Barangkali engkau memahami "catatan hati" yang kutulis kemarin. Aku tak tahu, jika dapat memilih bolehkah aku menganggapnya tidak pernah ada? Tepatnya: sebuah kisah ilusi? Maka, betulah jika saat ini ada yang tak beres dalam jiwaku. Kuakui selama ini aku terlalu disibukkan mengejar sesuatu yang sebetulnya sudah dijamin Tuhan untukku. Sementara aku sambalewa dalam berusaha untuk berlaku lurus menjadi manusia yang baik, sesuatu yang dituntut Tuhan. Barangkali mata hatiku telah buta.
Baiklah, aku tak ingin memikirkan sesuatu yang abstrak. Lebih baik aku ikuti katamu dulu: luruskan niat. Nawaitu... Mengapa? Saya pikir ini merupakan menit pertama soal keinsyafan pribadi. Niat adalah dorongan emotif yang sifatnya subyektif yang menghantarkan pada kesungguhan dalam bertindak. Inilah orientasi baruku.
Jika malam ini aku harus berbicara tentang hidup, lebih baik aku diam. Karena sungguh aku tidak tau kenapa aku harus hidup; sungguh tidak pantas berbicara kata hati yang tak jelas juntrungnya, sementara banyak tugas hidup yang terbengkalai. Kini kucoba mengerti. Aku benar-benar mencoba untuk mengerti, tapi suatu saat nanti, di saat yang tepat, kala Tuhan berpihak padaku.[]
Dini hari
14 Mar '03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar