tabaraka media

Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Senin, 24 Juli 2023

Thaharah



A. Arti Thaharah

Thaharah artinya bersuci. Thaharah menurut syara’ ialah suci dari hadas dan najis.

Suci dari hadas ialah dengan mengerjakan wudhu, mandi dan tayammum.

Suci dari najis ialah menghilangkan najis yang ada di badan, tempat dan pakaian.


B. Air yang suci dan mensucikan 

  1. Air hujan
  2. Air sumur
  3. Air laut
  4. Air sungai
  5. Air salju
  6. Air sumber
  7. Air embun.


C. Pembagian air

Ditinjau dari segi hukumnya, air itu dapat dibagi empat bagian 

  1. Air suci dan mensucikan, yaitu air muthlaq artinya air yang masih murni, dapat digunakan untuk bersuci.
  2. Air suci dan dapat mensucikan, tetapi makruh digunakan, yaitu air musyammas (air yang dipanaskan dengan matahari) di tempat logam yang bukan emas.
  3. Air suci tetapi tidak dapat mensucikan, yaitu air mustakmal. Air musakmal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci menghilangkan hadas. 
  4. Air mutanajis yaitu air yang terkena najis atau kemasukan najis, sedang jumlahnya kurang dari dua kullah, maka air ying semacam ini tidak suci dan tidak dapat mensucikan. Jika lebih dari dua kullah dan tidak berubah sifatnya, maka sah untuk bersuci. Dua kulah sama dengan 216 liter, jika berbentuk bak, maka besarnya = panjang 60 cm dan dalam/tinggi 60 cm.


D. Pembagian najis

Najis itu dibagi menjadi tiga bagian,

  1. Najis mughallazhah (berat) yaitu najis anjing dan babi dan keturunannya.
  2. Najis mukhaffafah (ringan) yaitu air kencing bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum pernah makan sesuatu kecuali air susu ibunya.
  3. Najis mutawassithah (sedang) yaitu najis yang selain dari dua najis tersebut di atas, seperti segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur manusia dan binatang (kecuali air mani), barang cair yang memabukkan, bangkai (kecuali bangkai manusia dan ikan serta belalang).

Najis mutawassithah dibagi menjadi dua,

  1. Najis ‘ainiyah, yaitu najis yang berwujud, yakni yang nampak dapat dilihat.
  2. Najis hukmiyah, yaitu najis yang tidak kelihatan bendanya, seperti bekas kencing, atau arak yang sudah kering dan sebagainya.


E. Cara menghilangkan najis

  1. Barang yang kena najis mughallazhah seperti jilatan anjing atau babi wajib dibasuh tujuh kali dan salah satu di antaranya dengan air yang bercampur tanah.
  2. Barang yang terkena najis mukhaffafah, cukup diperciki air pada tempat najis itu.
  3. Barang yang terkena najis mutawassithah dapat suci dengan cara dibasuh sekali, asal sifat-sifat najisnya (warna, bau dan rasanya) itu hilang. Adapun dengan cara tiga kali cucian atau siraman itu lebih baik. Jika najis hukmiyah maka cara menghilangkannya cukup dengan mengalirkan air saja pada najis tadi.


F. Najis yang dimaafkan (ma’fu)

Najis yang dimaafkan artinya tak usah dibasuh atau dicuci, misalnya najis bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya, darah atau nanah yang sedikit.


G. Tata cara bersuci dari air kencing

  1. Mengeluarkan air kencing yang masih tersisa dari kemaluan dengan mengurut daerah perut bawah atau alat kemaluan seraya berdehem.
  2. Membasuh qubul dengan air sampai bersih dan tidak ada sisa air kencing lagi.
  3. Berhati-hatilah dengan percikan air kencing saat jangan yang terkena di pakaian.
  4. Kencing sambil duduk.


H. Tata Cara mensucikan pakaian dari najis

  1. Misal, ada najis yang menempel di baju.
  2. Langkah pertama adalah membuang najis yang menempel di baju.
  3. Jika sudah dibuang, berarti ‘ainiyahnya sudah tidak ada dan yang tersisa adalah najis hukmiyah.
  4. Kemudian basuhlah baju yang terkena najis itu dengan air yang bersih sampai hilang bau, rasa, dan warnanya.
  5. Baju menjadi suci kembali dan sah dipakai shalat.


I. Taca Cara mensucikan lantai dari najis

  1. Misal, ada air kencing di atas lantai.
  2. Langkah pertama untuk menyucikannya adalah dengan menggunakan lap kering terlebih dahulu agar air kencing terserap ke dalam kain lap.
  3. Jika sudah dilap, berarti najis ‘ainiyahnya sudah tidak ada dan yang tersisa adalah najis hukmiyah.
  4. Setelah yakin bahwa wujud air kencing itu sudah tidak ada, baru kemudian mengepel dengan menggunakan kain basah. 
  5. Gosok lantai yang terkena air kencing hingga hilang bau, rasa, dan warnanya.
  6. Selanjutnya kita bisa mengelapnya lagi agar lantai kering.


logoblog

Jumat, 22 April 2022

Menjadi Sosok yang Bertakwa

Sebutir kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang yakin dan takwa lebih unggul daripada segudang ibadah yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan tertipu.

Kita akan memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan. Sepuluh hari terakhir adalah hari-hari yang sangat penting. Beberapa hadis Nabi menyebutkan, pada hari-hari ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir ini ada momen yang sangat penting yang dikenal dengan Lailatul Qadar.

Ada baiknya bila kita merenung kembali dan menyegarkan ingatan kita, mengenai tujuan dan makna ibadah puasa yang sedang kita jalani selama ini. Tujuan puasa, sebagaimana disebut dalam surah Al-Baqarah ayat 183 adalah supaya kita bertakwa,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Dengan mudah dikatakan, kalau kita tidak menjadi bertakwa, maka seluruh ibadah puasa kita telah sia-sia. Sekadar mengingatkan, inti takwa selain menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, adalah mengingat Allah, sehingga terbentuk kesadaran mendalam pada diri kita bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita. Allah Mahahadir. Dia bersama kita, di mana pun kita berada. Sebagaimana firman-Nya,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

Karena kita selalu sadar bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak mendapatkan ridha Allah. Oleh karena itu, takwa mempunyai korelasi positif dan langsung dengan budi pekerti luhur. Takwa harus melahirkan akhlakul karimah. Apabila tidak ada tanda-tanda akhlak karimah pada diri kita, maka patut dipertanyakan, seberapa jauh kita menjadi bertakwa. Mengenai takwa dan akhlak mulia ini, Rasulullah Saw. pernah bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ، فَقَالَ: تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ،(رواه الترمذي)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.” (HR. Tirmidzi)

Puasa adalah ibadah yang paling pribadi. Jika ibadah-ibadah lain tampak oleh mata, maka tidak demikian dengan puasa. Seseorang mengerjakan shalat atau tidak, bisa kita ketahui. Kita juga bisa tahu, seseorang membayar zakat atau tidak. Tetapi, tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak, kecuali diri kita sendiri dan Allah. 

Karena puasa sifatnya paling personal, maka dari sanalah benih-benih ketakwaan dilatih. Apabila kita telah berniat puasa, kemudian menderita lapar dan haus, namun kita tidak mencuri untuk makan atau minum, meskipun kita sedang sendirian, maka dari sini kita mulai melihat adanya permulaan dari takwa itu. Yaitu, kita tidak tergoda untuk mencuri makan dan minum, karena kita tahu Allah melihat kita. Karena itulah puasa memberikan efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri. 

Puasa, dengan demikian, adalah ibadah yang sangat ruhani. Sangat spiritual. Karena puasa yang rahasianya sifatnya personal, maka efek puasa tidak selamanya bisa dilihat secara langsung. Efeknya adalah efek ruhani. Justru karena efeknya di bidang ruhani, maka kebaikan yang diakibatkan puasa akan melimpah ruah.

Sesungguhnya pahala puasa tidak bergantung pada kadar kelaparan dan kehausan. Pahala puasa tergantung pada sikap jiwa. Dalam hadis disebutkan sebagai sikap jiwa imanan wa ihtisaban. Yaitu, penuh kepercayaan kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri (introspeksi).
Rasulullah Saw. bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري)

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman kepada Allah dan penuh introspeksi, maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni oleh Allah. (HR. Bukhari)

Begitu pula dosa itu tidak tergantung pada rasa lapar dan haus, melainkan kepada imanan wa ihtisaban. Maka dari itu, marilah kita jalani ibadah puasa ini dengan penuh percaya kepada Allah bahwa Dia menghendaki kebaikan bagi kita. Oleh karena itu, selama berpuasa kita dianjurkan memperbanyak itikaf, bersedekah, membaca Alquran, shalat tarawih, dan amalan-amalan kebajikan lainnya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, marilah kita merenungkan satu hadis Rasulullah Saw.,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ
فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa orang itu meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Marilah kita jaga agar kualitas puasa kita betul-betul menjadi lebih baik di sisa penghujung Ramadhan ini. Jangan sampai panas setahun hilang oleh hujan sehari. Jangan sampai kualitas baik puasa kita sebelumnya lewat terhapus begitu saja oleh kesalahan kita baik ucapan maupun perbuatan. Marilah kita tingkatkan amal kebajikan kita di penghujung Ramadhan ini, seraya mengharapkan ridha Allah, dan berharap kita dipertemukan kembali Ramadhan pada tahun mendatang. 

logoblog

Kamis, 07 April 2022

Kalam Hikmah Imam Al-Ghazali (1)

إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِذَا أَحَب عَبْدًا اِسْتَعْمَلَهُ فِي الْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةِ بِفَوَاضِلِ الْأَعْمَالِ، وَإِذَا مَقَتَهُ اِسْتَعْمَلَهُ فِي الْأَوْقَاتِ الْفَاضِلَةِ بِسَيِّئِ الْأَعْمَالِ، لِيَكُوْنَ ذَلِكَ أَوْجَعَ فِي عِقَابِهِ وَأَشَدَّ لِمَقْتِهِ لِحِرْمَانِهِ بَرَكَةَ الْوَقْتِ وَانْتِهَاكِهِ حِرْمَةَ الْوَقْتِ (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين 223)

Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, niscaya Allah menggunakan hamba itu pada waktu-waktu yang utama dengan amal perbuatan yang baik. Apabila Allah membenci seorang hamba, niscaya Allah menggunakan hamba itu pada waktu-waktu yang utama dengan perbuatan yang buruk, supaya yang demikian itu menyakitkan dalam siksa-Nya dan lebih besar murka-Nya, karena pengingkarannya pada keberkahan waktu dan pelanggarannya pada kehormatan waktu.
  
فَوَيْلٌ لِلْجَاهِلِ حَيْثُ لَمْ يَتَعَلَّمْ مَرَّةً وَاحِدَةً، وَوَيْلٌ لِلْعَالِمِ حَيْثُ لَمْ يَعْمَلْ بِمَا عَلِمَ أَلْفَ مَرَّةٍ (الإمام الغزالي، أيها الولد)

Celaka sekali orang bodoh yang tidak belajar. Tapi celaka seribu kali orang pandai yang tidak mengamalkan ilmunya.

فَإِذَا لَمْ تَعْرِفْ أَنْتَ مِنْ نَفْسِكَ إِلَّا مَا يَعْرِفُ الْحِمَارُ فَكَيْفَ تَقُوْمُ بِشُكْرِ نِعْمَةِ اللهِ عَلَيْكَ (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين)

Jika kamu tidak mengetahui tentang dirimu (berupa detail angerah kenikmatan) kecuali sebatas keledai yang diketahui (makan, buang hajat, tidur), maka bagaimana kamu bisa mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepadamu.

عَلَامَةُ اِعْرَاضِ اللهِ تَعَالَى عَنِ الْعَبْدِ، اِشْتِغَالُهُ بِمَا لَا يَعْنِيْهِ، وَأَنَّ امْرَأً  ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ عُمُرِهِ، فِي غَيْرِ مَا خُلِقَ لَهُ مِنَ الْعِبَادَةِ، لَجَدِيْرٌ أَنْ تَطَوَّلَ عَلَيْهِ حَسْرَتُهُ (الإمام الغزالي، أيها الولد)

Pertanda bahwa Allah Ta’ala sedang berpaling dari hamba adalah disibukannya hamba tersebut dengan hal-hal yang tak berfaidah. Satu waktu saja ia lewati tanpa ibadah, maka sudah pantas ia menerima kerugian berkepanjangan. 

ضَرَرُ الشَّرْعِ مِمَّنْ يَنْصُرُهُ لَا بِطَرِيْقِهِ أَكْثَرُ مِنْ ضَرَرِهِ مِمَّنْ يَطْعَنُ فِيْهِ (الإمام الغزالي، تهافت الفلاسفة)

Bahaya terhadap agama yang datang dari para pembelanya yang menggunakan cara-cara menyimpang lebih besar daripada bahaya yang datang dari para pencelanya yang memakai cara-cara benar.

قَالَ لُقْمَانُ لِإِبْنِهِ: يَا بُنَيَّ، إِذَا امْتَلَأَتِ الْمَعِدَّةُ، نَامَتِ الْفِكْرَةُ، وَخَرِسَتِ الْحِكْمَةُ، وَقَعَدَتِ الْأَعْضَاءُ عَنِ الْعِبَادَةِ (الإمام الغزالي، أحياء علوم الدين) 

Luqman Al-Hakim berkata kepada putranya, “Anakku, jika perut terbiasa kenyang, pikiran akan tidur (tidak berfungsi), hikmah akan terdiam (hilang), dan anggota tubuh enggan melakukan ibadah.

اَلْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُوْنٌ، وَالْعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَكُوْنُ  (الإمام الغزالي، أيها الولد)

Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.

اَلْغِيْبَةُ هِيَ الصَّاعِقَةُ الْمُهْلِكَةُ لِلطَّاعَاتِ، وَمِثْلُ مَنْ يَغْتَابُ كَمَنْ يَنْصَبُ مَنْجَنِيْقًا، فَهُوَ يَرْمِي بِهِ حَسَنَاتِهِ شَرْقًا، وَغَرْبًا، يَمِيْنًا، وَشِمَالًا (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين)

Ghibah adalah sambaran petir yang menghancurkan ketaatan. Orang yang gemar menghibah seperti orang yang menyiapkan manjaniq (ketapel tempur). Dengan manjaniq itu ia melempar seluruh kebaikannya ke arah timur dan barat, samping kanan dan kiri.

أَشَدُّ النَّاسِ حَمَاقَةً أَقْوَاهُمْ اِعْتِقَادًا فِي فَضْلِ نَفْسِهِ، وَأَثْبَتُ النَّاسِ عَقْلًا أَشَدُّهُمْ اِتِّهَامًا لِنَفْسِهِ (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين)

Orang yang paling bodoh adalah seseorang yang paling yakin bahwa terdapat keistimewaan pada dirinya sendiri. Sendangkan orang yang paling cerdas adalah seseorang yang paling curiga terhadap dirinya sendiri.

إِذَا لَمْ تَعْمَلْ بِعِلْمِكَ الْيَوْمَ وَلَمْ تُدَارِكِ الْأَيَّامَ الْمَاضِيَّةَ تَقُوْلُ غَدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ "فَارْجِعْنَا نَعْمَلُ صَالِحًا" فَيُقَالُ: يَا أَحْمَقُ أَنْتَ مِنْ هُنَا تَجِيءُ (الإمام الغزالي، أيها الولد)

Jika kamu tidak beramal dengan ilmumu hari ini, dan tidak memperbaiki hari yang telah lewat, maka besok pada hari kiamat kamu akan berucap, “Kembalikanlah kami ke dunia, maka kami akan berbuat amal kebaikan.” Kemudian dijawab, “Wahai tolol, kamu baru saja datang dari sana.”
  
اَلْقَلْبُ هُوَ الَّذِي إِذَا عَرَفَهُ الْإِنْسَانُ فَقَدْ عَرَفَ نَفْسَهُ، وَإِذَا عَرَف نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ، وَهُوَ الَّذِي إِذَا جَهِلَهُ الْإِنْسَانُ فَقَدْ جَهِلَ نَفْسَهُ، وَإِذَا جَهِلَ نَفْسَهُ فَقَدْ جَهِلَ رَبَّهُ (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين)

Keadaan hati apabila seseorang mengenalnya dengan baik maka ia benar-benar dapat mengenali dirinya sendiri. Jika ia dapat mengenali dirinya sendiri maka ia dapat mengenali Tuhannya. Keadaan hati apabila seseorang tidak mengenalnya dengan baik, maka ia bodoh terhadap dirinya sendiri. Jika ia bodoh terhadap dirinya sendiri maka dia bodoh terhadap Tuhannya.
 
اِجْعَلِ الْهِمَّةَ فِي الرُّوْحِ وَالْهَزِيْمَةَ فِي النَّفْسِ وَالْمَوْتَ فِي الْبَدَنِ، لِأَنَّ مَنْزِلَكَ الْقَبْرُ، وَأَهْلُ الْمَقَابِرِ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْكَ فِي كُلِّ لَحْظَةٍ مَتَى تَصِلُ إِلَيْهِمْ (الإمام الغزالي، أيها الولد)

Jadikan semangat yang luhur di dalam ruh, ketertundukan dalam hawa nafsu, dan kematian dalam jasad. Karena tempatmu adalah kubur. Sementara itu, penghuni kubur mengamatimu setiap saat, kapan kamu menyusul mereka.

اَلْكَلَامُ اللَّيِّنُ يَلِيْنُ الْقُلُوْبَ الَّتِي هِيَ أَقْسُ مِنَ الصُّخُوْرِ، وَالْكَلَامُ الْخَشْنُ يُخَشِّنُ الْقُلُوْبَ الَّتِي هِيَ أَنْعَمُ مِنَ الْحَرِيْرِ (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين)

Tutur kata yang lembut dapat melunakkan hati meskipun sebelumnya hati itu lebih keras daripada batu. Tutur kata yang kasar dapat mengeraskan hati meskipun sebelumnya hati itu lebih lembut daripada sutera.

اَلسَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ، وَالشَّقَاوَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ تَمْلِكُهُ نَفْسُهُ (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين)

Seluruh kebahagiaan adalah apabila seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya, dan seluruh kesengsaraan adalah apabila hawa nafsunya telah mengendalikannya.

قَالَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ : أَهْلُ الصَّبْرِ عَلَى ثَلَاثَةِ مَقَامَاتٍ، أَوَّلُهَا تَرْكُ الشَّهْوَةِ وَهَذِهِ دَرَجَةُ التَّائِبِيْنَ. وَثَانِيْهَا: اَلرِّضَا بِالْمَقْدُوْرِ وَهَذِهِ دَرَجَةُ الزَّاهِدِيْنَ. وَثَالِثُهَا: اَلْمَحَبَّةُ لِمَا يَصْنَعُ بِهِ مَوْلَاهُ وَهَذِهِ دَرَجَةُ الصِّدِّيْقِيْنَ (الإمام الغزالي، إحياء علوم الدين)

Sebagian ahli ma’rifat berkata, “Orang yang sabar itu memiliki tiga tingkatan. Pertama, meninggalkan hawa nafsu dan ini adalah tingkatan orang-orang yang bertobat. Kedua, ridha dengan takdir dan ini adalah tingkatan orang-orang yang zuhud. Ketiga, menyukai apa saja yang akan diperbuat oleh Allah kepadanya dan ini adalah tingkatan shiddiqin.” 

logoblog

Selasa, 05 April 2022

Uban Rasulullah Saw.


“Maka tetaplah kamu dalam jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Hud: 112)

Ayat ini turun hingga membuat uban Nabi saw. cepat tumbuh. Melihat perubahan yang ada di rambut Nabi Saw, Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau telah beruban.” Rasulullah Saw bersabda, “Surah Hud, surah Al-Waqi’ah, surah Al-Mursalat, surah ‘Amma Yatasa’alun, dan surah Idzasy Syamsu Kuwwirat, menyebabkan aku beruban.” (HR. Tirmidzi)

Ayat ini adalah perintah istiqamah. Nabi sendiri merasakan beratnya istiqamah. Maka tak heran, beliau selalu memikirkan umatnya karena istiqamah akan memberatkan mereka.

"Karena beratnya istiqamah," tulis Al-Bajuri dalam Al-Mawahib Al-Ladunniyah, "Nabi saw mengetahui bahwa umatnya susah untuk melaksanakan perintah yang berat itu. Beliau memikirkan keadaan mereka dan akibat yang terjadi pada mereka."

Imam Nawawi memaknai istiqamah sebagai ketetapan di dalam ketaatan. Sehingga pengertian istiqamah sendiri adalah seseorang senantiasa berada di dalam ketaatan dan di atas jalan yang lurus di dalam menjalankan ibadah kepada Allah.

"Sementara surah-surah yang lain mengandung penjelasan tentang orang-orang yang selamat dan celaka, keadaan hari kiamat. Begitu besar cintanya kepada umatnya, beliau sedih karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang akan menimpa mereka. Inilah yang membuat Nabi saw merasa lemah hingga cepat beruban," tulis Al-Bajuri.

Akan tetapi, karena Nabi saw memiliki hati yang lapang dan cahaya keyakinan yang melipur hatinya, hal-hal yang mencemaskan itu tidak menguasai dirinya sehingga hanya sedikit rambut beliau yang beruban supaya beliau tetap tampak elok, agung, dan berwibawa.

Dalam riwayat Tirmidzi, Ibnu Umar mengatakan bahwa uban Rasulullah hanya sekitar 20 lembar. Sementara menurut Anas bin Malik, tidak lebih dari 14 lembar uban yang tumbuh di kepala dan jenggot Rasulullah.
logoblog

Jumat, 19 November 2021

Keindahan Fisik Rasulullah Saw.



Sebagai seorang muslim kita pasti merindukan Rasulullah Saw. Kita pun berupaya menghadirkan sosok beliau dalam bayangan kita. Untuk itu, upaya yang bisa kita lakukan adalah membaca riwayat-riwayat sahabat dan mencari penjelasan seperti apa detail fisik dan rupa beliau.

Kita membayangkan fisik Nabi Saw. menurut penuturan para sahabat. Keterangan mereka tentang rupa Nabi Saw. tidak sampai menggambarkan yang sejatinya. Lagi pula, mendengar kabar tentang seseorang tidak sama dengan melihat dengan mata kepala sendiri. Kendati demikian, riwayat-riwayat itu berperang penting dalam memberi petunjuk yang lebih dekat.

Salah satu penuturan detail ciri fisik Nabi Saw. adalah dituturkan oleh Ali bin Abi Thalib, “Rasulullah tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang di antara kaumnya. Rambutnya tidak keriting dan tidak pula lurus kaku, tetapi ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip, wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. Beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai pusat. Telapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan beliau turun ke tempat yang rendah. Bila beliau berpaling, maka seluruh badannya ikut berpaling. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian.” (HR. Tirmidzi) (Asy-Syamail, Imam Tirmidzi)

Dalam riwayat lain, Hind bin Abu Halah melukiskan keadaan Rasulullah Saw., “Rasulullah Saw. seorang yang berjiwa besar dan berwibawa. Wajahnya cerah bagaikan di malam purnama. Beliau lebih tinggi dari orang yang pendek, dan lebih pendek dari orang yang tinggi. Beliau berjiwa pelindung. Rambutnya bergelombang. Apabila beliau menyisir rambutnya, maka dibelahnya menjadi dua. Bila tidak, maka ujung rambutnya tidak melampaui daun telinga. Rambutnya disisir dengan rapi sehingga tampak selalu bersih. Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit yang terpisah. Di antara keduanya terdapat urat yang tampak kemerah-merahan ketika marah. Hidungnya mancung, di puncaknya ada cahaya yang memancar, hingga orang yang tidak mengamatinya akan mengira puncak hidungnya lebih mancung. Janggutnya tebal, kedua pipinya mulus, mulutnya lebar (serasi dengan bentuk wajahnya), giginya renggang teratur rapi, bulu dadanya halus, lehernya mulis dan tegak bagaikan leher kendi. Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja, badannya berisi, perut dan dadanya sejajar, dadanya bidang, jarak antara kedua baunya lebar dan tulang persendiannya besar. Badannya yang tidak ditumbuhi rambut tampak bersih bercahaya. Dari pangkal leher sampai ke pusat tumbuh bulu yang tebal bagaikan garis. Kedua susu dan perutnya bersih selain yang disebut tadi. Kedua hasta, bahu, dan dada bagian atas berbulu halus. Kedua ruas tulang tangannya panjang, telapak tangannya lebar. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang, lekukan telapak kakinya tidak menempel ke tanah. Kedua kakinya licin sehingga air pun tidak menempel. (HR. Tirmidzi) (Asy-Syamail, Imam Tirmidzi)

Kemudian, Anas bin Malik menceritakan perawakan Nabi Saw., “Rasulullah bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan pula lurus kaku.” (HR. Tirmidzi) (Asy-Syamail, Imam Tirmidzi)

Selain itu, riwayat lain datang dari para sahabat yang menggambarkan kebagusan Rasulullah Saw.. Al-Barra berkata, “Rasulullah Saw. adalah sebagus-bagus manusia parasnya.” (HR. Tirmidzi)

Aisyah berkata, “Kalau Rasulullah Saw. sedang gembira, bagaikan belahan bulan purnama wajahnya.” (HR. Tirmidzi)

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Saw. berkulit putih, seakan-akan terbentuk dari perak dan rambutnya ikal bergelombang. (HR. Tirmidzi)

Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah Saw. mempunyai gigi seri yang renggang. Bila beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar dari antara kedua gigi serinya itu.” (HR. Tirmidzi)

Pada suatu bulan purnama, Jabir bin Samurah sempat memandang Nabi Saw. yang saat itu berpakaian warna merah, lalu berkata, “Aku bergantian memandang antara beliau dengan rembulan, ternyata bagiku beliau lebih indah daripada rembulan.” (HR. Tirmidzi)

Suatu ketika, seorang wanita (Ummu Ma’bad namanya) melihat Rasulullah Saw., tetapi wanita ini belum mengenalnya. Ia pun menceritakan hal itu kepada suaminya, “Aku melihat seorang lelaki, wajahnya tampan bercahaya, bagus serta rupawan.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Kata seorang wanita yang lain, “Aku pernah melakukan ibadah haji bersamaan waktunya dengan Rasulullah.” Dan ketika diminta untuk melukiskan keadaan nabinya itu, ia menjawab singkat, “Bagaikan bulan purnama yang sebagus dia belum pernah melihatnya.” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah riwayat-riwayat sahabat tentang ciri fisik Nabi Saw. Meski demikian, keterangan mereka tentang rupa Nabi tidak sampai menggambarkan yang sejatinya. Hal ini dikarenakan wajah beliau penuh keagungan, kewibawaan, sehingga tak ada yang berani menatap lama-lama wajah beliau. Karena itulah, yang bisa melukiskan detail wajah beliau adalah mereka yang saat kecil memiliki kedekatan dengan Nabi, seperti Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Hindun bin Abi Halah. 

Sesudah menghadap Nabi pertama kalinya, Amr bin Ash berkata, "Tak sanggup saya menatap wajahnya. Sekiranya orang bertanya kepadaku tentang keadaan beliau secara jelas, tentu tak mampu aku menceritakannya sebab mataku tak mampu melihatnya dengan sepenuhnya." (HR. Muslim)

Imam Al-Qurthubi berkata, “Tak mungkin tampak dengan jelas keindahan Nabi, sebab pengelihatan kita tak akan sanggup menatap wajahnya sepenuhnya.”

Karena keindahan rupa Nabi Saw., menurut Sayyid Alwi Al-Maliki dalam Muhammad Saw. Al-Insan Al-Kamil, dimahkotai dua perkara besar, yaitu wibawa yang penuh keagungan dan cahaya yang terang benderang.

Maka tentang keindahan Nabi Saw. penyair Imam Al-Bushiri berkata, “Siapa pun tak dapat menandingi keindahannya. Keindahan nan tunggal memang tak mungkin terbagi. 

Wallahu A'lam   

Lebo, 19 November 2021

   

logoblog

Selasa, 09 November 2021

Allah yang Tak Pernah Memanggil Langsung “Muhammad”

Di antara kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad adalah Dia tak pernah memanggilnya langsung “Muhammad.”

Di dalam Al-Qur’an, ketika Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, tidak seperti nabi-nabi lainnya, Dia senantiasa menyertakan kata “Nabi” atau “Rasul”, dan tidak menyebut namanya begitu saja. Perhatikan firman-Nya,

“Hai  Rasul...” (QS. Al-Maidah: 41)

“Hai Nabi...” (QS. Al-Anfal: 64)

Kalau pun hanya disebut Muhammad saja, pasti diiringi kata “Rasul” atau “Nabi”, perhatikan firman-Nya,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144)

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Hal ini tidak seperti nabi-nabi lainnya ketika Allah berfirman kepada mereka.

“Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini.” (QS. Hud: 76)

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu.” (QS. Hud: 46)

“(Hai) Yusuf, ‘Berpalinglah dari ini’,” (QS. Yusuf: 29)

Ini menunjukkan kedudukan mulia dan luhur Nabi Saw. di sisi Allah. Allah mengkhitabnya dengan penuh penghormatan yang tinggi karena tugas-tugas beliau yang membawa risalah dan kenabian. Dengan kemunculan beliau, risalah-risalah Allah menjadi sempurna, dan menjadi petunjuk atas kebenarannya.

Karena keluhuran Nabi Saw. sampai-sampai Allah menyematkan dua sifat-Nya hanya untuk beliau, dan tidak pernah terjadi pada nabi-nabi sebelumnya. Hal ini terdapat pada ayat,

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Dua sifat tersebut adalah “Ar-Ra`uf” dan “Ar-Rahim”. Dalam tafsirnya, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa yang dimaksud amat belas kasihan (Ar-Ra`uf) adalah sangat lemah lembut, sedang penyayang (Ar-Rahim) adalah sangat memiliki kasih sayang. Sementara dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa makna Ar-Ra`uf adalah sangat belas kasihan, dan Ar-Rahim adalah beliau selalu mengharapkan kebaikan bagi orang-orang mukmin.

Dua sifat amat belas kasihan lagi penyayang itu merupakan perwujudan paling tepat bagi semua profil singkat Nabi Saw. bahwa beliau adalah sosok penebar kasih sayang dan perdamaian.

Itulah Nabi Muhammad Saw., cahaya kebenaran yang menerangi kegelapan, yang hatinya penuh memancarkan kasih sayang dalam bentuk kesempurnaanya yang paling tinggi, yang tidak diutus Allah melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

 Lebo, 09 Sept 2021

   


logoblog

Kamis, 18 Mei 2017

Menyoal Pahala Bacaan Alquran untuk Mayit

Dalam masyarakat kita, ada tradisi membaca Alquran yang pahalanya  dihadiahkan kepada orang yang meninggal. Misalnya, membaca surah Yasin atau tahlil yang di dalamnya terdapat bacaan Alquran. Pertanyaannya apakah pahala membaca Alquran itu sampai kepada mayit?

Dalam mazhab Syafi’i ada dua pendapat mengenai terkirimnya pahala bacaan Alquran kepada mayit.
Pendapat pertama yang masyhur mengatakan bahwa pahala bacaan Alquran tidak sampai kepada mayit. Hal ini dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam al-Adzkar dan al-Minhaj Syarh Shahih Musim,

وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فَالْمَشْهُوْرُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِي أَنَّهُ لَا يَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيِّتِ

"Adapun bacaan Alquran menurut pendapat masyhur dari madzhab Syafi’i pahalanya tidak sampai pada mayit.”

Namun demikian, pendapat masyhur ini tidak mutlak. Karena dalam kitab-kitab madzhab syafi’i diterangkan sebaliknya, bahwa pahala bacaan Alquran terkirim ke mayit, dengan kondisi dan hal-hal tertentu. Inilah pendapat yang kedua.

Hal ini bisa kita pahami dari perkataan Imam Syafi’i dalam Kitab al-Umm,

وَأُحِبُّ لَوْ قُرِئَ عِنْدَ الْقَبْرِ وَدُعِيَ لِلْمَيِّتِ

“Aku menyukai jika dibacakan Alquran di samping kubur dan dibacakan doa untuk mayit.”

Imam Nawawi dalam Kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab juga menjelaskan,

نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلأَصْحَابُ قَالُوْا وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَهُ شَيْئٌ مِنَ الْقُرْآنِ وَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كَانَ أَفْضَلُ

“Imam Syafi’i menyatakan dan disepakati oleh ulama madzhabnya bahwa mereka berkata, ‘Disunahkan agar dibacakan sesuatu dari Alquran di sisi kuburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan Alquran di sisinya maka itu lebih utama.’”

Kemudian, penjelasan lebih detail terdapat dalam kitab Fath al-Wahab, Hasyiyatu al-Jumal, dan Hasyiyatul Bujairami,

أَمَّا الْقِرَاءَةُ فَقَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ : الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَصِلُ ثَوَابُهَا إلَى الْمَيِّتِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا : يَصِلُ وَذَهَبَ جَمَاعَاتٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ إلَى أَنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِ ثَوَابُ جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ مِنْ صَلَاةٍ وَصَوْمٍ وَقِرَاءَةٍ وَغَيْرِهَا ، وَمَا قَالَهُ مِنْ مَشْهُورِ الْمَذْهَبِ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إذَا قَرَأَ لَا بِحَضْرَةِ الْمَيِّتِ وَلَمْ يَنْوِ ثَوَابَ قِرَاءَتِهِ لَهُ ، أَوْ نَوَاهُ وَلَمْ يَدْعُ بَلْ قَالَ السُّبْكِيُّ : الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ الْخَبَرُ بِالِاسْتِنْبَاطِ أَنَّ بَعْضَ الْقُرْآنِ إذَا قُصِدَ بِهِ نَفْعُ الْمَيِّتِ نَفَعَهُ وَبَيَّنَ ذَلِكَ وَقَدْ ذَكَرْتُهُ فِي شَرْحِ الرَّوْضِ

“Adapun bacaan Alquran, Imam Nawawi dalam Syarh Muslim berkata, ‘Pendapat masyhur dari madzhab Syafi’i adalah bahwa pahala bacaan Alquran tidak sampai kepada mayit. Sedangkan sebagian ashab kami menyatakan sampai (pahalanya), dan kelompok-kelompok ulama berpendapat bahwa sampainya pahala semua ibadah kepada mayit, seperti shalat, puasa, bacaan Alquran dsb. Dan apa yang dikatakan sebagai pendapat masyhur di atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuk mayit, atau meniatkannya, dan tidak mendoakannya. Bahkan Imam as-Subuki berkata, “Yang menunjukkan atas hal tersebut (sampainya pahala bacaan Alquran) adalah hadis berdasarkan istinbath bahwa sebagian Alquran apabila ditujukkan dengan bacaannya maka akan bermanfaat bagi mayit. Dan di antara yang demikian telah aku jelaskan dalam Syarah al-Raudhah.”

Sehubungan dengan manfaat bacaan Alquran untuk mayit, maka dijelaskan dalam Hasyiyat al-Jumal,

وَالتَّحْقِيقُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ تَنْفَعُ الْمَيِّتَ بِشَرْطٍ وَاحِدٍ مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ إمَّا حُضُورُهُ عِنْدَهُ أَوْ قَصْدُهُ لَهُ ، وَلَوْ مَعَ بُعْدٍ أَوْ دُعَاؤُهُ لَهُ ، وَلَوْ مَعَ بُعْدٍ أَيْضًا

“Secara tahqiq bahwa bacaan Alquran memberikan manfaat bagi mayit degan memenuhi salah satu syarat dari tiga syarat yakni apabila dibacakan di hadapan (di sisi) orang mati, atau apabila diqashadkan (diniatkan/ditujukan) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh, atau mendoakan bacaannya untuk orang mati walaupun jaraknya jauh juga.”

Selain itu bebarapa syarat lain yang dipenuhi agar pahala bacaan Alquran sampai kepada mayit. Hal ini bisa dipahami dari Hasyiyat al-Bujairami,

(قَوْلُهُ : أَمَّا الْقِرَاءَةُ ) قَالَ م ر: يَصِلُ ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ لِلْمَيِّتِ إذَا وُجِدَ وَاحِدٌ مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ الْقِرَاءَةُ عِنْدَ قَبْرِهِ وَالدُّعَاءُ لَهُ عَقِبَهَا وَنِيَّتُهُ حُصُولُ الثَّوَابِ لَهُ

“Adapun pembacaan Alquran, Imam Ramli berkata, pahala bacaan Alquran sampai kepada mayit apabila telah ada salah satu dari tiga hal, membaca di samping kuburnya, mendoakan untuknya mengiringi pembacaan Alquran, dan meniatkan pahalanya sampai kepada orang mati.”

Untuk itu, Imam Nawawi dalam I’anah al-Thalibin menjelaskan bagaimana cara mendoakan mayit dengan meniatkan pahala bacaan Alqurannya,

فَالْاِخْتِيَارُ أَنْ يَقُوْلَ الْقَارِئُ بَعْدَ فِرَاغِهِ: اَللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُهُ إِلَى فُلَانٍ.

“Dan yang dipilih (qaul mukhtar) hendaklah seseorang setelah membaca Alquran berdoa, ‘Ya Allah, sampaikan kepada fulan pahala apa yang telah aku baca.’”

Lalu, bagaimana pahala bacaan Alquran untuk mayit apabila dikaitkan dengan ayat 39 surah an-Najm,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. an-Najm: 39)

Secara zahir ayat ini menjelaskan bahwa seseorang tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang diupayakan oleh dirinya sendiri. Karena itu, berdasarkan ayat ini dapat dikatakan bahwa bacaan Alquran yang dihadiahkan kepada mayit tidak dapat sampai karena bukan termasuk amal perbuatannya dan tidak pula dari hasil upayanya.

Dalam beberapa kitab fiqih mazhab syafi’i dikatakan bahwa ayat tersebut adalah ‘am. Ayat tersebut ditakhsis dengan beberapa hadis yang menjelaskan tentang doa dan sedekah yang pahalanya dihadiahkan buat mayit. Di antaranya,

إٍذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ (رواه مسلم عن أبي هريرة)

“Apabila manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu anak saleh yang mendoakannya, atau sedekah jariyah sesudah kepergiannya atau ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)

Berkaitan dengan ayat tersebut dalam Nail al-Authar Imam al-Syaukani menjelaskan,

إنَّ لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ لِغَيْرِهِ صَلَاةً كَانَ أَوْ صَوْمًا أَوْ حَجًّا أَوْ صَدَقَةً أَوْ قِرَاءَةَ قُرْآنٍ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْبِرِّ ، وَيَصِلُ ذَلِكَ إلَى الْمَيِّتِ وَيَنْفَعُهُ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ انْتَهَى وَالْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَجَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ أَنَّهُ لَا يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ ثَوَابُ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَذَهَبَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَجَمَاعَةٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إلَى أَنَّهُ يَصِلُ ، كَذَا ذَكَرَهُ النَّوَوِيُّ فِي الْأَذْكَارِ وَفِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ لِابْنِ النَّحْوِيِّ : لَا يَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ عِنْدَنَا ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ عَلَى الْمَشْهُورِ ، وَالْمُخْتَارُ الْوُصُولُ إذَا سَأَلَ اللَّهَ إيصَالَ ثَوَابِ قِرَاءَتِهِ ،

“Sesungguhnya bagi seseorang bisa menjadikan pahala amal perbuatannya untuk orang lain, seperti shalat, puasa, haji, sedekah, bacaan Alquran dan lain sebagainya, termasuk juga semua jenis amal kebaikan. Semua pahala amal kebaikan itu sampai kepada mayit dan memberikan manfaat kepadanya. Demikian menurut ahlus sunah wal jamaah. Sementara menurut qaul masyhur dari madzhab Syafi’i dan sebagian ashahbnya, pahala bacaan Alquran tidak terkirim kepada mayit. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, mayoritas ulama, dan mayoritas ulama madzhab Syafi’i, bahwa pahala bacaan Alquran terkirim kepada mayit. Demikian pula Imam Nawawi menjelaskannya dalam Al-Adzkar dan Syarah al-Minhaj li Ibni An-Nahwi bahwa menurut qaul masyhur pahala bacaan Alquran tidak sampai kepada mayit. Sedangkan menurut qaul mukhtar, pahala bacaan Alquran itu sampai kepada mayit apabila orang yang membacanya memohon kepada Allah agar pahala bacaannya sampai kepada mayit.”

Wallahu a’lam

Nur Alamsyah

logoblog

Minggu, 17 April 2016

Insan Sejati


Pagi ini saya beroleh cerita inspiratif yang saya kutip dari salah buku karya Syeikh Muhammad Al-Ghazali. Kisah ini beliau kutip dari Abdul Aziz Al-Istanbuli. Karena menarik kisah itu saya bagikan di blog ini.

Seorang ahli hadis bercerita tentang dirinya. Semasa kecil aku gemar mengumpulkan kepompong ulat sutera dan menyaksikan keluarnya kupu-kupu darinya pada musim semi. Usaha sang kupu-kupu utuk keluar dari kepompongnya sangat menarik perhatianku. Suatu hari, bapakku membawa gunting lalu aku menggunakannya untuk memotongi bulu kepompon yang menutupi kupu-kupu untuk membantunya keluar, tetapi tak lama kemudian ia justru mati.

Ketika itu ayahku berkata, “Wahai anakku ketika kupu-kupu berusaha keluar dari kepompong, ia menggunakan racun dari tubuhnya. Jika tidak mengeluarkannya, ia pasti mati. Begitu pun manusia, jika mereka berjuang mencapai apa yang diinginkan, mereka akan bertambah kekuatan dan tekadnya. Tetapi, jika apa yang diinginkannya itu dapat diraih tanpa perjuangan, mereka akan lemah dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari dirinya.

Di antara kebijaksanaan Allah, Dia tidak menempatkan hamba-hamba-Nya hidup di tengah lingkungan yang dengan sendirinya memberi kebaikan tanpa usaha. Dia menghidupkan mereka di tengah-tengah lingkungan yang mengharuskan mereka berjuang. Mereka tak akan pernah memetik hasil tanpa lebih dahulu berusaha.

Sebab hidup dalam suasana serba ada dan enak justru dapat membunuh bakat. Seseorang akan bergerak, bangkit, menggali potensi diri, meningkatkan produktifitas dan kreatifitas ketika merasakan adanya kesulitan yang menghimpitnya. Potensi diri akan tergali oleh adanya tantangan.

Untuk itu diperlukan kerja keras. Hidup tak sekedar berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Hidup menguji kita dengan beragam perjuangan untuk mendorong manusia agar menghadapi dan menaklukkannya.

Insan sejati adalah yang sanggup menanggung segala jenis kesulitan, dan tahu bahwa ia mesti menghadapi hidup dengan penuh kehati-hatian, bekerja keras dan cerdas, seraya memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dalam setiap langkah hidupnya.

Wa Allahu A’lam

Lebo, 17 April 2016

logoblog

Separuh Gelas Kopi

Akhir-akhir ini aku gemar minum kopi. Kegemaran ini kembali muncul lantaran cuaca dingin yang menambah nikmatnya ngopi. Musim penghujan belum beranjak. Tiap sore langit mendung. Lalu hujan. Dan malam ini hujan kembali turun disertai angin kencang. Tiap kali hujan aku selalu was-was. Meski saat hujan selalu meniupkan kenyamanan karena udara dingin, namun kegetiran selalu membuatku terjaga.

Hujan ini seharusnya terasa nikmat sambil minum kopi. Tapi tidak. Aku justru gelisah oleh kondisi rumah kontrakanku yang bocor. Aku khawatir bila tiba-tiba kamar yang ditempati si kecil dan istriku bocor sehingga mengganggu kenyamanan tidurnya.

Kuperhatikan kamar. Tidak bocor. Kutatap istriku yang pulas sambil memeluk si kecil. Betapa damai wajah keduanya. Aku pun kembali minum kopi. Kali ini aku tidak menuangkan kopi dalam cangkir, tapi dalam gelas. Sama saja rasanya. Tapi tidak menurut istriku. Kopi, katanya, lebih nikmat bila disajikan dengan cangkir. Makanya ia siapkan cangkir khusus untuk kopi. Dan racikan kopinya sungguh nikmat sekali.

Tapi malam ini kunikmati kopi dengan gelas ukuran sedang. Menjamurnya warung kopi tidak membuatku tergoda untuk ngopi di sana. Aku lebih suka ngopi di rumah ditemani istriku. Ada kenikmatan dan kepuasan tersendiri. Mungkin sebabnya satu cangkir kopi kami seruput bersama. Ia seperti saya, sama-sama penyuka kopi.

Kini, kopi itu tinggal separuh. Kupandangi gelas yang menyisahkan separuh kopi itu. Tiba-tiba aku teringat sebuah perumpamaan yang menarik. Kehidupan sehari-hari ini bagaikan gelas yang setengahnya berisi air, sedang separuhnya kosong. Kita tidak bisa menghukuminya bahwa ia penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya.

Ini terjadi pada manusia. Kita tak akan menemukan hidup mereka penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya. Tapi, setiap orang mempunyai jatah kebahagiaan dan kesedihan. Karena itu, seseorang merasa bahagia atau sedih sesuai dengan persepsinya kepada gelas itu. Jika ia melihat kepada separuhnya yang berisi air, ia akan bahagia dalam hidupnya. Jika ia melihat kepada separuhnya lagi yang kosong, ia akan berduka dalam hidupnya.

Menarik sekali perumpamaan ini. Ada keseimbangan dengan melihat satu sisi yang ‘ada’ untuk melenyapkan yang ‘tiada’ karena memang tidak ada. Dengan demikian, kita tidak seharusnya menyibukkan diri dengan mencari yang ‘tiada’ karena yang ‘ada’ masih utuh dan dimilikinya.

Maka sisa separuh kopi dalam gelas itu mengingatkanku bahwa tak ada yang kosong dan yang sia-sia dalam hidup ini. Maka tatkala jiwaku terdorong untuk mengeluh, aku segera mengingatkan diri bahwa hidup ini tidak sepenuhnya kosong, tapi separuhnya lagi dipenuhi air. Tak perlu mencemaskan yang hilang. Masih ada sisa yang berguna. Inilah caraku untuk mengusir kesedihan dan keluh kesah.

Hidup memang tidak memiliki satu warna. Hidup ini tak lain dari perputaran antara kebahagiaan dan kesedihan, suka dan duka, lempang dan sempit. Yang penting ketika seseorang ditimpa keadaan yang tidak menyenangkan jangan sampai putus hubungan dengan Allah. Jangan sampai patah harapan kepada pertolongan-Nya. Sebab, betapa daifnya manusia.

Malam ini rasanya ada yang berharga dari separuh gelas kopi yang tersisa itu. Memandang yang ‘ada’ akan mengantarkanku pada ketenangan hidup. Karena aku tak lagi repot-repot merisaukan yang ‘tiada’.

Lebo, 16 April 2016
logoblog

Sabtu, 16 April 2016

Belajar Tiada Henti

Salah satu kebahagiaan kita adalah niat baik terhadap apa yang ada di sisi Allah dan kita diberi taufik untuk memihaknya. Jika Allah menghendaki kita mendapat kebaikan, niscaya Dia memberi kita kecerdasan; membuat kita menyukai ilmu; membekali kita sikap waspada; menghiasi kita sifat kasih sayang; membuat kita kaya dengan merasa cukup dengan yang sedikit; dan membuat kita bisa melihat kekurangan diri sendiri.

Bertalian dengan ini Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki pada kebaikan, maka akan dipahamkan-Nya dalam masalah agama.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ilmu adalah pembebat terkencang bagi tetumpukan bahan-bahan pemerindah kehidupan. Di mana ilmu hadir, segala menjelma menjadi berkah yang mengalir. Berkah bagaikan manisan yang dibuat dari buah yang dihasilkan dari pohon iman. Ia adalah saripati yang legit, harum, lembut dari tanaman yang berakar, tumbuh dan mekar di hati seorang mukmin. Maka sebagaimana iman, berkah sangat berhajat pada ilmu.

Jika berkah adalah makanan, maka ilmu adalah vitamin yang menyehatkan badan. Jika berkah adalah kendaraan, maka ilmu adalah pemandu yang mengantarkan sampai ke tujuan. Jika berkah adalah buruan yang sulit ditangkap dan pandai meloloskan diri, maka ilmulah pengikatnya yang paling dapat dipegangi.

Oleh sebab itu, Islam meletakkan ilmu di atas segala-galanya. Ilmu menghidupkan hati dari kebutaan, menjadi cahaya mata dalam kegelapan, dan kekuatan tubuh dalam kelemahan. Dengan ilmu, kita dapat mengenal Allah dan membangun budi pekerti. Bahkan, seluruh aktivitas keilmuan dapat dikategorikan sebagai ibadah.

“Menuntut ilmu karena Allah,” kata Mu’adz bin Jabal, “adalah bukti ketundukan kepada-Nya. Mempelajarinya dari seorang guru adalah ibadah. Melangkah menuju majlisnya adalah pembuka jalan surga. Duduk di taman kajiannya adalah taman Firdaus. Membahasnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkannya adalah tasbih. Menyampaikan kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah kurban.”

Ilmu yang kita miliki akan membuat perbuatan dan ucapan kita lebih mengena. Setiap isyarat kita mengandung ilmu. Kita pun menjadi obat bagi orang yang berjalan menuju Allah, penolong bagi orang yang mencari bimbingan, sekutu kebenaran bagi orang yang jujur, dan gua perlindungan bagi orang yang ketakutan.

Tanpa ilmu dan pengetahuan kita tidak akan mengetahui siapa diri kita, siapa Allah, dan jalan untuk pulang kepada Allah. Bukankah Allah meminta kita beribadah kepada-Nya hanya berdasar ilmu, sebagaimana firman-Nya, Maka ilmuilah bahwa tiada Ilah selain Allah…. (Muhammad: 19)

Tentang ayat ini Syeikh Mutawali al-Sya’rawi berkata, “Sesungguhnya Allah tidak ridha apabila diibadahi dengan kebodohan. Maka Allah mewajibkan ilmu atas kita; dengan mengenal-Nya, menyembah-Nya, menaati-Nya, dan melaksanakan aturan-aturan-Nya di segenap kehidupan kita.”
Maka betapa berharganya ilmu bagi iman. Ilmu menjadi penopang dan penaung iman. Ilmu menjadi pengikat bagi semua kebaikan.

Al-Qur`an menyeru manusia agar tak putus-putus mencari ilmu. Dan katakanlah, “Tuhanku, tambahilah aku ilmu” (Thaha: 114). Bahkan wahyu-wahyu awal adalah ayat ilmu. Di Gua Hira, pada malam berlimpah berkah, turun ayat: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan pena. Mengajar kepada manusia apa yang tidak ia ketahui (al-‘Alaq: 1-5). Setelah itu turun ayat yang dibuka dengan sumpah Allah dengan pena.

Selanjutnya Rasulullah menegaskan pentingnya ilmu, seraya mengatakan bahwa mencari ilmu itu wajib (faridhah) bagi laki-laki dan perempuan. Rasulullah menghendaki kita untuk tidak menjauhi ilmu, bahkan memotivasi kita untuk mencari sebanyak-banyaknya. Karena, apabila sedikit pengetahuan yang kita miliki, terasa pahit hidup ini karena tak banyak masalah yang bisa kita selesaikan. Hidup jadi mundur dan terbelakang. Sebagai motivasi jika kita ingin sukses, ingatlah janji Allah. …Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (al-Mujadilah: 11)

Artinya, kalau kita ingin mengetahui tingkat kesuksesan kita, maka lihatlah sejauh mana kecintaan kita kepada ilmu. Maka tepatlah nasihat Umar bin Abdul Aziz ketika berkata, “Jadilah orang yang berilmu. Atau jadilah seorang pembelajar. Atau cintailah keduanya.”

Segala sesuatu dalam hidup ini serba kemungkinan, selalu berubah. Seiring waktu pasti usia bertambah tua, tubuh bertambah lemah, kebutuhan bertambah banyak, hingga masalah dan potensi konflik pun bertambah. Bagaimana mungkin kita menyikapi segala sesuatu yang selalu bertambah tanpa ilmu yang bertambah pula. Mari kita terus menerus memperbaiki diri. Kalau ilmu kita luas, maka akan seperti orang yang berada di puncak gunung, dia akan bisa melihat pemandangan di bawahnya lebih luas. Begitupun, orang yang luas ilmunya, ia akan lebih arif dan bijak dalam melihat kehidupan.

Atau seperti kapal selam di lautan yang dalam, walau dari sana sini air menekan, dia tak pernah kandas tenggelam. Begitupun, orang yang mengerti arti kehidupan dapat menyelami kehidupan ini dengan tenang, tidak panik.

Sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya seperti perahu di permukaan laut yang selalu terombang ambing ombak. Orang yang tidak berilmu tak bisa menyelami arti hidup, dalam kesenangan membabi buta, dalam kesedihan terpuruk dan putus asa.

Ciri-ciri orang yang kurang ilmu adalah hilangnya kearifan, misalnya menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatan otot atau amarah. Kalau semuanya berubah, tetapi ilmu kita tak berubah dan bertambah, maka seringkali yang bertambah adalah peningkatan emosi.

Betapa sering kita melihat orang-orang yang terpuruk karena kurang ilmunya. Walau dia mempunyai kedudukan, tetapi jika kemampuannya tidak sesuai dengan amanahnya, maka ia akan menjadi hina justru oleh kedudukannya itu.

Jika kita ingin mempunyai masa depan yang baik, maka kita harus mencintai belajar, setiap waktu harus sekuat tenaga menambah ilmu. Jadikan belajar kebutuhan kita. Mulailah kita tanamkan gemar membaca. Jangan putus asa jika otak tumpul dan akal kurang cerdas. Karena kadang seorang yang tumpul otaknya tapi tidak putus asa, lebih berhasil daripada seorang yang cerdas tapi pemalas. Kemudian, berkumpullah dengan orang-orang yang mencintai ilmu.

Jangan terhalang mencari ilmu karena merasa diri telah tua. Kalau kita sadari, akan lebih banyaklah seorang tua yang berpengalaman mendapat ilmu daripada anak-anak yang hanya mendapat ilmu karena untuk dihafal. Ilmu yang dipelajari di waktu kecil, dihafal, dan diperhatikan sungguh-sungguh barulah diketahui rahasianya dengan yakin setelah umur tua.

Tekadkan dalam hati, “Setiap hari saya harus bertambah ilmu. Saya harus mencari uang lebih banyak agar saya bisa menambah ilmu. Saya harus meluangkan waktu untuk mencari ilmu. Saya harus membebaskan diri saya dari belenggu kebodohan dengan mendapatkan ilmu.”

Mari kita merenungkan sebait syair untuk memotivasi kita dalam mencari ilmu,

تَعَلَّمْ فَإِنَّ الْعِلْمَ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ ¤ وَفَضْلٌ وَعُنْوَانٌ لِكُلِّ مَحَامِدِ
وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةٌ ¤ مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِي بُحُوْرِ اْلفَوَائِدِ

Belajarlah, karena ilmu itu hiasan bagi pemiliknya
Ilmu adalah keutamaan dan tanda orang yang terpuji
Jadikanlah dirimu bermanfaat, setiap hari bertambah ilmu
Arungilah samudra faedah

Jika telah berbekal ilmu, maka siaplah kita berenang mengarungi samudra kefaedahan. Berenang di air membuat badan kita menjadi basah. Cipratan-cipratan karena gerakan saat di air akan membasahi orang lain. Analogi ini menggambarkan bahwa kita dapat meningkatkan kefaedahan bagi diri sendiri, dan cipratan-cipratan kita juga akan meningkatkan kefaedahan bagi orang lain. Maka semulia-mulia manusia adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain.

Wa Allah a’lam
logoblog

Minggu, 29 September 2013

Yang Kecil dan Sederhana Tak Akan Sia-sia



Lihatlah bagaimana orang besar itu ketika menghargai karya orang lain. Perkara kecil dan tak penting pun jadi perhatiannya. Tak soal ia merasa buang-buang waktu untuk membacanya sekalipun karya sederhana.

Lihatlah ucapan Abdul Wahab Muthawi’, kala bercerita tentang dirinya dan Abbas Mahmoud Aqad,

“Aku membaca dengan rutin sejak aku memutuskan pilihan jalan hidupku. Aku membaca karena ingin mendapat ilmu baru. Dari membaca aku ingin mendapat jawaban atas persoalan yang membingungkan. Aku membaca karena aku merasa enjoy. Aku selalu ingat ucapan adib besar Abbas Mahmoud Aqad tatkala berkata, ‘Tidak ada buku yang aku baca kemudian aku tidak mengambil manfaat darinya. Hingga buku sederhana dan tak penting pun aku dapat mengambil manfaat darinya. Aku jadi tahu bagaimana pola pikir penulis dan bagaimana cara menuliskannya.’”

Luar biasa! Seorang penulis besar masih sempat-sempatnya menghargai karya orang lain meskipun kecil dan sederhana. Tak ada niat menyepelekan dan meremehkannya.

Jadi, mari kita menghargai setiap karya orang lain. Sekalipun yang tak penting dan sederhana, mari kita apresiasi dengan baik. Barangkali kita bisa menemukan pelajaran dari setiap apa yang ditulisnya. Karena siapa tahu kita menemukan hikmah di dalamnya.

Sikap bijak Abbas Mahmoud Aqqad tersebut semakin mengukuhkan betapa beruntungnya orang yang senantiasa memperkaya pikiran dan hatinya dengan senantiasa menyantap buku untuk kebutuhan sehari-hari. Saya jadi ingat pesan bijak yang disampaikan Komaruddin Hidayat dalam sebuah bukunya,

“Pada buku, banyak kalimat, kata, hingga deretan huruf-huruf. Semua itu adalah ayat-ayat Tuhan. Tuhan, karena meliputi segala sesuatu, Dia pun senantiasa hadir pada setiap sesuatu, termasuk pada setiap buku. Maka dari itu, kebiasaan membaca buku bagai benjana yang tidak pernah usai menampung setiap informasi (ayat-ayat) dari Tuhan.”

Lebo, 9 September 2013
logoblog

Sabtu, 20 Juli 2013

Masalah Murid-muridku

Ketika melihat perilaku anak didikku, terutama yang saya ajar, saya jadi bertanya-tanya, apa benar sudah separah ini dekandansi moral anak-anak zaman sekarang?

Anak didik yang saya hadapi sekarang, kata seorang teman, masih mendingan. Artinya, moral mereka masih bisa ditata, diperbaiki dan diarahkan. Jika kondisi ini dibilang masih lumayan, saya tak habis pikir bagaimana situasi pendidikan di luar sana. Pendidikan non berbasis pesantren yang hanya berkutat pada ruang lingkup sekolah? Yang masak bodoh jika anak sudah di luar jam sekolah?

Sejujurnya, saya selalu bersedih hati kalau saya sebagai pengajar belum bisa mengarahkan anak-anak untuk perubahan yang lebih baik. Perubahan ke arah positif itulah sejatinya yang menunjukkan keberhasilan dalam mendidik. Menata moral anak tidak bisa dilakukan barang dua tiga tahun. Tapi butuh proses panjang. Dan yang penting, butuh keteladanan untuk mengubah perilaku mereka.

Ya, keteladanan. Saya kira saya masih dalam kategori sebagai pengajar. Saya akui, saya belum bisa totalitas dalam memberi keteladanan di hadapan murid-murid saya. Belum bisa dikatakan sepenuhnya sebagai pendidik! Mengajar beda dengan mendidik. Kata Gus Ali, orang yang kurang didik beda dengan orang yang kurang ajar.

Dan saya sendiri merasa belum totalitas mendidik mereka karena minimnya keteladanan yang saya berikan. Maka saya tidak bisa menyalahkan mereka apabila saya habis nuturi mereka, sesudah melakukan hal-hal yang ganjil, nasihat saya tidak dihiraukan, hingga membuka peluang mereka untuk kembali berbuat tidak baik.

Kenapa dakwah Rasulullah mudah diterima masyarakat kala itu. Saya pikir kuncinya adalah keteladanan dan etika yang mulia. Hampir semua yang pernah diucapkan oleh Rasulullah selalu dibarengi dengan amal nyata. Rasulullah tidak sekedar dakwah bil maqal, tapi mengajak dan mencontohi para sahabatnya dengan perilaku-perilaku yang mulia. Rasulullah mengajarkan jika bahasa perilaku lebih diterima daripada bahasa lisan. Karena itu, perkataan yang sesuai dengan perbuatan itulah yang membuhulkan keteladanan sehingga dakwah Rasulullah mudah diterima dan merasuk ke dalam kalbu. Orang-orang pun tanpa ragu menerima dakwah beliau.

Keteladanan dan etika mulia ini apabila melekat pada seorang pendidik, saya kira akan mudah bagi mereka untuk mengubah pola pikir dan perilaku menyimpang anak didik. Anak didik butuh keteladanan! Jika seorang pendidik mengatakan kalau X itu salah, kemudian memberi contoh dengan tidak pernah melakukan X, maka itulah indikasi kalau sang pendidik pantas untuk digugu lan ditiru.

Saya kira kalau misalnya seorang pendidik konsisten dengan yang salah itu salah lalu menjauhinya, kemudian menjelaskan ke anak didiknya kalau yang telah diperbuatnya itu tidak benar, saya yakin lambat laun anak didik akan menyadari bahwa yang salah itu tidak baik untuk dikerjakan lagi. Selalu dan tak bosan-bosan memberi pemahaman dan nasihat. Apalagi, jika nasihat dan pemahaman itu disampaikan terus menerus, ditambah keteladanan seorang pendidik, saya kira anak-anak akan berpikir, mulai mengintropeksi diri, perlahan-lahan akan terjadi perubahan dalam diri mereka.

Mengubah karakter anak didik bukanlah mustahil, tapi yang perlu ditekankan adalah proses panjang untuk melakukannya. Untuk itu, urgensi akhlak yang mulia seyogyanya senantiasa ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini. Bukankah ulama-ulama zaman dulu, dimana kebesaran dirinya selain ilmu yang dimilikinya, juga karena akhlaknya yang mulia? Sampai-sampai mereka mengakui untuk mendidik dirinya dengan akhlak yang mulia mereka menghabiskan masa yang sangat lama daripada menuntut ilmu itu sendiri.

Dalam suatu riwayat, Imam Malik bin Anas, pendiri Madzhab Maliki, menghabiskan waktu selama enam belas tahun untuk mempelajari adab, dan empat tahun untuk mencari ilmu. Ini artinya, beliau memposisikan akhlak pada posisi penting yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Riwayat tentang Imam Malik di atas juga dialami oleh Imam Syafi`i dengan kondisi yang berbeda. Suatu ketika, beliau ditanya oleh seseorang, “Bagaimana engkau mencari (mempelajari) akhlak?” Dijawab oleh beliau, “Aku mencari adab seperti usaha seorang ibu yang mencari-cari anaknya yang hilang. Sementara ia tidak mempunyai orang lain selain anak itu.”

Dengan kata lain, kita bisa belajar dari Imam Syafi’i, betapa keras dan sungguhnya beliau memacu diri berhias akhlak. Maka sebagai pendidik, sangatlah tidaklah pantas jika merasa cepat capek, lelah dan putus asa untuk mengarahkan anak didik ke arah yang lebih baik. Karena mengingat pentingnya akhlak yang mulia sebagai bekal anak untuk masa depannya.

Jika menuntut ilmu adalah kewajiban dan bernilai ibadah, sudah sepantasnya nilai-nilai moral juga turut menghiasi para anak didik kita. Nilai-nilai moral ini harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana akhlak mereka dengan orang tua, dengan kiai, guru, sesama temannya dlsb. Karena itulah sebagai seorang pendidik, kita tidak boleh berhenti menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri mereka. Jadilah figur teladan untuk mereka! Dalam ungkapan lain, keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keaadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya dan lain sebagainya,

Tegasnya, di hadapan mereka kita harus mencontohkan perilaku-perilaku terpuji. Sebaik-baiknya orang yang mengajak kebaikan adalah yang telah mencontohkannya dengan perbuatan terlebih dahulu sebelum ucapannya.

Waallahu a’lam

logoblog

Minggu, 14 Juli 2013

Pentingnya Memberi

Ajaran Islam sangat menganjurkan agar berbuat baik kepada sesama. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kondisi harmoni dalam tatanan masyarakat. Ini pula yang melecut setiap muslim agar memiliki kesadaran untuk berbuat kebaikan walaupun kadarnya kecil. Karena setiap kebaikan adalah sedekah. Tentang hal ini Rasulullah saw. telah bersabda,

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ (رواه البخاري عن جابر بن عبد الله)

“Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dari Jabir bin Abdullah)

Ajaran Islam tidak semata-mata berfokus pada kesalehan personal. Kesalehan sosial juga memiliki peran penting karena sama-sama cermin dari keimanan. Iman yang kuat dan tulus akan dapat memproduksi perbuatan-perbuatan yang baik. Karena dalam laku terpuji, baik saat memberi pertolongan dan bantuan kepada sesama, tidak harus didasarkan pada prinsip perkawanan atau atas dasar kenal dan tidak. Agama menganjurkan umat Islam punya kesadaran memberi kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Dalam rangka memotivasi seseorang agar melakukan perbuatan baik, Rasulullah mengatakan bahwa perbuatan baik itu bernilai sedekah kalau dilandasi hati yang tulus dan ikhlas.

Motivasi dari sedekah adalah pembiasaan diri kita untuk memberi. Hal penting dalam memberi adalah tidak mengharapkan imbalan atau tidak berpamrih. Kita perlu membiasakan diri untuk memberi sesuatu dengan rasa welas-asih, tanpa syarat dan antusias. Dengan demikian, tindakan memberi akan membuat kita merasa berguna dan berharga di hadapan orang yang membutuhkannya. Hal ini akan meningkatkan makna hidup kita, bahwa hidup kita mempunyai arti bagi orang lain. 

Dinamika sosial harus kita bangun dengan kesadaran untuk memberi. Karena banyak manfaat saat memberi. Kita akan merasa berdaya, berhasil, dan bangga atas apa yang kita lakukan. Di samping itu dari sisi psikologi, kita memiliki kesehatan yang baik, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memperpanjang harapan hidup. Rasa aman akan kita rasakan dalam hidup kita, karena dengan memberi, kita merasa lebih terhubung dengan orang lain dan keterhubungan ini akan mengurangi rasa takut dan keterasingan. 

Yang penting dari memberi itu ada pemenuhan diri dan kebahagiaan. Jika kita sedang bersedih dan merasa hampa, lalu kita membuat orang lain gembira dan melakukan pekerjaan yang bermanfaat untuk orang lain, maka keadaan diri kita akan ikut terbawa ke arah yang positif. Energi positif dari memberi akan menarik simpati orang lain sehingga selain memperbanyak teman juga mempunyai hubungan sosial baru. Pada saat yang sama bersikap ramah dan memberikan senyuman kepada orang yang kita temui akan membuat kita merasa bahagia.

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tidak meremehkan kebaikan, salah satunya adalah senyuman, sebagaimana sabdanya,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ (رواه مسلم عن ابي ذر)

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun meskipun berupa senyuman terhadap saudaramu.” (HR. Muslim dari Abu Dzar)

Sesungguhnya, kita memiliki berbagai jalan untuk menanamkan kebaikan, melalui perbuatan langsung maupun tidak. Islam sangat memperhatikan perilaku baik seseorang. Untuk itu, kita tidak boleh meremehkan arti kebaikan yang kita lakukan, termasuk sikap ramah dan bermuka manis terhadap keluarga, saudara, sesama muslim, tetangga karena semua itu adalah kebaikan—kebaikan yang akan mendapat perkenan Allah dan manusia sekaligus.

Memang tampak sepele arti sebuah senyum yang kita berikan kepada orang lain, namun justru itu yang mendapat perhatian agama. Memberikan uang atau harta benda memang baik, tetapi memberikan diri kita sendiri, meski berupa senyuman, akan bernilai lebih besar. Paling tidak sekurang-kurangnya ucapan terima kasih ketika tak mampu membalas pemberian orang yang telah berjasa kepada kita.

Senyum yang kita berikan adalah cerminan hati. Maka memberi dengan cara apa pun biasanya lebih baik daripada sama sekali tidak memberi. Tapi, jika kita memberi dengan hati, inilah yang akan sangat berarti. Sang penerima akan merasakan ketulusan, kedalaman hubungan, dan dampaknya. Selain itu, kita juga bisa memberi dengan penuh hormat, salah satu caranya adalah dengan mendengarkan secara penuh perhatian sehingga orang lain akan merasa didukung, dimengerti, dan dihargai. 

Kita pun dianjurkan memberi sesuai dengan kadar kemampuan kita. Maka kita bisa memberi waktu dan uang sebagai sumber daya yang berharga, juga ilmu pengetahuan, keahlian, kearifan, perhatian, kepemimpinan, sentuhan, nasihat, harapan, tawa, atau pun cinta. Penting untuk dicatat, agar kita dapat merasakan kekuatan memberi yang sesungguhnya, hendaknya kita memberikan apa yang paling kita butuhkan. Kita juga perlu hidup dan memberi secara berimbang. Wujud pemberian yang termanifestasikan dalam cinta itu sesungguhnya akan kembali pada diri kita.

Di bulan Ramadhan ini hendaknya kita belajar untuk memberi dengan kerendahan hati. Hal ini dapat kita capai apabila dalam memberi kita bersikap welas-asih dan tidak menghakimi. Memberi dengan kadar yang kita sanggupi dan punyai adalah cara yang termudah untuk membiasakan diri. Bukankan Allah tidak membebankan diri seorang hamba-Nya kecuali yang disanggupinya? Islam bukan agama yang muluk; Islam agama yang sederhana, simpel dan praktis diamalkan penganutnya. Dengan begitu, diharapkan amal kebaikan penganutnya akan semakin banyak dan berlipat ganda. Lebih-lebih di bulan suci Ramadhan ini.

Wallahu’alam

logoblog