Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Sabtu, 16 April 2016

Belajar Tiada Henti

Salah satu kebahagiaan kita adalah niat baik terhadap apa yang ada di sisi Allah dan kita diberi taufik untuk memihaknya. Jika Allah menghendaki kita mendapat kebaikan, niscaya Dia memberi kita kecerdasan; membuat kita menyukai ilmu; membekali kita sikap waspada; menghiasi kita sifat kasih sayang; membuat kita kaya dengan merasa cukup dengan yang sedikit; dan membuat kita bisa melihat kekurangan diri sendiri.

Bertalian dengan ini Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki pada kebaikan, maka akan dipahamkan-Nya dalam masalah agama.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ilmu adalah pembebat terkencang bagi tetumpukan bahan-bahan pemerindah kehidupan. Di mana ilmu hadir, segala menjelma menjadi berkah yang mengalir. Berkah bagaikan manisan yang dibuat dari buah yang dihasilkan dari pohon iman. Ia adalah saripati yang legit, harum, lembut dari tanaman yang berakar, tumbuh dan mekar di hati seorang mukmin. Maka sebagaimana iman, berkah sangat berhajat pada ilmu.

Jika berkah adalah makanan, maka ilmu adalah vitamin yang menyehatkan badan. Jika berkah adalah kendaraan, maka ilmu adalah pemandu yang mengantarkan sampai ke tujuan. Jika berkah adalah buruan yang sulit ditangkap dan pandai meloloskan diri, maka ilmulah pengikatnya yang paling dapat dipegangi.

Oleh sebab itu, Islam meletakkan ilmu di atas segala-galanya. Ilmu menghidupkan hati dari kebutaan, menjadi cahaya mata dalam kegelapan, dan kekuatan tubuh dalam kelemahan. Dengan ilmu, kita dapat mengenal Allah dan membangun budi pekerti. Bahkan, seluruh aktivitas keilmuan dapat dikategorikan sebagai ibadah.

“Menuntut ilmu karena Allah,” kata Mu’adz bin Jabal, “adalah bukti ketundukan kepada-Nya. Mempelajarinya dari seorang guru adalah ibadah. Melangkah menuju majlisnya adalah pembuka jalan surga. Duduk di taman kajiannya adalah taman Firdaus. Membahasnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkannya adalah tasbih. Menyampaikan kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah kurban.”

Ilmu yang kita miliki akan membuat perbuatan dan ucapan kita lebih mengena. Setiap isyarat kita mengandung ilmu. Kita pun menjadi obat bagi orang yang berjalan menuju Allah, penolong bagi orang yang mencari bimbingan, sekutu kebenaran bagi orang yang jujur, dan gua perlindungan bagi orang yang ketakutan.

Tanpa ilmu dan pengetahuan kita tidak akan mengetahui siapa diri kita, siapa Allah, dan jalan untuk pulang kepada Allah. Bukankah Allah meminta kita beribadah kepada-Nya hanya berdasar ilmu, sebagaimana firman-Nya, Maka ilmuilah bahwa tiada Ilah selain Allah…. (Muhammad: 19)

Tentang ayat ini Syeikh Mutawali al-Sya’rawi berkata, “Sesungguhnya Allah tidak ridha apabila diibadahi dengan kebodohan. Maka Allah mewajibkan ilmu atas kita; dengan mengenal-Nya, menyembah-Nya, menaati-Nya, dan melaksanakan aturan-aturan-Nya di segenap kehidupan kita.”
Maka betapa berharganya ilmu bagi iman. Ilmu menjadi penopang dan penaung iman. Ilmu menjadi pengikat bagi semua kebaikan.

Al-Qur`an menyeru manusia agar tak putus-putus mencari ilmu. Dan katakanlah, “Tuhanku, tambahilah aku ilmu” (Thaha: 114). Bahkan wahyu-wahyu awal adalah ayat ilmu. Di Gua Hira, pada malam berlimpah berkah, turun ayat: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan pena. Mengajar kepada manusia apa yang tidak ia ketahui (al-‘Alaq: 1-5). Setelah itu turun ayat yang dibuka dengan sumpah Allah dengan pena.

