Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Minggu, 14 Juli 2013

Pentingnya Memberi

Ajaran Islam sangat menganjurkan agar berbuat baik kepada sesama. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kondisi harmoni dalam tatanan masyarakat. Ini pula yang melecut setiap muslim agar memiliki kesadaran untuk berbuat kebaikan walaupun kadarnya kecil. Karena setiap kebaikan adalah sedekah. Tentang hal ini Rasulullah saw. telah bersabda,

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ (رواه البخاري عن جابر بن عبد الله)

“Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR. Bukhari dari Jabir bin Abdullah)

Ajaran Islam tidak semata-mata berfokus pada kesalehan personal. Kesalehan sosial juga memiliki peran penting karena sama-sama cermin dari keimanan. Iman yang kuat dan tulus akan dapat memproduksi perbuatan-perbuatan yang baik. Karena dalam laku terpuji, baik saat memberi pertolongan dan bantuan kepada sesama, tidak harus didasarkan pada prinsip perkawanan atau atas dasar kenal dan tidak. Agama menganjurkan umat Islam punya kesadaran memberi kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Dalam rangka memotivasi seseorang agar melakukan perbuatan baik, Rasulullah mengatakan bahwa perbuatan baik itu bernilai sedekah kalau dilandasi hati yang tulus dan ikhlas.

Motivasi dari sedekah adalah pembiasaan diri kita untuk memberi. Hal penting dalam memberi adalah tidak mengharapkan imbalan atau tidak berpamrih. Kita perlu membiasakan diri untuk memberi sesuatu dengan rasa welas-asih, tanpa syarat dan antusias. Dengan demikian, tindakan memberi akan membuat kita merasa berguna dan berharga di hadapan orang yang membutuhkannya. Hal ini akan meningkatkan makna hidup kita, bahwa hidup kita mempunyai arti bagi orang lain. 

Dinamika sosial harus kita bangun dengan kesadaran untuk memberi. Karena banyak manfaat saat memberi. Kita akan merasa berdaya, berhasil, dan bangga atas apa yang kita lakukan. Di samping itu dari sisi psikologi, kita memiliki kesehatan yang baik, meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memperpanjang harapan hidup. Rasa aman akan kita rasakan dalam hidup kita, karena dengan memberi, kita merasa lebih terhubung dengan orang lain dan keterhubungan ini akan mengurangi rasa takut dan keterasingan. 

Yang penting dari memberi itu ada pemenuhan diri dan kebahagiaan. Jika kita sedang bersedih dan merasa hampa, lalu kita membuat orang lain gembira dan melakukan pekerjaan yang bermanfaat untuk orang lain, maka keadaan diri kita akan ikut terbawa ke arah yang positif. Energi positif dari memberi akan menarik simpati orang lain sehingga selain memperbanyak teman juga mempunyai hubungan sosial baru. Pada saat yang sama bersikap ramah dan memberikan senyuman kepada orang yang kita temui akan membuat kita merasa bahagia.

Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tidak meremehkan kebaikan, salah satunya adalah senyuman, sebagaimana sabdanya,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ (رواه مسلم عن ابي ذر)

“Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun meskipun berupa senyuman terhadap saudaramu.” (HR. Muslim dari Abu Dzar)

Sesungguhnya, kita memiliki berbagai jalan untuk menanamkan kebaikan, melalui perbuatan langsung maupun tidak. Islam sangat memperhatikan perilaku baik seseorang. Untuk itu, kita tidak boleh meremehkan arti kebaikan yang kita lakukan, termasuk sikap ramah dan bermuka manis terhadap keluarga, saudara, sesama muslim, tetangga karena semua itu adalah kebaikan—kebaikan yang akan mendapat perkenan Allah dan manusia sekaligus.

Memang tampak sepele arti sebuah senyum yang kita berikan kepada orang lain, namun justru itu yang mendapat perhatian agama. Memberikan uang atau harta benda memang baik, tetapi memberikan diri kita sendiri, meski berupa senyuman, akan bernilai lebih besar. Paling tidak sekurang-kurangnya ucapan terima kasih ketika tak mampu membalas pemberian orang yang telah berjasa kepada kita.

Senyum yang kita berikan adalah cerminan hati. Maka memberi dengan cara apa pun biasanya lebih baik daripada sama sekali tidak memberi. Tapi, jika kita memberi dengan hati, inilah yang akan sangat berarti. Sang penerima akan merasakan ketulusan, kedalaman hubungan, dan dampaknya. Selain itu, kita juga bisa memberi dengan penuh hormat, salah satu caranya adalah dengan mendengarkan secara penuh perhatian sehingga orang lain akan merasa didukung, dimengerti, dan dihargai. 

Kita pun dianjurkan memberi sesuai dengan kadar kemampuan kita. Maka kita bisa memberi waktu dan uang sebagai sumber daya yang berharga, juga ilmu pengetahuan, keahlian, kearifan, perhatian, kepemimpinan, sentuhan, nasihat, harapan, tawa, atau pun cinta. Penting untuk dicatat, agar kita dapat merasakan kekuatan memberi yang sesungguhnya, hendaknya kita memberikan apa yang paling kita butuhkan. Kita juga perlu hidup dan memberi secara berimbang. Wujud pemberian yang termanifestasikan dalam cinta itu sesungguhnya akan kembali pada diri kita.

Di bulan Ramadhan ini hendaknya kita belajar untuk memberi dengan kerendahan hati. Hal ini dapat kita capai apabila dalam memberi kita bersikap welas-asih dan tidak menghakimi. Memberi dengan kadar yang kita sanggupi dan punyai adalah cara yang termudah untuk membiasakan diri. Bukankan Allah tidak membebankan diri seorang hamba-Nya kecuali yang disanggupinya? Islam bukan agama yang muluk; Islam agama yang sederhana, simpel dan praktis diamalkan penganutnya. Dengan begitu, diharapkan amal kebaikan penganutnya akan semakin banyak dan berlipat ganda. Lebih-lebih di bulan suci Ramadhan ini.

Wallahu’alam

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar