Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Sabtu, 04 September 2010

Ujian

-Catatan seorang pemalas

SAYA mencoba meraih buku bersampul putih-hijau yang tergeletak di atas meja dekat jendela. Buku fotokopian, yang di sampul merahnya tertulis Usul Fiqh, itu masih 'perawan'. Debu tebal hampir rata di permukaan buku. Pagi itu saya tak tega terus-terusan membiarkannya. Saya ingin membacanya. Tapi konsentrasi diri saya rasanya tak betul. Barangkali sesuatu telah mengganggu.

Di musim panas ini, di mana ujian term II akan diadakan, pikiran saya malah tak menentu. Saya tak paham hendak ke mana alur pikiran saya menuju. Tapi yang pasti ada dari ujian: saya selalu cemas. Semacam ada beban yang menggumpal di pikiran.

Ini bukan pertama kali saya merasakan 'gangguan' seperti itu. Di tahun-tahun sebelumnya, ketika masih mustajid di tingkat tiga, saya mengalami nasib serupa. Buku-buku itu--buku yang saya beli dengan harga cukup mahal itu, buku yang seharusnya saya baca berulang-ulang kali sebelum ujian itu (seperti ketika masih tingkat I dan II)--cuma jadi ornamen meriah di rak buku saya sebelah pojok kanan. Seperti sebuah kesenangan yang tak dapat saya sembunyikan di penghujung tahun rasib ini. Kesenangan sebab saya terlampau santai sementara saya melihat kawan-kawan lain jungkir balik untuk sekedar membaca, bimbingan, meringkas, menghapal, demi menghadapi ujian yang hampir di ambang pintu.

Adakah yang aneh dalam diri saya? Ujian itu--sebuah momen yang menentukan kenaikan tingkat atau mengulang--memang tinggal hitungan jari. Orang-orang, termasuk saya (jika nanti benar-benar 'pulih' kembali), berusaha mati-matian mempersiapkan diri. Laiknya menyiapkan bekal buat hari kematian, segala daya dan upaya pun dikerahkan semaksimal mungkin, untuk meraih apa yang diharapkan. Segala impian dan anyaman bagus-bagus tentang apa yang dibayangkan, tak boleh tercampakkan begitu saja. Meskipun tak jarang harapan, yang biasa ditaruh di tempat paling muluk dalam ruang psikologi individu, ternyata bisa berujung kekecewaan.

Tahukah Anda bahwa mereka yang melakoni ujian adalah orang-orang yang ganjil. Aneh, memang. Mereka, yang disebut-sebut sebagai agen perubahan dan berkapasitas intelektual, hanyalah sebuah lelucon yang teramat menggelikan. Mereka adalah orang-orang 'khusyuk' tatkala keadaan genting hampir melumatnya. Mereka terjebak ke dalam lingkaran optimisme yang hanya ditempuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Adakalanya mereka gampang kagetan, karena tanpa disadari mereka tergilas oleh waktu. Mungkin inilah gambaran sepintas yang mempertegas kondisi saya, juga sebagian teman-teman, sebagai mahasiswa Al-Azhar. Agak berlebihan, memang. Namun bagi mereka yang sudah memperoleh kepuasan tersendiri, barangkali, ini adalah sesuatu yang lumrah terjadi.

Saya sadar jika selama ini saya termasuk dalam kategori itu. Saya, yang hampir empat tahun telanjur merasakan hidup serba enak dan mengasyikkan, dengan kenikmatan-kenikmatan semu, baru mafhum. Berkali-kali saya dibentuk oleh kemanjaan sekeliling yang melenakan sampai-sampai pikiran, jiwa dan raga saya hampir tak berguna. Rasanya ada kekecewaan yang mulai tumbuh di sudut hati saya. Mungkin penyesalan.

Dan saya tak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya setuju jika diri, pada dasarnya, adalah akar masalah kita. Tapi bukankah seharusnya ada faktor-faktor lain yang turut mendukung kita? Sebuah stimulus yang membakar semangat kita kala racun kemalasan menjalar di sekujur tubuh? Dan, selama belajar di universitas yang konon tertua di dunia ini, saya tidak menemukan itu semua. Yang saya rasakan adalah semangat individual yang begitu dominan. Tentu, bagi mereka yang punya semangat baja dan skala prioritas jelas, saya kira tidak ada masalah. Tapi bagi mereka yang bermental getas dan enggan berkorban demi menjumput khazanah ilmu pengetahuan, individualitas mereka akan tampak sebuah kekosongan, dan akhirnya mereka mudah dicampakkan ke dalam tong.

Tetapi, di luar batas status individual itu, ternyata, sistem pendidikan yang kita dapatkan saat ini juga turut mempengaruhi. Paling tidak, dugaan saya, tuduhan "kurikulum tersembunyi" yang pernah dilontarkan Ivan Illich (sebagaimana yang ditulis Goenawan Muhamad), ketika sistem pendidikan di sejumlah negara Latin menjadi omong kosong, telah 'mencekoki' kita.

Dalam "kurikulum tersembunyi" itu diajarkan, sikap menerima secara pasif tanpa mempertimbangkan kritik yang aktif pada setiap gagasan-gagasan. Di sana sang mahasiswa (khususnya S-1) dianggap tak kuasa menemukan pengetahuan, dan 'menemukan' memang bukan urusannya. Prestasi intelektual terbesar adalah mengingat kembali, atau menghafal. Dalam "kurikulum tersembunyi" itu juga diajarkan bahwa selalu ada jawaban yang benar, pasti, tidak kurang dan lebih, untuk setiap pertanyaan ujian. Ujian jadinya, hanya sebuah tolak ukur yang hampa dari kreativitas-kreativitas yang bisa menggerakkan dan membentuk karakter individu.

Di luar hari-hari menjelang ujian segala sesuatunya akan semakin terasa. Bahwa prakarsa pribadi yang seharusnya berkembang lewat kebebasan menentukan apa yang disukai, ketika lembaga pendidikan memberikan banyak waktu luang yang kita miliki, ternyata tidak lagi kita temukan. Kita malahan asyik tenggelam dalam buaian waktu, seolah hidup tanpa beban, dan baru kaget ketika tanggal ujian tinggal hitungan jari.

Melangkah keluar dari kamar, saya mencoba menuju ke masjid. Di rumah Tuhan itu saya menjumpai keramaian dan suara riuh rendah orang-orang yang mempersiapkan ujian. Bagaimanapun, saya harus membaca buku saya. Sebab banyangan ujian begitu mencekam. Celaka, pikiran saya masih tak beres...[]

Buuts, 03:26 AM/01 Mei '06
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar