Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Rabu, 13 Oktober 2010

Fajar Keinsyafan

Benar katamu. Apa boleh buat. Lagi-lagi sisi gelapku kembali terungkap. Aku hanya mengiakan tatkala menyimak penjelasanmu. Barangkali aku khilaf. Tiba-tiba keresahan mendera kembali pikiranku. Betapa sulit dihilangkan. Entahlah. Tetapi mampukah kita, terutama aku, untuk membendungnya? Dan, seandainya aku disuruh memilih tentu aku tidak akan memilihnya? Tapi apalah dayaku. Bukankah sudah aku katakan bahwa di setiap saat perasaanku lebih dominan ketimbang akal sehatku, ketika menghadapi persoalan yang menyita pikiran seperti yang kurasakan saat ini?

Barangkali engkau memahami "catatan hati" yang kutulis kemarin. Aku tak tahu, jika dapat memilih bolehkah aku menganggapnya tidak pernah ada? Tepatnya: sebuah kisah ilusi? Maka, betulah jika saat ini ada yang tak beres dalam jiwaku. Kuakui selama ini aku terlalu disibukkan mengejar sesuatu yang sebetulnya sudah dijamin Tuhan untukku. Sementara aku sambalewa dalam berusaha untuk berlaku lurus menjadi manusia yang baik, sesuatu yang dituntut Tuhan. Barangkali mata hatiku telah buta.

Baiklah, aku tak ingin memikirkan sesuatu yang abstrak. Lebih baik aku ikuti katamu dulu: luruskan niat. Nawaitu... Mengapa? Saya pikir ini merupakan menit pertama soal keinsyafan pribadi. Niat adalah dorongan emotif yang sifatnya subyektif yang menghantarkan pada kesungguhan dalam bertindak. Inilah orientasi baruku.

Jika malam ini aku harus berbicara tentang hidup, lebih baik aku diam. Karena sungguh aku tidak tau kenapa aku harus hidup; sungguh tidak pantas berbicara kata hati yang tak jelas juntrungnya, sementara banyak tugas hidup yang terbengkalai. Kini kucoba mengerti. Aku benar-benar mencoba untuk mengerti, tapi suatu saat nanti, di saat yang tepat, kala Tuhan berpihak padaku.[]

Dini hari
14 Mar '03
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar