Selalu ada suara usil menimbang diriku: sebuah cemooh. Menampar dalam keheningan jangan sampai terjerumus jauh dalam lembah kenangan. Hidup adalah realitas, bukan hayal. Mimpi-mimpi masa silam hanya akan menjadi sarang penghabisan.
Perih. Tapi aku musti menuliskannya. Hanya itu yang kubisa sekarang. Merekam segala gundah, meski tak mudah. Aku melakukannya ketika hidupku adalah sederet alur ajeg, sembari berikhtiar walau belum maksimal. Tubuh dan pikiran mulai melemah ketika kondisi yang mengakrabi tidak seperti dulu. Ada rindu untuk lebih maju sembari menghirup udara baru.
Lihatlah, katamu, keramaian di sana. Menawarkan optimisme baru dengan segala tantangannya. Aku suka mereka yang berani hidup, katamu. Yang akan selalu memberi, bukan meminta lagi. Berjalanlah kau terus. Tataplah ke depan. Sehingga hilang dan purna segala gelisah.
Sudah larut. Tapi pagi selalu kembali. Menantang untuk lebih berani. Jangan di sini berhenti. Mari berkarya mencipta kekal abadi. Merelakan keluar keringat darah. Menembus kabut. Menempuh lika-liku hidup. Kalau sampai waktumu, kau akan mengerti, betapa yang sia-sia selalu pergi. Dan bahagia, dengan keabadian makna dan cipta, selalu mengenangmu...
Kattamea, 15 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar