Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 24 September 2010

Surat Untuk Emak

Lek Jai, Emak dan Mak Ni

MALAM semakin kelam. Kurebahkan tubuhku di atas pembaringan, sambil menerawang meratapi diriku yang dimakan usia. Meski di musim dingin, tiba-tiba kamarku terasa panas dan sumpek. Desiran angin menembus kamarku membawa khabar yang sulit diterka.

Aku menangis ketika diriku mulai tercabik dan digilas oleh realitas. Aku sendiri belum memahami sejauh mana derita ini akan kulabuhkan. Kucoba mengabarkan kepada orang-orang di sekitarku, tapi mereka hanya bisa menggeleng. Kadang mereka menatapku sinis, tanpa alasan berarti. Mungkin, sudah saatnya aku harus mengabarkan pada Emakku, pikirku. Aku bangkit, lalu meraih pena dan secarik kertas di sudut kamar.

“Emak...,” begitu kata pembuka yang kutulis dalam surat. “Aku tahu engkau akan menangis setelah membaca suratku ini. Tapi segerahlah usap air matamu itu. Jangan engkau biarkan air mata berurai di pipimu. Aku malu jika Emak hanya bisa menangis tanpa suara, dan berbisik tanpa kata. Emak, anakmu di sini sedang dalam keperihatinan, bertarung dengan masa depan, berlindung di bawah buramnya cahaya malam.”

Tiba-tiba hatiku dihantui sebuah ketidakpastian. Mengingat kondisiku sampai saat ini yang masih buta tujuan, kepontal-pontal, hatiku ingin menggugat. Kubiarkan pena yang ada di jemariku jatuh menindih kertas di atas meja. Aku berhenti menulis. Kata-kata dalam surat itu ingin kubaca lagi. Tapi pikiranku sudah mulai tak berkonsentrasi. Hingga tanpa kusadari diriku hanyut dalam lamunan mengenang kata-kata Emak kala aku masih bersamanya, di masa-masa silam.

Ya, dari rahim Emak yang suci aku bisa lahir ke dunia ini. Emak sangat istimewa bagiku, karena dia mengajariku bahasa kasih sayang. Dia juga senantiasa membagi dan menjaga seluruh kasihnya kepadaku, tanpa ingin meminta kembali. Sungguh, aku merasa tersanjung jika mampu menjaga kasih sayangnya, agar tetap bersemi di hati.

“Le, golek ilmu itu abot. Jangan sekali-kali kamu terjerumus dalam laku maksiat. Wong seng maksiat itu sulit menyerap ilmu. Kamu juga harus bersabar. Emak ndak pingin melihat kamu tak punya bekal hidup. Kamu harus berusaha, mumpung ada kesempatan,” pesan Emak kepadaku. Kata bijak itu sering dilontarkan Emak setiap kali dia mendapatiku sedang malas belajar. Sampai sekarang pun kata-kata Emak tidak bisa lepas dari ingatanku. Aku merasa Emak banyak turut andil dalam membentuk jati diriku.

Memang Emak tergolong awam. Dia tak paham Al-Qur’an dan Hadits. Tapi nilai-nilai agama terpancar dalam sendi kehidupannya. Karena itu, aku sangat beruntung bila sejak kecil aku dekat dengan Emak. Dan Emak tak jemu-jemunya menuntun jalan hidupku.

“Jangan sekali-kali mementingkan diri sendiri, Le. Kamu harus bisa melupakan kebaikanmu sendiri. Ibu kepingin ilmumu bermanfaat kanggo pribadimu dan orang banyak,” kata ibu.

Memang, sejak menjauhnya hubungan kami, terutama aku, dengan bapak, Emaklah yang lebih dekat dengan kami. Emak begitu perhatian dengan anak-anaknya. Emaklah yang sering menasehati kami. Dari nasehatnya dan juga lakunya dalam hidup, aku beroleh aku beroleh pelajaran bahwa hidup tak boleh cengeng, cepat putus asa, manja, dan musti bekerja keras. Untungnya, saat itu, ketika umurku masih belasan tahun, aku sudah memahami makna dari nasehat-nasehat Emak

Emak juga tak segan-segan memarahiku. Lebih-lebih jika kenakalanku kelewat batas. Dan, di setiap waktu, Emak tidak pernah lupa menasehatiku tentang falsafah kehidupan. Dia sering mewiridkan kepada kami, anak-anaknya, agar tidak melupakan Gusti Allah. Setelah beranjak dewasa aku menyadari bahwa nasehat Emak begitu penting bagi perjalanan hidupku. Betapa kecintaan seorang ibu terhadap anaknya, sungguh berharga nilainya.

Oleh sebab itu, aku yakin bahwa cinta yang lahir dari Emak telah mengajarkanku makna pemeliharaan dan tanggung jawab hidup. Cinta Emak pulalah yang telah menanamkan rasa syukurku kepada Tuhan atas kehidupan yang kujalani selama ini. Dan rasa syukurku tersebut pada akhirnya membuatku mencintai kehidupan, dan bukan hanya berkeinginan untuk tetap hidup.

Aku menghela nafas panjang. Ah, tak terasa sudah tiga tahun aku berpisah dengan Emak, pikirku. Meski dimakan usia, aku merasa cahaya hidup ibu belum pudar. Masih kuingat, betapa tatapan matanya selalu memancarkan keteduhan. Aku juga sering merindukan senyumnya yang tulus, yang selalu mengembang di bibirnya yang legam dan berkerut. Andai aku berada di hadapannya aku akan membalasnya dengan senyuman terhangat.

“Emak, doakan aku semoga sukses,” pintaku setiap kali selesai bercerita tentang kondisi studiku.

“Meski kamu tak meminta, Emak senantiasa mendoakanmu. Emak senang jika melihat kamu sukses,” kata Emak. “Dan jangan dikira doa Emak yang menyertai anaknya lantas bisa menyenangkan Gusti Allah, Le. Kamu harus ngerti tindakan nyata yaitu belajar yang rajin lebih utama dari sekedar doa.”

Aku tercenung dari lamunanku saat meresapi kata-kata Emak yang terakhir ini. Batinku bergejolak. Dadaku tiba-tiba sesak. Betapa permasalahan yang kupikul akhirnya sedikit demi sedikit bisa kumengerti. Ya, aku sadar bahwa selama ini aku terjebak dalam struktur kehidupan yang angkuh. Aku kerap lupa tidak melakukan kritik yang konstruktif kepada diriku sendiri. Memang aku sering berharap pada kesuksesan. Tapi aku belum pernah sanggup membuktikan satu saja kata kebenaran yang keluar dari mulutku dengan tindakan nyata, yaitu belajar yang rajin dan bekerja keras. Agaknya, aku gagal menerjemahkan kata-kata Emak dalam setiap langkah hidupku.

Aku berusaha meraih pena dan secarik kertas yang sempat tergeletak di atas meja. Kubulatkan tekad untuk menulis lagi. Malam ini rasanya aku ingin mencurahkan segenap isi hatiku. Mungkin perasaan rinduku pada ibu yang menjadi alasan utama. Ya, kerinduan yang nyaris mustahil diobati, meski apa yang kutulis ini bukan untuk ditangisi.

“Emak, anakmu di sini. Mencoba meraih sengenggam harapan yang engkau hembuskan padaku dari hari ke hari. Meski jauh dari sisimu, aku mencoba menatap mentari dan menempuh malam-malam panjang yang sunyi. Sambil menunggu, aku terus bertanya apakah sang mentari besok akan kembali. Dan tiap kali dalam kesendirian, aku terus menghitung hari demi hari. Aku ingin berjumpa kembali denganmu, Emak. Mungkin engkau akan bertanya, kapankah waktu itu? Ketahuilah Emak, aku pun bertanya hal yang sama....”

Aku berhenti menulis ketika keraguan tiba-tiba menyelinap di hatiku. Lagi-lagi aku didera kebimbangan. Pikiranku jadi buntu. Dengan pandangan mata sedikit kabut akibat kantuk, kutatap lembaran kertas putih kosong yang masih tersisa separoh. Sementara masih banyak yang harus kutuangkan dalam surat itu. Lagi pula, aku tak ingin segenap persoalanku ini berlarut-larut tinggal di hatiku. Dengan berat hati, aku harus menundanya sampai hari esok.

Dingin malam semakin menusuk. Tak terasa suara adzan shubuh menggema di telinga. Aku bangkit dari tempat dudukku. Aku melangkah keluar mengambil air wudhu. Lalu menundukkan diri di hadapan sang Khalik. Dalam penghambaanku di waktu fajar itu, kupanjatkan segala doa untuk ibu dan pribadi.

“Ya Allah, semoga ibu kami di kampung terkuak kejernihan pikirannya untuk rela memandang dan memahami kondisi anaknya. Dan anugerahkanlah khusnul khatimah kepada ibu kami. Taburkanlah rezeki rohani ke dalam ubun-ubunnya, sehingga peran yang diembannya selama ini bisa bermakna”

“Ya Allah, berilah kami kekuatan, ketabahan, dan kesabaran agar kami bisa menjalani hidup ini. Dan ampunilah segala kelemahan dan kekurangan kami.”

Segala beban batin kutuangkan di atas sajadah. Sambil menunggu mentari pagi, aku terus berpikir merangkai kata-kata duka dalam surat itu. Ini penting agar ngilu di sudut hati sedikit terobati.[]

Penghujung 2005
Tulisan ini dibuat saat kangen emak di kampung...
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar