Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Kamis, 14 Oktober 2010

Mie Cina

Aa Kusrin menyantap Mie Cina dan tahu, enaaakk... (foto: aa kusrin)

Ramai-ramai membahas razia indomie di Taiwan, saya jadi teringat Mie Cina. Makanan khas buatan Cina ini jadi trend bagi kawan-kawan di sini yang menggemari mie. Mie Cina, begitu teman-teman menyebutnya, menjadi kuliner yang dipaling diburu ketika ada kerinduan untuk mencicipi mie-mie tradisional buatan Indonesia. Kedai Mie Cina ini terletak di sebelah barat Madinat Buuts yang berjarak sekitar 200 meter.

Yang khas dari Mie Cina adalah mienya buatan tangan sendiri. Jika Anda kebetulan menonton film-film mandarin yang menceritakan sosok Dewa Masak--yang pandai memasak segala kuliner--kemudian Anda kebetulan melihat tanyangan cara membuat mie dengan memainkan kedua tangan sambil menarik, mengolor lalu mencetak tepung yang sudah diaduk dengan berbagai bahan khusus mie, maka itulah bayangan yang hinggap di pikiran saya tatkala menunggu hidangan hadir di meja.

Entah demikian caranya atau tidak, agaknya sulit membuat Mie Cina. Saya sempat browsing di google cara pembuatan Mie Cina, tapi belum ketemu. Saya membayangkan, membuat Mie Cina ini membutuhkan keterampilan yang lebih. Betapa ribetnya kalau yang belum ahli mencobanya. Saya melakukan hal demikian, kalau-kalau Mie Cina tiba-tiba terbayang, lalu ada hasrat untuk menyantapnya. Hanya mienya yang saya ingin mencoba membuatnya, tapi sulit agaknya.

Yang khas dari Mie Cina adalah mienya yang kenyal. Kalau masalah kelezatan rasanya, sih, sudah pasti. Bumbu-bumbu dan cita rasa Mie Cina khas, sesuai dengan nama yang ingin dipesan. Saya tak tahu ada berapa menu yang tersedia. Saya baru dua kali menyantap Mie Cina, dengan menu yang sama. Itupun karena traktiran Aa Kusrin dan Kholis yang baik hati. Maka sampai saat ini saya tak tahu berapa harga per porsinya.

Yang menantang dari Mie Cina adalah porsinya yang jumbo. Untuk perut Indonesia ukuran tersebut sangatlah banyak. Maka kalau hendak menyantap Mie Cina lebih baik perut dalam keadaan lapar. Ini untuk mengantisipasi kalau-kalau kekenyangan saat makan sedangkan porsi belum habis. Tapi anehnya, porsi sebanyak itu mudah bagi saya untuk menghabiskanya sendirian.

Makan Mie Cina kadang membuat saya teringat pendekar-pendekar Cina di film-film saat makan mie di kedai. Ternyata rasa penasaran mie yang disantap pendekar itu kini bisa saya cicipi lewat Mie Cina. Entah sama atau tidak rasanya, setidaknya Mie Cina kini menjadi penawar kerinduan pada rasa kuliner mie-mie khas Indonesia. Lebih dari itu, Mie Cina lebih nyaman untuk dikonsumsi karena terhindar dari bahan-bahan pengawet seperti yang terkandung dalam indomie.

Kattamea, 14 Oktober 2010
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar