.jpg)
Siapa pun di posisi aku saat ini pasti bingung. Tak tahan bingung, pasti stress. Tapi alhadulillah hingga saat ini aku normal-normal saja. Aku bisa ketawa. Aku masih sehat. Aku masih kuat beli beras. Kuat bayar rumah, meskipun kadang miris bila menatap bulan-bulan ke depan.
Aku tak ingin cengeng bercerita kepadamu tentang situasi saat ini. Aku sudah bosan bersikap lembek. Kali ini perkenankan aku ingin mengobati lukaku dengan caraku sendiri. Aku anggap cara ini manjur sekaligus menghibur. Yang pasti, di tengah kesendirian yang membosankan, aku butuh hiburan yang bergizi. Bergizi bagi otak, jiwa dan ruhani. Aku tak ingin hidup aku sia-sia. Atau bila kukatakan lebih ekstrem lagi: menjadi bodoh. Aku selalu mengharamkan sebutan bodoh bagi diriku.
Membodoh-bodohkan diri sendiri adalah tindakan paling bodoh di dunia ini. Meskipun aku bodoh dalam bidang lain, namun itu tidak bisa mengidentifikasi diriku termasuk orang bodoh. Aku hanya belum tahu, dan karena itu bodoh jika aku tidak menyimpan niat ingin tahu. Terhadap segala hal aku ingin tahu. Cara ini terus aku pertahankan sembari menghimpun metode agar aku memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang perlu aku ketahui.
Memang di setiap saat, kadang aku menvonis diriku termasuk orang yang tak berguna atau sia-sia tatkala aku meraba-raba usiaku yang semakin tua. Kadang aku dicekam ketakutan luar biasa dan karena itu aku sering panik. Ketika panik tiba-tiba muncul, aku pasti kesulitan untuk berpikir secara arif. Imbasnya, kadang aku ares-arasen berbuat sesuatu yang seharusnya perbuatan itu sedikit memberikan tawaran solusi atas keadaan tersebut. Aku pun tak habis pikir, kenapa akhir-akhir ini sifat itu kembali muncul pada diriku. Umur memang bertambah, tapi kedewasaanku serasa mundur kembali ke belakang.
Seiring berjalannya waktu seharusnya aku bertambah pintar. Kemampuan akademik pun seharusnya tokcer. Aku seharusnya melampui dari target dari segala target yang aku targetkan. Tapi, ya Allah, di keheningan malam ini, aku ingin menenteskan air mata. Entah kenapa, lagi-lagi tulisan ini mengarah ke sana. Ironisya lagi, bila sudah mengarah ke sana, aku pasti menolol-nololkan diriku. Sungguh, ketololanku ini membuatku menanggung kerugiaan yang benar-benar tak tertanggungkan. Ya, rugi materi, rugi waktu, rugi umur, di mana sederet kerugian ini acap mengkerdilkanku di setiap waktu bila aku memikirkannya. Aku merasa rugi karena kerja kerasku selama ini seakan-akan tak membuahkan hasil.
Sudahlah. Aku akan berusaha mengerem diri aku untuk tidak mengungkit-ungkit lagi kerugianku itu. Toh kerugian itu buah dari keputusanku sendiri. Bukankan Gusti Allah sudah memperingatkan, melalui Surah al-‘Ahsri, tentang orang-orang yang merugi. Aku ingin menggaris bawahi aku yang merugi ini karena aku belum optimal mengerjakan amal kebajikan untuk diriku dalam rentang waktu yang tersedia. Amal kebajikan itu adalah belajar, belajar dan belajar. Ya, aku kurang serius belajar. Itu saja persoalannya.
Sungguh, aku tak ingin membodoh-bodohkan diriku lagi. Di hadapanku kini terbentang jalan yang panjang. Memang, saat ini bisa dikatakan aku bangkrut secara materi. Tapi aku merasa kaya. Aku kaya karena aku memiliki akal, waktu luang, sehat jasmani dan rohani. Oleh karena itu, biarpun aku kere, akal budiku selalu bersyukur jika sampai saat ini masih sanggup berpikir dan karena itu aku berusaha memperbaiki diri aku setiap hari.
Akal juga menghendaki agar aku tidak bodoh. Artinya, aku dituntut untuk melakukan perbuatan yang menandakan aku akan hidup abadi. Aku tahu jika jalan itu hanya bisa ditempuh dengan cara menulis dan berkarya. Cara itu pula yang akan menghindarkan aku untuk tidak membodoh-bodohkan diri aku lagi. Aku harus menggembleng diri aku meskipun tidak secara formalitas. Saat ini aku cuma butuh kekuatan dan konsisten untuk menulis. Itu saja.
Aku harus tegas kepada diriku sendiri. Jangan ada kebodohan lagi hingga mengkerdilkan diri sendiri. Sebuah pesan penting datang dari Abbas Mahmoud Al-Aqqad. “Sedetik pun kau jangan merasa payah. Kau masih pemula, itu saja. Sedetik pun kau jangan merasa seorang yang hina. Kau masih kecil, itu saja. Tapi kau bukan lagi kecil, melainkan punya usia yang pendek, jangkauan yang terbatas, pandangan yang cekak. Tapi, kebesaran dan kegagahan ada pada akal dan ambisimu...Sesungguhnya, kebesaran yang dimiliki manusia adalah akal...”
Kini aku pun tahu apa yang seterusnya kulakukan....
Kattamea, 21 September 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar