Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Rabu, 06 Oktober 2010

Lagi, Kupingku Kumat!

Kuping kiriku yang sakit. Dari luar sih tampak sehat, tapi dalamnya sakitnya ndak ketulungan.

Entah kenapa sekarang aku punya penyakit langganan. Sakitnya luar biasa. Begitu menyiksa, serasa ada jarum yang menusuk-nusuk. Sering aku tak tahan. Membuatku nyengir sendiri saat rasa sakit menyerang. Malah aku nangis, kadang. Menahan rasa njarem yang tak tertahankan.

Ya, infeksi menyerang telinga kiriku. Itu penyakitku. Kalau bagian tubuh luar yang sakit, mungkin aku bisa sedikit menahannya dan mengobatinya sendiri. Ini yang sakit bagian dalam. Amat sakit rasanya. Dimana-mana infeksi memang begitu. Tapi aku tak tahu bagaimana mulanya ia menyerang telingaku.

Aku lantas mengingat-ingat awal mula sakit ini. Setahuku aku punya kebiasaan kolokan kuping dengan batangan plastik yang pucuknya ada kapas. Bila kupingku gatal, aku sering memakainya. Kalau tidak dengan jari kelingking, ya, dengan kolokan itu aku membersihkan kotoran kuping. Lha, kalau tidak salah, saat kolokan itu, mungkin karena kesenggol, atau apa aku lupa, tiba-tiba menyodok keras lubang kupingku hingga sakit rasanya. Tapi aku lupa, kuping kiri atau kanan yang mengelami kecelakaan waktu itu. Tapi yang jelas, ada rasa sakit yang kurasakan saat itu.

Nah, mungkin karena ulahku itu tiba-tiba pada akhir Mei kemarin kupingku kiri didera sakit yang luar biasa. Ini yang pertama, dan sakitnya, ya Allah, benar-benar menyiksa. Mula-mula kuping berair, kemudian agak menganggu pendengaran. Selain berair, yang baunya khas, kadang terasa gatal hingga inginnya dikoloki terus. Kemudian esoknya, saat baru bangun tidur, teng, teng, teng--njaremnya tak ketulungan. Penyakit baru telah datang, menjadi langganan hingga sekarang.

Periksa ke dokter, ya, itu sudah aku lakukan. Tapi dokter Mesir memang beda dengan dokter Indonesia. Ketika aku periksakan ke dokter yang praktik di Hay Sabi', dia tanya sakit apa, gak diperiksa dulu. Ya, jelas sakit telinga lah, kan, aku ke dia yang spesialis telinga untuk memeriksakan telingaku, dan karena itu aku yang seharusnya tanya ke dia. Setelah aku jelaskan kepada dia asal mula penyakitku, dia gak ngasih penjelasan aku sakit apa. Dia lantas memegang sebuah alat, lalu membersihkan telingaku.

Saat telingaku dibersihkan, ada pengalaman yang membuatku miris. Bayangkan, aku yang mati-matian menahan rasa sakit, lah, si dokter ini dengan santainya memasukkan kolokan besi yang pucuknya dikasih kapas ke lobang kupingku. Mula-mula aku deg-degan membayangkan beban sakit yang bertambah. Namun setelah si dokter dengan tangkas membersihkan kupingku, ada rasa lega setelah kotoran akibat cairan yang mengering lalu menumpuk di kuping sedikit demi sedikit dikeluarkan. Apalagi setelah itu kupingku disedot pakek selang yang disambungkan mesin. Anehnya, aku yang sedari sore menahan rasa sakit sekali saat berangkat dari rumah sendirian, tiba-tiba rasa sakit itu sedikit berkurang. Lalu si dokter kasih resep obat, dan aku membelinya di apotek dengan harga 30 pound. Cukup mahal bagi seorang pengangguran.

Namun, derita itu tak kunjung berakhir. Malam harinya, ternyata rasa sakit tak kunjung hilang. Malah sakitnya dahsyat seperti dua hari sebelum aku periksa ke dokter. Sungguh, sangat sakit sekali. Tiada yang bisa menahan rasa ini kecuali tangisan. Barangkali dengan nangis sakitku berkurang. Apalagi saat kesepian, tak ada lagi tempat bersandar, atau sekedar untuk menumpahkan keluh kesah, yang untuk meringankan derita. Rasa sakit inilah yang mendorongku untuk kirim kabar ke rumah. Padahal selama ini aku anti memberitakannya jika aku sedang sakit. Ya, gimana lagi, karena rasa sakit yang menyiksa, aku butuh tempat untuk menjeritkannya biar rasa sakit tak kupikul sendirian. hehe..

Rasa sakit yang tak berhenti itu menyerang untuk yang ketiga kalinya. Kedua saat akhir Ramadhan kemarin, dan yang ketiga saat ini, ketika aku menuliskannya sekarang sambil menahan rasa sakit. Aku tak tahu apa yang mesti aku lakukan. Pinginya beli obat, tapi tak punya uang. Ya, ada sih uang, tapi eman-eman. Mending aku menahan rasa sakit saja. Meskipun aku kadang miris, kedepan apa yang akan terjadi dengan kupingku jika datang rasa sakit aku biarkan saja. Bahkan aku tak mau googling cari informasi tentang penyakitku ini. Aku takut, karena aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Lengkap sudah penderitaanku sekarang. Sambil menahan rasa sakit, aku melihat derita yang kualami lengkap sudah: sudah kere, pengangguran, gagal studi, kesepian, dan sekarang: sakit-sakitan... Tak ada yang disalahkan, kesemuanya aku yang mencipta. Tulisan yang tak penting ini semoga meringankan bebanku. Karena aku tak tahu kepada siapa berbagi. Semoga Allah memudahkan jalan hidupku..Amin

Kattamea, 5 Oktober 2010
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar