
Melamun
Bolehkah aku maju mengindikasi satu simpul terakhir dari sifatku yang menciptakan kesulitan yang tidak kecil dalam setiap interaksiku dengan seseorang? Betapa aku memiliki sebuah kepekaan yang luar biasa terhadap naluri bagi sekitar, sehingga mau tak mau aku memahami secara fisiologis setiap kata dan langkahku. Dalam kepekaan ini wilayah psikologiku begitu tersentuh dan mampu mempertahankan sebuah rahasia yang cukup lama kusembunyikan. Bila kuamati dengan cermat, sifat-sifat ini ternyata tak tertanggungkan lagi bagi segenap naluri dan eksistensiku. Mungkin semacam beban di ketinggian skala yang paling eksterm.
Barangkali inilah yang membuat perlintasan dengan seseorang itu menjadi ujian yang tidak ringan bagi kesabaranku. Kemanusiaanku terdiri atas, bukan dalam merasa bagi dan dengan orang itu, tetapi dalam menanggung itu aku merasa bagi dan dengan dia. Untungnya kemanusiaanku adalah sebuah entitas penguasaan diri yang belaku dengan konsisten. Dan, kukira seseorang itu adalah sebuah kidung yang kerap kali menenggelamkanku dalam buaian kesengsaraan dan ketidakberdayaan. Tetapi untungnya aku punya kebutuhan akan kesendirian, yang tidak terusik oleh kekesalan dan kecemasan tentang diri sendiri akibat pengaruh luar. Di saat-saat kesendirianku itu ternyata bisa menjadi bagian dari tekstur pikiranku, sehingga sejanak demi sejenak telah menyelinap ke dalam diri, dan perlahan-lahan mengajariku tentang bahasa hati lalu mengubah diri.
Kini apa yang telah terjadi padaku? Bagaimana aku bisa membebaskan diri sendiri dari belenggu yang selalu merupakan bahaya terbesar bagiku? Siapakah yang mendorongku ke dalam sudut ketidakberdayaan? Lalu bagaimana aku akan sanggup terbang dalam ketinggian dengan segala dayaku, sedang sayap-sayap yang kubentangkan begitu kecil, rapuh dan kerontang? Oh, aku tak kuasa jawabannya, Adikku! Betapa misteriusnya. Di sini, di pengasingan yang begitu memanjakan individual, sumber mata air kebahagiaan hampir tak kutemukan. Dan aku masih harus belajar untuk mendekati seseorang itu secara lebih diam-diam? Betapa hatiku terus mengalir kepadanya, meskipun amat tertekan; karena akal sehatku selalu berharap agar aliran itu tidak tumpah dengan amat tergesa-gesa, dan harus rela menunggu di saat yang tepat.
Tentang ini aku masih sangsi dan ragu. Agaknya ada nada muram durja dan sedikit sendu yang tersembunyi di sudut hati. Sebuah ragam pegungkapan dari seluruh pikiranku akan tampak begitu sayu, kala aku diliputi kegundahan tak terkira. Tak tahukah, Adikku! Belum lagi aku mencari diri sendiri engkau telah temukan aku. Kini aku berharap lebih baik kehilangan seseorang itu dan menemukan diriku kembali; dan hanya ketika engkau telah menyangkal aku maka jangan samakan aku dengan para pengubah hidup lain yang memporak-porandakan sebuah idealisme, yang harus kita ketahui agar kita tidak menjadi bagian dari mereka. Demikianlah arti pentingnya pengungkapanku saat dilema telah mungusik ketenangan hidupku.
Tetapi mengapa akhirnya aku tak sanggup mengungkapkan kecurigaan-kecurigaan hatiku? Hingga kini setelah sepenuhnya aku menyerahkan diri pada seseorang itu, malah aku ragu akankah aku mampu berbuat lebih baik di masa mendatang? Ataukah aku mengingkari sebuah konsep yang unik dalam citra diri seorang manusia? Sebuah nilai yang tidak tampak begitu saja, melainkan sudah ada rencana dari Tuhan? Namun sebuah konsep yang akhirnya disebut sebagai fitrah, itu selama ini lebih kupercayai sebagai kecenderungan potensi yang sanggup menerima nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Tentu saja, ini merupakan citra asli yang dinamis, yang terdapat dalam psikopikis diriku sebagai manusia; sehingga aku dapat mengaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku yang berpegang pada ketulusan, kerelaan, kesetiaan, kebersamaan dan persaudaraan. Tetapi mengapa tiba-tiba ada kebimbangan yang membuncah di sudut hati: benarkah aku sanggup melakukannya?
Tentang seseorang itu, dalam kitaran pesonanya, aku merasa lebih hangat dan lebih baik daripada di tempat manapun lainnya. Dalam hal ini aku harus mengakui apa yang paling dekat berkait denganku lebih merupakan kedamaian sekaligus kerinduan bila dibanding dekat yang lain yang selama ini dikira dekat dengan aku. Ruang lingkup di mana aku menemukan konsep seperti ini hampir dua kali kurasakan. Afirmasi terhadap kehidupan bahkan problem-problemnya hampir aku menelantarkanya, bahkan aku sempat mengalami keputus-asaan tak terhingga yang kulampiaskan dengan pengorbanan tumbal idealisme yang dulu sempat kuberhalakan.
Kini lebih baik naluriku memutuskan dengan tak dapat ditawar-tawar lagi menentang pembauran antara diriku sendiri dengan apa yang bukan aku. Jenis kehidupan apa pun, termasuk kondisi-kondisi yang paling tidak kusukai, lebih merupakan pilihan “ketiadaan diri” yang paling berharga. Karena seseorang itu, diriku yang paling dalam, sebagaimana ia dikubur dan tumbuh diam di bawah hujaman bayangan yang sulit ditepis, yang sebelumnya sempat bisu, kini mulai terbangun perlahan-lahan, tertatih-tatih, dengan segenap tenaga yang tersusun, namun pada akhirnya ia sanggup memahami dirinya kembali.
Rasanya aku sanggup menyimpulkan kembali dari sebuah penyimpangan total naluri individuku. Betapa aku tidak dikuasi oleh ketidaksabaran terhadap diriku sendiri, dan karena itu aku menyadari bahwa saat itu merupakan momen yang tepat untuk memikirkan kembali diriku sendiri. Tiba-tiba jelas sekali bagiku betapa banyak waktu telah terbuang percuma-cuma, karena di setiap saat aku ‘dipaksa’ memikirkan sesuatu yang bukan menjadi skala perioritasku. Aku tak mau terjebak kembali, untuk yang kesekian kali. Pada akhirnya, aku sanggup menemukan sebuah konsep untuk membunuh tragedi yang sampai sekarang merupakan kisah sengsara dalam perjalanan hidupku.
Adikku, tahukah engkau tentang seseorang itu? Sejauh mana pemahamanmu tentang dirinya? Macam mana indikasi yang tersimpan dalam benakmu?
Dahaga yang membakar kuat menyergap aku; semenjak itu aku mencari dalam fakta bukan karena apa-apa, melainkan berharap kebenaran yang tertanam dalam diri seseorang itu. Aku tergerak tatkala kualitas diriku cukup kurus, cukup pudar karena dimakan usia.[]
Catatan Hati
09:40 PM
08:03:06
Tidak ada komentar:
Posting Komentar