Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Minggu, 10 Oktober 2010

Salat

Ilustrasi (foto: google.com)

Tulisan ini berawal dari simpati sahabat saya yang tahu bahwa saya sering terlambat shalat Shubuh. Agaknya, sahabat ini tak rela jika saya punya kebiasaan buruk seperti itu. Karena itu, di mana pun dan kapan pun ia tak bosan-bosannya mengingatkan saya agar salat tepat waktu.

Dalam pada itu sahabat ini juga mengemukakan argumentasinya. Maka, ia pun mengutip sebuah Hadits. Katanya, amalan pertama kali yang diperhitungkan pada hari Kiamat ialah salat; jika baik, maka baik pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.

Dengan kata lain, sahabat ini bicara bahwa dalam agama salat punya posisi penting. Karenanya, selain berharap agar saya dapat salat tepat waktu, ia juga mengajak saya agar memahami salat sebaik mungkin.

Kita tahu, dalam Al-Qur’an dan Hadits, banyak penegasan tentang salat. Tentu saja, salat merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dan Allah memerintahkan untuk menegakkannya, bukan sekedar menjalankannya. Sebab, setiap menegakkan sesuatu berarti harus menjalaninya dengan tegak dan sempurna. Di sini, kesadaran makna dan tujuan salat diharapkan akan timbul.

Pada dasarnya, salat merupakan medan penginsyafan akan kehadiran Allah. Awal penginsyafan ini berlaku ketika kita memulai takbiratul ihram. Takbir pembuka itu seakan berupa pernyataan formal bahwa hubungan diri dengan Allah telah dimulai. Di sini kita dituntut menghilangkan lintasan apa pun kecuali Allah semata. Dan pelestarian hubungan itu secara langsung juga menginsyafkan diri akan makna akhir hidup di dunia ini, bahwa kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya. Atau, dalam bahasa sahabat saya tadi, biasa menyebutnya dengan min Allah ila Allah.

Maka, kita harus berkehendak kembali kepada Allah. Tentu saja, kita dituntut mencari bekal sebanyak mungkin. Karena itu, kecenderungan kita pada kebaikan dan kebenaran adalah kunci utama. Dan untuk mewujudkan usaha itu harus didasari oleh rasa kesucian hati (fitrah).

Di sini yang harus kita perhatikan dalam bacaan salat ialah permohonan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath al-mustaqim). Sebab kita memang sering alpa dalam menangkap kebaikan dan kebenaran. Selain itu, wujud manusia sebagai makhluk penuh kekurangan akan tampak nyata. Jika demikian, pertolongan Allah mutlak dibutuhkan.

Jadi, dalam salat, kita diajari bersikap tulus. Artinya, dalam setiap permohonan itu, kita dengan tulus mengakui, hanya Allah yang bisa menunjukkan kebenaran. Karena kita tahu, kebenaran di tangan kita tidaklah mutlak. Dalam hal ini, tentunya, ada kecemasan dalam pergulatan kita ketika mencari kebenaran itu. Ini terjadi karena kesucian fitrah kita terkalahkan oleh kelemahan kita yang cenderung mengurung diri sendiri.

Dan "harap-harap cemas" itu merupakan indikasi kerendahan hati dan tawadhu’. Oleh sebab itu, apapun perasaan, mungkin malah keyakinan kita tentang kebaikan dan kebenaran harus dipertanyakan kembali.

Maka, sebagai kewajiban setiap saat, salat mengisyaratkan bahwa usaha menemukan jalan hidup yang benar juga harus dilakukan setiap saat, dan harus dipandang sebagai proses tanpa berhenti. Kita, pendeknya, diminta untuk selalu tampil dinamis dalam mencari kebaikan dan kebenaran.

Jika demikian, salat merupakan refleksi kerinduan batin kita untuk mendapat jawaban hidup di dunia ini. Kita harus menemukan diri kita sebagai faktor dinamik dalam dunia. Karena itu, salat ada hubungan erat dengan cinta, sebab kerinduan (yang ada dalam salat) adalah didorong oleh cinta. Dan salah satu efek salat sebagai faktor dinamik alam dan sebagian efek cinta adalah mendorong pada perilaku kebaikan.

Di sinilah peran salat akan semakin nyata. Bahwa siapa pun pasti bahagia jika bisa merasakan kehadiran Tuhan. Namun yang tak kalah pentingnya ialah bagaimana mewujudkan keluarnya budi perkerti dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap ibadah yang dilakukan dengan benar tentu akan mempunyai dampak dalam pembentukan akhlak dan pendidikan jiwa.

Jika salat tidak mengandung hal tersebut maka tidaklah disebut ibadah, melainkan sekedar adat dan pamrih. Karena itu, Allah memberi peringatan keras pada orang yang menjalani salat hanya dalam bentuknya saja. Yaitu mereka yang lalai akan kesadaran makna akhir hidup ini dan tak menginsyafi tanggung jawab sosial (QS:107). []

April 2006
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar