
SEDIKIT mengejutkan, tapi inilah kenyataan. Orang-orang menganggap kami golongan tua. Dalam deretan tua itu, ada aku di antaranya. Klasifikasi tua itu jelas mengacu pada usia, dan rentang waktu lamanya studi di sini. Aku pun tak bisa memungkiri.
Tua adalah identifikasi tentang seseorang yang dituakan di antara yang muda. Orang menjadi tua, dengan demikian, adalah faktor hitungan usia yang maju. Dikatakan tua karena ia tampak tua dengan membandingkan usianya dan pengalaman hidupnya yang panjang. Karena itulah tak berlebihan jika yang tua mendapat penghormatan dari yang muda.
Tapi, kata tua terkadang terdengar menggelikan. Jika dikatakan tua, sedang semangat atau perasaan kita merasa muda terus, barangkali kita sedikit gusar menanggapinya. Dan siang itu aku termasuk yang geli kala dibariskan dalam satu golongan yang tua saat acara foto-foto bersama. Aku berpikir, sudah benar-benarkah aku tua, sedang aku belum merasa tua, malah seperti anak baru, lantaran problem yang aku rasakan saat ini?
Pikiran itu terus menyeruak. Aku sudah tua ternyata, setidaknya itu pandangan mereka yang masih beberapa tahun belajar di sini. Aku sudah tua ternyata, setidaknya itu karena aku sudah hampir delapan tahun di sini. Aku sudah tua ternyata, itu karena aku melihat usiaku saat ini. Aku sudah tua ternyata, itu jika aku membandingkan usia-usia teman sebayaku yang sudah menikah, bahkan ada yang punya dua anak. Aku sudah tua ternyata, itu jika aku melihat mereka yang dulu masih kecil sekarang sudah menginjak abege. Aku sudah tua ternyata, aku sudah tua ternyata....
Terus terang, pikiran tentang usia tua itu amat menyeramkan. Seolah-olah aku tak siap untuk menjadi tua. Pinginnya terus muda. Padahal tua adalah konsekuensi hidup, sebagai bentuk antrian untuk menuju kematian. Tua adalah bentuk kesiapan psikologi manusia, bahwa di masa tuanya dia harus dituntut bersikap bijak. Karena pengalaman hidup dan ilmu pengetahuannya, orang tua sering dijadikan rujukan dan sandaran bagi yang muda.
Tapi aku bukan tua karena aku banyak pengalaman hidup dan ilmu yang memadahi. Tuaku adalah karena aku berada di bawah komunitas yang rata-rata masih muda. Tapi ketika aku disebut tua, aku menyadari bahwa menjadi tua akhirnya memberikan contoh bagi yang muda. Maka dari itu, aku perlu banyak belajar dari yang pernah aku lakukan saat sebelum menjadi tua. Artinya, masa-masa muda yang berlalu adalah pelajaran sekaligus modal untuk memperbaiki diriku pada saat hari-hari tua nanti. Juga modal nasehat yang bermanfaat untuk kaum muda jika diperlukan.
Tua pula menyadarkanku, bahwa hidupku semakin pendek, dan karena itu seram jika aku berpikir selama ini belum melakukan apa-apa. Tua kadang membuatku gelisah jika sejauh ini aku belum memiliki pondasi kuat buat masa depanku. Apalagi jika kondisiku saat ini begitu rapuh, dan melihat usia yang dikatakan tua, aku kadang bingung sendiri. Tua telah menyadarkanaku, selama ini aku merasa hidup sia-sia, terutama tiga tahun terakhir ini. Hidup dalam kehampaan setelah semuanya sia-sia tiada guna sama sekali.
Tapi aku tak boleh menyesali semua yang terjadi. Tua hanyalah bayangan semata. Aku merasa masih muda. Apalagi jika aku melihat fisikku sekarang yang, menurutku, awet muda. Meskipun usia tua, aku akan terus merasa muda. Usia boleh tua, tapi semangat tetap muda. Itu yang perlu kujaga, walaupun aku tak bisa membohongi jika aku benar-benar tak kuasa melawan tua.
Kattamea, 22 September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar