesia, kita bisa melihat bagaimana kecewanya mereka. Yang tak henti-hentinya dilakukan mereka adalah menghujat Ketua PSSI, Nurdin Halid yang dianggap tak becus ngurus PSSI dan menjadi sumber petaka sepakbola Indonesia.

Lah, kok tiba-tiba PSSI mengundang tim peringkat tujuh dunia. Mula-mula saya berpikir timnas Indonesia kalah tidak setelak ini ketika melawan Uruguay. Betul saya beranggapan kalah. Mungkin ini juga yang ada di pikiran orang se-Indonesia sebelum menyaksikan laga. Kalaupun ada yang memprediksi seri atau menang, itu pun hanya sekedar abang-abang lambe, untuk tidak dianggap tidak mempunyai jiwa nasionalisme. Di sudut ruang hatinya terdalam, mungkin juga mengiyakan jika Indonesia bakal kalah.

Dan terbukti di lapangan. Mula-mula saya ada sedikit harapan setidaknya timnas mampu menjaga gawangnya biar tidak banyak kebobolan ketika Boaz Solossa mencetak gol pada menit 17. Melalui umpan lambung Bambang Pamungkas, dengan memanfaatkan ruang kosong yang ditinggal bek kiri Uruguay, Boaz dengan cepat menyambar bola, lalu sempat mengecoh kiper lawan sebelum menceploskannya ke gawang Uruguay. Namun, seperti yang sudah kita lihat-lihat, timnas Indonesia selalu ganas di awal-awal pertandingan. Seterusnya kita bisa lihat sendiri bagaimana kualitas timnas kita.

Dan kita tahu skor terakhir pertandingan. Sangat mencolok. Kualitas timnas Indonesia pun terbaca. Seolah kita disuguhi cermin, ini lho wajah persepakbolaan kita, juga mungkin beberapa cabang olahraga lainnya. Ada yang mengatakan kekalahan ini dipicu karena timnas Indonesia kalah kelas. Demikian menurut pelatih Indonesia Alfred Riedl saat ditanyakan mengenai kekalahan mencolok timnya. "Kita bisa lihat beda kelasnya. Kami memang tak punya peluang," kata Riedl setelah pertandingan.

Pernyataan senada juga dari diungkapkan Bambang Pamungkas, kapten tim. “Kalah kelas itu pasti. Di babak pertama mereka mungkin terkendala cuaca, tapi usai 15 menit merek semakin membaik. Kita kalah secara teknik dan fisik. Yang pasti kita memang kalah kelas", katanya, seperti diberitakan Kompas.com.

Sebenarnya, siapa pun tahu jika Indonesia jauh kelasnya sama Uruguay. Saya tak habis pikir kenapa PSSI nekad mendatangkan Urugay yang menghabiskan dana 4 miliar rupiah itu. Banyak yang mengatakan, jika upaya ini diperlukan biar timnas kita bisa menimba ilmu dan pengalaman dari tim-tim besar dunia. Tapi pengalaman apakah yang bisa didapat? Bukankah kekalahan demi kekalahan seharusnya sudah cukup menjadi pengalaman berharga untuk tidak kalah lagi sehingga melecutkan prestasi?

Saya melihat pertandingan ini justru mempermalukan sepakbola Indonesia. Sudah tahu kelasnya jauh sama Uruguay, masih percaya diri mendatangkan tim yang kini nangking di pringkat tujuh FIFA. Tapi ada hikmah lain bisa dipetik. Semoga PSSI sadar dan mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi keruwetan sepakbola Indonesia. Pertandingan kemarin menyadarkan Indonesia betapa jauhnya kualitas sepakbola kita. Bahkan bisa saja laga itu mempertontonkan kebodohan PSSI dalam mengelola sepakbola di tanah air.

Sebagai penggemar sebakbola, tentu saya tidak ingin memandang sebelah mata timnas Indonesia. Saya ingin kebanggaan yang ditorehkan oleh mereka. Sudah saatnya sepakbola Indonesia maju. Indonesia adalah negara besar. Segala potensi dan bakat muda saya kira mudah bagi PSSI untuk mencari dan mengembangkannya. Bila tidak segera berbenah dan pertandingan kemarin tidak dijadikan cermin tentang sebuah kekalahan dan kemunduran, saya tak akan terkaget-kaget apabila ke depan timnas Indonesia dibantai lagi dengan skor mencolok. Kita, barangkali, terlalu akrab dengan kekalahan.

Kattamea, 9 Oktober 2010
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar