Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Kamis, 09 September 2010

Musa'adah

ilustrasi (foto: google image)

jika sedekah atau pemberian tulus yang dilakukan di bulan suci ramadhan, bagi kami yang tinggal di mesir, maka yang familiar terdengar di telinga kami adalah musa'adah. jika ada tempat, katakanlah, di suatu masjid, beredar cerita tentang pembagian uang, maka di sana akan dikatakan ada tempat pembagian musa'adah.

selain maidaturrahman, kisah menarik lain di mesir selama bulan ramadhan adalah musa'adah. jika di indonesia, hari-hari terakhir di bulan ramadhan yang ramai dibicarakan adalah masalah thr, parcel, mudik, belanja di mall, maka musa'adah, terutama bagi mahasiswa yang bokek seperti saya, menjadi ramai diperbincangkan lantaran ia menjadi ladang berburu duit.

bagi saya, kisah berburu musa'adah di hari-hari terakhir bulan ramadhan adalah kisah yang menghibur. di tengah krisis keuangan saat ini, mendapat musa'adah berupa uang adalah hiburan dan anugerah yang patut disyukuri. ini lantaran sekarang duit adalah segalanya bagi saya. sulit membayangkan jika hidup tanpa duit. duit pun acap membuat pikiranku jadi tak konsen, ketika di hari berikutnya saya membayangkan tak memegang sepeser pun duit untuk sekedar makan dan bayar iuran.

dan musa'adah ahad malam itu membuatku sedikit lega. pengangguran macam saya mana bisa menampik uang. dan sore itu, sedikit menahan rasa cemas jikalau ia, musa'adah itu, bukan rezeki saya, saya pun berdoa. dalam doa yang khidmat itu saya berharap jika musa'adah itu benar-benar menjadi bagian saya. saya tak bisa membayangkan jika musa'adah itu, rezeki yang meskipun saya peroleh dengan sedikit keberuntungan tanpa keringat, pupus. sebab saya pasti merasakan jengkel lantaran jarak tempuh antara tempat pengambilannya dan rumah saya lumayan jauh.

apalagi, di sore hari menjelang berbuka, saya dalam perjalanan. ini artinya, saya harus menahan lapar. namun syukurlah, tepat waktu maghrib di tengah perjalanan, ada saja mereka yang berbaik hati dan sudi membagikan minuman sebagai pengatar berbuka puasa. rasa dahaga saya pun sirna, dan air minum itu sedikit mengisi perut yang lapar. setidaknya, sampai di atabah, saya masih sanggup menahan lapar, dan berharap segera menemukan tempat yang menyajikan maidaturrahman.

namun sial, di sana-sini maidaturrahman sudah kukut. di pelataran masjid dekat jalan raya, saya menjumpai sisa-sisa maidaturrahman. dan tempat yang kotor habis dipakai makan bersama itu, mulai dibersihkan. saya hanya bisa gigit jari. saya menenangkan pikiran dan hati dengan segera mengerjakan salat maghrib. lalu berdoa, mengakidkan harapan agar ada jatah musa'adah buat saya.

sebegitu pentingkah uang? lewat musa'adah, yang malam itu saya terima dalam bentuk uang (meskipun terkadang berupa sembako) saya bisa bernafas lega. saya tidak ingin terjerumus dalam sebutan kedunyan alias orang-orang yang hobi memikirkan urusan duniawi. saya hanya ingin memenuhi hak saya sebagai ibnu sabil, yang kata quran, bisa dikategorikan orang yang berhak mendapat santunan berupa sedekah. apalagi, mereka yang mendermakan uang itu tak pandang bulu siapa yang berhak menerima uang. asal mereka yang menerima adalah mahasiswa.

lagi pula, mereka, orang-orang mesir yang baik hati itu, sadar jika di bulan suci ini perlu memperbanyak amal kebajikan. untuk itu, salah satunya cara, mereka mentasharufkan sebagian hartanya ketika dalam ikhtiar itu ada investasi yang berharga untuk akhirat. dan, ramadhan adalah ladang besar yang menjanjikan, sebab di bulan suci itu ada jaminan tentang pahala yang dilipatgandakan. apalagi, di sepertiga malam terakhir bulan ramadhan, kita mengenal lailatul qadar--sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

melangkah keluar masjid saya lega. di genggaman saya kini ada segepok uang. lumayanlah untuk ukuran uang yang saya peroleh tanpa keluar keringat. saya girang. sudah dua tahun saya vakum memburu musa'adah. saya juga sudah lama tak menerima uang gratisan. berburu musa'adah adalah kisah lain tentang orang sedang butuh uang macam saya. saya sadar jika uang kini sudah menjadi segalanya bagi saya. tapi saya tak ingin dikuasai uang. sebab ada nilai-nilai dalam hidup ini yang tak bisa diukur dengan uang.

kattamea, 9 sep 2010
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar