Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Minggu, 17 April 2016

Separuh Gelas Kopi

Akhir-akhir ini aku gemar minum kopi. Kegemaran ini kembali muncul lantaran cuaca dingin yang menambah nikmatnya ngopi. Musim penghujan belum beranjak. Tiap sore langit mendung. Lalu hujan. Dan malam ini hujan kembali turun disertai angin kencang. Tiap kali hujan aku selalu was-was. Meski saat hujan selalu meniupkan kenyamanan karena udara dingin, namun kegetiran selalu membuatku terjaga.

Hujan ini seharusnya terasa nikmat sambil minum kopi. Tapi tidak. Aku justru gelisah oleh kondisi rumah kontrakanku yang bocor. Aku khawatir bila tiba-tiba kamar yang ditempati si kecil dan istriku bocor sehingga mengganggu kenyamanan tidurnya.

Kuperhatikan kamar. Tidak bocor. Kutatap istriku yang pulas sambil memeluk si kecil. Betapa damai wajah keduanya. Aku pun kembali minum kopi. Kali ini aku tidak menuangkan kopi dalam cangkir, tapi dalam gelas. Sama saja rasanya. Tapi tidak menurut istriku. Kopi, katanya, lebih nikmat bila disajikan dengan cangkir. Makanya ia siapkan cangkir khusus untuk kopi. Dan racikan kopinya sungguh nikmat sekali.

Tapi malam ini kunikmati kopi dengan gelas ukuran sedang. Menjamurnya warung kopi tidak membuatku tergoda untuk ngopi di sana. Aku lebih suka ngopi di rumah ditemani istriku. Ada kenikmatan dan kepuasan tersendiri. Mungkin sebabnya satu cangkir kopi kami seruput bersama. Ia seperti saya, sama-sama penyuka kopi.

Kini, kopi itu tinggal separuh. Kupandangi gelas yang menyisahkan separuh kopi itu. Tiba-tiba aku teringat sebuah perumpamaan yang menarik. Kehidupan sehari-hari ini bagaikan gelas yang setengahnya berisi air, sedang separuhnya kosong. Kita tidak bisa menghukuminya bahwa ia penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya.

Ini terjadi pada manusia. Kita tak akan menemukan hidup mereka penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya. Tapi, setiap orang mempunyai jatah kebahagiaan dan kesedihan. Karena itu, seseorang merasa bahagia atau sedih sesuai dengan persepsinya kepada gelas itu. Jika ia melihat kepada separuhnya yang berisi air, ia akan bahagia dalam hidupnya. Jika ia melihat kepada separuhnya lagi yang kosong, ia akan berduka dalam hidupnya.

Menarik sekali perumpamaan ini. Ada keseimbangan dengan melihat satu sisi yang ‘ada’ untuk melenyapkan yang ‘tiada’ karena memang tidak ada. Dengan demikian, kita tidak seharusnya menyibukkan diri dengan mencari yang ‘tiada’ karena yang ‘ada’ masih utuh dan dimilikinya.

Maka sisa separuh kopi dalam gelas itu mengingatkanku bahwa tak ada yang kosong dan yang sia-sia dalam hidup ini. Maka tatkala jiwaku terdorong untuk mengeluh, aku segera mengingatkan diri bahwa hidup ini tidak sepenuhnya kosong, tapi separuhnya lagi dipenuhi air. Tak perlu mencemaskan yang hilang. Masih ada sisa yang berguna. Inilah caraku untuk mengusir kesedihan dan keluh kesah.

Hidup memang tidak memiliki satu warna. Hidup ini tak lain dari perputaran antara kebahagiaan dan kesedihan, suka dan duka, lempang dan sempit. Yang penting ketika seseorang ditimpa keadaan yang tidak menyenangkan jangan sampai putus hubungan dengan Allah. Jangan sampai patah harapan kepada pertolongan-Nya. Sebab, betapa daifnya manusia.

Malam ini rasanya ada yang berharga dari separuh gelas kopi yang tersisa itu. Memandang yang ‘ada’ akan mengantarkanku pada ketenangan hidup. Karena aku tak lagi repot-repot merisaukan yang ‘tiada’.

Lebo, 16 April 2016
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar