Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 22 Oktober 2010

Secangkir Kopi


Membaca atau menulis kemudian ditemani secangkir kopi, bagi saya, adalah sebuah kenikmatan. Saya kerap membayangkan demikian, terutama di kesunyian yang sendiri, atau pagi hari ketika suasana masih akrab dengan kesegaran. Betapa nikmatnya, apalagi di sela-sela membaca lahir ide cemerlang untuk kemudian dituangkan dalam sebuah tulisan.

Saya kerap membayangkan, bahwa secangkir kopi itu bukan semata minuman pahit, melainkan teman akrab yang menjadi perantara untuk menggali inspirasi. Saya lantas membayangkan, ketika berhenti sejenak dari aktivitas yang berjubel, saya mengisi waktu luang saya dengan secangkir kopi dan buku, kemudian saya menyeruputnya perlahan-lahan sembari berharap pikiran fres sehingga membantu saya mencerna buku yang sedang saya baca.

Dan saya akan lebih berharap hujan turun menemani saya yang sedang minum kopi. Alamak, mungkin inilah suasana yang paling nikmat! Hawa dingin lalu terasa hangat oleh kepulan panas kopi. Sambil mendengarkan rintik-rintik hujan, menyeruput kopi lalu melamun sejenak, merenung, berpikir, kemudian ide-ide brilian datang, sungguh merupakan dunia yang menyenangkan!

Pagi, sunyi, dan kopi, adalah dunia saya. Saya selalu berharap ketiganya hadir ketika dunia saya adalah dunia yang ajeg dan membosankan. Entah kenapa saat ini ketika ketiganya hadir, saya tidak bisa menikmatinya. Karena itu saya hanya bisa membayangkan bahwa dunia itu akan hadir lalu perlahan-lahan saya menemukan kebahagiaan. Ketenangan, berpikir, menulis, lalu ditemani secangkir kopi hangat.

Jiwaku sering bertukar warna. Silih berganti dengan warna cemas yang paling menyala. Susah sekarang saya mendapatkan ketenangan. Apalagi berpikir jernih lalu menuliskannya. Maka secangkir kopi dengan suasana sunyi yang damai, adalah dunia yang kurindu.(*)

Kattamea, 22 Oktober 2010
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar