Emi adalah di antara sepupu saya perempuan yang paling akrab. Terakhir pendidikannya s1 bidang ekonomi di Universitas Muhamadiyah Gresik. Saya tak tahu kapan ia lulus. Terakhir yang saya ingat ialah ketika dia ikut mengantarkan saya di terminal Bunder-Gresik saat saya hendak berangkat ke Jakarta sebelum ke Mesir.
Itu pertemuan saya terakhir dengan Emi, yang sebelum itu, menjelang keberangkatan saya ke Mesir di tahun 2002, dia turut mengantarkan saya ke Ramayana Gresik beli baju dan kebutuhan lain yang saya perlukan. Waktu itu dia masih gadis, entah punya pacar atau belum, saya tak tahu. Saya memang kurang tertarik untuk mengetahui detail asmara seseorang, apalagi dia saudara saya.
Saat ke Ramayana, itulah kali pertama saya jalan bareng cewek. Biasanya kalau pergi ke tempat jauh saya selalu bersama Cak Huda. Untungnya Emi saudara saya, jadi tak ada rasa canggung. Waktu itu Emi belum pakek jilbab. Inilah yang kadang membuat saya risih, sebab Emi selalu menjadi pusat perhatian, terutama kaum lelaki. Saya ingat, betapa saya melihat ada seorang lelaki jelalatan melihat Emi saat kami sedang jalan berdua. Apalagi, ketika kami naik angkot, selalu ada tatapan mata yang memandang ke arah kami. Dasar!!
Emi sangat akrab dengan keluarga saya. Dia memang orangnya enakan dan ramah. Terutama kepada Emak dan mbak-mbak saya. Seolah-olah dia sudah menjadi bagian dari keluarga saya. Karena itu tak mengherankan jika dia pernah kirim SMS lantaran sedang kangen saya. "Tiba-tiba aku kangen cak, maka aku kirim sms ke pean..." tulisnya di SMS. Karena itulah tiba-tiba saya ingin menuliskannya di blog ini.
Dan, tiba-tiba hari ini, Ahad (25/10) saya beroleh khabar jika Emi dan suaminya akan terbang menuju Saudi untuk menunaikan ibadah haji. Ya, ibadah haji, bagi usia yang masih terbilang dini, barangkali merupakan 'prestasi'. Emi memang berada dalam keluarga yang terbilang kaya. Maka wajar jika suaminya dari kalangan keluarga kaya juga. Ini artinya, selain panggilan Allah, posisi yang kaya itulah yang akhirnya memudahkan dia naik haji.
Terlepas dari dugaan itu, saya senang jika akhirnya Emi naik haji. "Aku sudah membayangkan lho, Cak, nanti kita ketemuan..." Itu balasan SMS Emy ketika saya kirimi SMS sekedar memberi selamat dan mendoakan semoga menjadi haji mabrur. Ya, apa boleh buat, Em, belum saatnya aku bisa kembali lagi ke Saudi menjadi petugas haji. Semuanya tergantung Allah, karena menjadi tugas haji adalah rezeki yang sulit diduga!
Waktu berjalan cepat. Terakhir saya lihat foto Emi saat menggendong anaknya ketika menghadiri pernikahan Ubed. Wajahnya sudah berubah. Tampak keibuan. Tubuhnya masih seperti dulu, tampak kurus. Mungkin karena faktor tubuh yang kurus dan kelelahan dia pernah keguguran. Entalah, saya hanya menduga. "Aku agak trauma, Cak, untuk siap melahirkan lagi." Begitu katanya ketika dulu saya SMS menanyakan sudah memiliki momongan atau belum.
Em, syukurlah, kini kamu beroleh kesempatan menyempurnakan rukun Islam. Dan, setiba di Indonesia nanti setelah menunaikan ibadah haji, kamu akan mendapat gelar hajjah. Orang-orang akan memanggilmu hajjah Emi (kecuali kalau kamu ubah namamu). Gelar hajjah memang terlanjur dianggap prestisius di kalangan masyarakat kita. Karena itu semoga saja perilakumu mencerminkan gelar yang kau sandang itu. Di sini saya hanya mendoakan, semoga kamu dan suamimu menjadi haji mabrur, mendapat balasan setimpal dari Allah, dan akhirnya mendapat surga-Nya. Amin.
Kattamea, 25 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar