![]() |
Sebagai seorang muslim kita pasti merindukan Rasulullah Saw. Kita pun berupaya menghadirkan sosok beliau dalam bayangan kita. Untuk itu, upaya yang bisa kita lakukan adalah membaca riwayat-riwayat sahabat dan mencari penjelasan seperti apa detail fisik dan rupa beliau.
Kita membayangkan fisik Nabi Saw. menurut penuturan para sahabat. Keterangan mereka tentang rupa Nabi Saw. tidak sampai menggambarkan yang sejatinya. Lagi pula, mendengar kabar tentang seseorang tidak sama dengan melihat dengan mata kepala sendiri. Kendati demikian, riwayat-riwayat itu berperang penting dalam memberi petunjuk yang lebih dekat.
Salah satu penuturan detail ciri fisik Nabi Saw. adalah dituturkan oleh Ali bin Abi Thalib, “Rasulullah tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang di antara kaumnya. Rambutnya tidak keriting dan tidak pula lurus kaku, tetapi ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip, wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. Beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai pusat. Telapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan beliau turun ke tempat yang rendah. Bila beliau berpaling, maka seluruh badannya ikut berpaling. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian.” (HR. Tirmidzi) (Asy-Syamail, Imam Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Hind bin Abu Halah melukiskan keadaan Rasulullah Saw., “Rasulullah Saw. seorang yang berjiwa besar dan berwibawa. Wajahnya cerah bagaikan di malam purnama. Beliau lebih tinggi dari orang yang pendek, dan lebih pendek dari orang yang tinggi. Beliau berjiwa pelindung. Rambutnya bergelombang. Apabila beliau menyisir rambutnya, maka dibelahnya menjadi dua. Bila tidak, maka ujung rambutnya tidak melampaui daun telinga. Rambutnya disisir dengan rapi sehingga tampak selalu bersih. Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit yang terpisah. Di antara keduanya terdapat urat yang tampak kemerah-merahan ketika marah. Hidungnya mancung, di puncaknya ada cahaya yang memancar, hingga orang yang tidak mengamatinya akan mengira puncak hidungnya lebih mancung. Janggutnya tebal, kedua pipinya mulus, mulutnya lebar (serasi dengan bentuk wajahnya), giginya renggang teratur rapi, bulu dadanya halus, lehernya mulis dan tegak bagaikan leher kendi. Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja, badannya berisi, perut dan dadanya sejajar, dadanya bidang, jarak antara kedua baunya lebar dan tulang persendiannya besar. Badannya yang tidak ditumbuhi rambut tampak bersih bercahaya. Dari pangkal leher sampai ke pusat tumbuh bulu yang tebal bagaikan garis. Kedua susu dan perutnya bersih selain yang disebut tadi. Kedua hasta, bahu, dan dada bagian atas berbulu halus. Kedua ruas tulang tangannya panjang, telapak tangannya lebar. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang, lekukan telapak kakinya tidak menempel ke tanah. Kedua kakinya licin sehingga air pun tidak menempel.” (HR. Tirmidzi) (Asy-Syamail, Imam Tirmidzi)
Kemudian, Anas bin Malik menceritakan perawakan Nabi Saw., “Rasulullah bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan pula lurus kaku.” (HR. Tirmidzi) (Asy-Syamail, Imam Tirmidzi)
Selain itu, riwayat lain datang dari para sahabat yang menggambarkan kebagusan Rasulullah Saw.. Al-Barra berkata, “Rasulullah Saw. adalah sebagus-bagus manusia parasnya.” (HR. Tirmidzi)
Aisyah berkata, “Kalau Rasulullah Saw. sedang gembira, bagaikan belahan bulan purnama wajahnya.” (HR. Tirmidzi)
Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Saw. berkulit putih, seakan-akan terbentuk dari perak dan rambutnya ikal bergelombang. (HR. Tirmidzi)
Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah Saw. mempunyai gigi seri yang renggang. Bila beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar dari antara kedua gigi serinya itu.” (HR. Tirmidzi)
Pada suatu bulan purnama, Jabir bin Samurah sempat memandang Nabi Saw. yang saat itu berpakaian warna merah, lalu berkata, “Aku bergantian memandang antara beliau dengan rembulan, ternyata bagiku beliau lebih indah daripada rembulan.” (HR. Tirmidzi)
Suatu ketika, seorang wanita (Ummu Ma’bad namanya) melihat Rasulullah Saw., tetapi wanita ini belum mengenalnya. Ia pun menceritakan hal itu kepada suaminya, “Aku melihat seorang lelaki, wajahnya tampan bercahaya, bagus serta rupawan.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Kata seorang wanita yang lain, “Aku pernah melakukan ibadah haji bersamaan waktunya dengan Rasulullah.” Dan ketika diminta untuk melukiskan keadaan nabinya itu, ia menjawab singkat, “Bagaikan bulan purnama yang sebagus dia belum pernah melihatnya.” (HR. Tirmidzi)
Demikianlah riwayat-riwayat sahabat tentang ciri fisik Nabi Saw. Meski demikian, keterangan mereka tentang rupa Nabi tidak sampai menggambarkan yang sejatinya. Hal ini dikarenakan wajah beliau penuh keagungan, kewibawaan, sehingga tak ada yang berani menatap lama-lama wajah beliau. Karena itulah, yang bisa melukiskan detail wajah beliau adalah mereka yang saat kecil memiliki kedekatan dengan Nabi, seperti Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Hindun bin Abi Halah.
Sesudah menghadap Nabi pertama kalinya, Amr bin Ash berkata, "Tak sanggup saya menatap wajahnya. Sekiranya orang bertanya kepadaku tentang keadaan beliau secara jelas, tentu tak mampu aku menceritakannya sebab mataku tak mampu melihatnya dengan sepenuhnya." (HR. Muslim)
Imam Al-Qurthubi berkata, “Tak mungkin tampak dengan jelas keindahan Nabi, sebab pengelihatan kita tak akan sanggup menatap wajahnya sepenuhnya.”
Karena keindahan rupa Nabi Saw., menurut Sayyid Alwi Al-Maliki dalam Muhammad Saw. Al-Insan Al-Kamil, dimahkotai dua perkara besar, yaitu wibawa yang penuh keagungan dan cahaya yang terang benderang.
Maka tentang keindahan Nabi Saw. penyair Imam Al-Bushiri berkata, “Siapa pun tak dapat menandingi keindahannya. Keindahan nan tunggal memang tak mungkin terbagi.
Wallahu A'lam
Lebo, 19 November 2021

Tidak ada komentar:
Posting Komentar