Selanjutnya Rasulullah menegaskan pentingnya ilmu, seraya mengatakan bahwa mencari ilmu itu wajib (faridhah) bagi laki-laki dan perempuan. Rasulullah menghendaki kita untuk tidak menjauhi ilmu, bahkan memotivasi kita untuk mencari sebanyak-banyaknya. Karena, apabila sedikit pengetahuan yang kita miliki, terasa pahit hidup ini karena tak banyak masalah yang bisa kita selesaikan. Hidup jadi mundur dan terbelakang. Sebagai motivasi jika kita ingin sukses, ingatlah janji Allah. …Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (al-Mujadilah: 11)

Artinya, kalau kita ingin mengetahui tingkat kesuksesan kita, maka lihatlah sejauh mana kecintaan kita kepada ilmu. Maka tepatlah nasihat Umar bin Abdul Aziz ketika berkata, “Jadilah orang yang berilmu. Atau jadilah seorang pembelajar. Atau cintailah keduanya.”

Segala sesuatu dalam hidup ini serba kemungkinan, selalu berubah. Seiring waktu pasti usia bertambah tua, tubuh bertambah lemah, kebutuhan bertambah banyak, hingga masalah dan potensi konflik pun bertambah. Bagaimana mungkin kita menyikapi segala sesuatu yang selalu bertambah tanpa ilmu yang bertambah pula. Mari kita terus menerus memperbaiki diri. Kalau ilmu kita luas, maka akan seperti orang yang berada di puncak gunung, dia akan bisa melihat pemandangan di bawahnya lebih luas. Begitupun, orang yang luas ilmunya, ia akan lebih arif dan bijak dalam melihat kehidupan.

Atau seperti kapal selam di lautan yang dalam, walau dari sana sini air menekan, dia tak pernah kandas tenggelam. Begitupun, orang yang mengerti arti kehidupan dapat menyelami kehidupan ini dengan tenang, tidak panik.

Sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya seperti perahu di permukaan laut yang selalu terombang ambing ombak. Orang yang tidak berilmu tak bisa menyelami arti hidup, dalam kesenangan membabi buta, dalam kesedihan terpuruk dan putus asa.

Ciri-ciri orang yang kurang ilmu adalah hilangnya kearifan, misalnya menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatan otot atau amarah. Kalau semuanya berubah, tetapi ilmu kita tak berubah dan bertambah, maka seringkali yang bertambah adalah peningkatan emosi.

Betapa sering kita melihat orang-orang yang terpuruk karena kurang ilmunya. Walau dia mempunyai kedudukan, tetapi jika kemampuannya tidak sesuai dengan amanahnya, maka ia akan menjadi hina justru oleh kedudukannya itu.

Jika kita ingin mempunyai masa depan yang baik, maka kita harus mencintai belajar, setiap waktu harus sekuat tenaga menambah ilmu. Jadikan belajar kebutuhan kita. Mulailah kita tanamkan gemar membaca. Jangan putus asa jika otak tumpul dan akal kurang cerdas. Karena kadang seorang yang tumpul otaknya tapi tidak putus asa, lebih berhasil daripada seorang yang cerdas tapi pemalas. Kemudian, berkumpullah dengan orang-orang yang mencintai ilmu.

Jangan terhalang mencari ilmu karena merasa diri telah tua. Kalau kita sadari, akan lebih banyaklah seorang tua yang berpengalaman mendapat ilmu daripada anak-anak yang hanya mendapat ilmu karena untuk dihafal. Ilmu yang dipelajari di waktu kecil, dihafal, dan diperhatikan sungguh-sungguh barulah diketahui rahasianya dengan yakin setelah umur tua.

Tekadkan dalam hati, “Setiap hari saya harus bertambah ilmu. Saya harus mencari uang lebih banyak agar saya bisa menambah ilmu. Saya harus meluangkan waktu untuk mencari ilmu. Saya harus membebaskan diri saya dari belenggu kebodohan dengan mendapatkan ilmu.”

Mari kita merenungkan sebait syair untuk memotivasi kita dalam mencari ilmu,

تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ ¤ وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ مَحَامِدِ
وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةٌ ¤ مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِي بُحُوْرِ اْلفَوَائِدِ

Belajarlah, karena ilmu itu hiasan bagi pemiliknya
Ilmu adalah keutamaan dan tanda orang yang terpuji
Jadikanlah dirimu bermanfaat, setiap hari bertambah ilmu
Arungilah samudra faedah

Jika telah berbekal ilmu, maka siaplah kita berenang mengarungi samudra kefaedahan. Berenang di air membuat badan kita menjadi basah. Cipratan-cipratan karena gerakan saat di air akan membasahi orang lain. Analogi ini menggambarkan bahwa kita dapat meningkatkan kefaedahan bagi diri sendiri, dan cipratan-cipratan kita juga akan meningkatkan kefaedahan bagi orang lain. Maka semulia-mulia manusia adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain.

Wa Allah a’lam
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar