Di keheningan malam ini, apalagi kuping kiri yang terus berdengung akibat infeksi sejak dua hari kemarin, paling enak mendengarkan musik instrumental. Terasa sejuk dan nyaman. Di samping untuk mengurangi rasa sakit telinga, musik instumental juga menyejukkan hati, terutama kala dilanda sedih, sepi, dan perih. Musik instrumental bak penyiram kedamaian saat kondisi tak mengakrabi lagi.Aku tak paham musik. Tak satu pun alat musik aku bisa memainkannya. Tapi aku paham jenis musik. Jadi, aku tergolong penikmat musik. Dan sampai sekarang, selain penikmat instrumental, aku juga penikmat musik-musik jenis lainnya. Yang paling kusuka adalah jenis pop, sedikit slow dan enak didengar. Jadi, jika ada musik yang tiba-tiba enak didengar telinga, aku langsung jatuh cinta, meski sebelumnya belum tahu siapa yang nyanyi.
Musik-musik pop yang kusuka adalah lagu-lagu yang dibawakan oleh Padi. Terus terang, selain permainan musiknya yang aduhai, lirik-liriknya juga bagus. Meski liriknya agak njlimet, tapi bila aku perhatikan dengan seksama, terkandung makna yang dalam, dan acap cocok dengan pikiran dan laku hidupku. Makanya, aku hapal banget lagu-lagu Padi. Banyak kenangan penting yang tersisa darinya. Ini kebetulan karena bersamaan dengan keluarnya album baru Padi (terutama album ketiga dan keempat), aku mulai akrab dengan momen penting dan kebetulan ada lirik lagu yang momennya serupa dengan yang aku alami. Karena itulah sampai sekarang aku tak berani lagi mendengarkan lagu Padi. Aku khawatir terseret ke masa silam, dengan kenangan yang banyak suramnya.
Selain Padi, aku juga menyukai Dewa 19 (terutama yang vokalisnya Ari Lasso), Ebiet G. Ade, Iwan Fals, dan Chrisye (tentang suara dan lagu Chrisye akan kubuatkan catatan sendiri). Namun saat ini, aku jarang mendengarkan lagu-lagu mereka. Bahkan aku yang ngefans Iwan Fals, dimana tahun ini baru saja mengeluarkan album baru, juga tak tertarik untuk mendengarkannya. Hanya lagu-lagu Chrisye yang masih akrab ditelingaku. Selain itu, aku jarang mendengarkan lagu-lagu Indonesia, bahkan yang keluaran baru sekalipun. Bahkan band-band atau artis pendatang baru jarang kuperhatikan, ada rasa malas untuk mengikuti dan mendengarkan karya mereka. Hari-hari ini aku malah akrab dengan sepi. Menikmati suasana sunyi, dengan sesekali musik instrumental kunikmati.
Menurut Wikipedia, musik instrumental adalah suatu komposisi atau rekaman musik tanpa lirik atau musik vokal dalam bentuk apapun; semua musik dihasilkan melalui alat musik. Secara spesifik, istilah ini digunakan jika merujuk pada musik populer; beberapa genre musik menggunakan sedikit unsur suara manusia, seperti jazz, musik elektronika, dan sejumlah besar musik klasik Eropa (walaupun pada musik elektronika, suara dapat dicuplik seperti jenis-jenis bunyi lainnya).
Perkenalanku dengan musik instrumental adalah saat kali pertama aku mendengarkan suara saksofon yang dimainkan oleh Kenny G. Ini terjadi saat aku masih berusia belasan tahun. Aku sering menyaksikan permaian saksofonnya di tivi-tivi swasta. Aku sangat menikmatnya. Terutama melodi enaknya yang berjudul Forever in Love. Sampai kini masih saja aku menyukainya. Dari sinilah aku mulai mencintai musik-musik instrumental, jika mengacu pada pengertian Wikipedia di atas.
Mungkin perkenalanku ini terlambat. Karena musik instrumental yang apabila di dalamnya terdapat unsur musik klasik Eropa, maka ia mulai dikenalkan oleh musisi legendaris semacam Ludwig van Beethoven (w. 1827) dan Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791). Tapi anehnya, sebagian besar karya-karya mereka kurang akrab di telingaku. Seperti misalnya karya Beethoven dalam simfoni 5 dan simfoni 9 yang termasyhur itu, aku belum bisa menikmatinya. Mungkin aku belum termasuk kategori penikmat dan pengapresiasi yang pintar terhadap karya musik penting semacam karya mereka kali, sehingga masih dalam tatanan luar yang saat menikmati musik cuma menghubungkan dengan enak tidak enaknya selera pendengaran telingaku.
Lalu aku kembali menikmati musik instrumental setelah menonton film-film Korea. Terutama saat booming pada awal milenium ini. Selain ceritanya yang kadang menguras air mata--khas film-film Korea--ceritanya yang panjang-panjang, juga selalu diiringi oleh saundtrack lagu-lagu melow yang khas yang tak lepas dari gitar, biola dan piano. Bahkan dibuat instrumental sendiri, terutama--ini yang aku suka--memainkan piano, saat mengiringi adegan yang mengharubiru. Nah, dari film-film tersebut, mesti ada musik instrumental yang aku suka. Dari sini aku lantas memburu lagunya lewat mp3, apalagi film-filmnya booming seperti Endeless Love, Winter Sonata, Sassy Girl, dll., sehingga saundracknya dijadikan album sendiri, dan karena itu mudah melacaknya di internet lalu kudownload.
Sejak itu aku semakin menikmati musik instrumental. Apalagi sejak mampu membeli komputer sendiri, meskipun butut, dan tiap malam, atau saat menulis atau menerjemah, kadang aku memutar musik instrumental. Lalu aku mulai akrab dengan karya-karya Kitaro, musisi gondrong dari Jepang yang produktif itu. Serta beberapa musik instrumental lain yang tak sengaja aku menemukannya di file komputer teman, lalu aku kopi, dan tiap malam aku mencoba mendengarkannya terutama saat hendak tidur malam. Di antara deretan file musik intrumental itu, secara tak sengaja aku menemukan melodi berjudul Felitsa. Di depan nama file itu ada tulisan yang menyebut Yanni. Waktu aku tak menghiraukannya, siapa Yanni itu. Aku hanya menikmati melodi Felitsa.
Setelah sekian lama dan hasrat mendengarkan musik intrumental kembali menggoda, tiba-tiba aku ingat Felitsa. Dan aku pun lantas teringat Yanni. Setelah iseng-iseng buka Youtube, nama dan judul lagu itu aku temukan. Amazing!! Ternyata Yanni adalah salah satu musisi kelas dunia yang produktif. Ia terkenal pada era 90-an, terutama setelah sukses mengadakan konser di Acropolis pada 25 September 1993. Di konser itu, melalui tayangan Youtube, aku lantas disuguhi tontonan yang mengharukan karena sesekali jelas terekam pada sesosok wanita sedang menitikkan air mata. "Ibuku, dulu, sering bersenandung sepotong kidung saat menidurkan saya hingga terus membekas. Kini kujadikan sebuah lagu utuh," Ujar Yanni sebelum memainkan Felitsa. Wanita itu adalah Felitsa, sosok ibu yang kini melihat anaknya tampil dengan grand piano putih berlatar belakang The Royal Philharmonic Concert Orchestra.
Sejak itu aku jatuh cinta pada karya-karya Yanni. Meskipun tidak seluruh karyanya aku menikmatinya, musisi asal Yunani ini menghiburku dengan lantunan pianonya yang lembut hingga menyejukkan pikiranku. Bahkan, aku bisa menangis bila aku larut dalam melodi Felitsa, terutama saat kangen Emak, lantaran asal mula lagu itu yang diilhami oleh ibunda Yanni. Selain Felitsa, aku menyukai beberapa karya lainnya yang berjudul The End of August, One Man's Dream, November Sky, Reflections of Passion. Lewat Youtube, berkali-kali aku melihat cara Yanni bermain musik. Dan aku sungguh takjub. Musiknya juga enak didengar. Apalagi dalam sebuah konsernya, Yanni diiringi sejumlah musisi dunia yang memainkan musik berbeda, dengan harmoni yang enak didengar dan memukau penonton.
Sampai saat ini, jika hasrat ingin menikmati musik instrumental kambuh, aku sering memutar musik-musik karya Yanni. Aku juga berburu musik-musik intrumental karya musisi lain, terutama melodi piano, lewat Youtube dan googling. Entahlah, mungkin karena dengan musik instrumental, aku bisa menemukan kedamaian pikiran. Melalui musik instrumental, aku ingin diajak berimaji oleh sang pengarang. Tentu imaji yang menyejukkan, dengan membuang segala beban yang acap memberat di kepala. Lewat musik instrumental, aku belajar menikmati arti keindahan. Segala yang indah itu nikmat. Karena Allah Mahaindah, dan menyukai keindahan.[]
Dini hari/8 Oktober 2010
Salam Kenal. Sepertinya kita memiliki persamaan hobby. Saya juga suka musik instrumen. Terutama Yanni. Ada beberapa komposisi yang aku juga belajar memainkannya. Contoh saya suka komposisi Dance with Stranger yang dinamik harmonik.
BalasHapus