Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Selasa, 09 November 2021

Allah yang Tak Pernah Memanggil Langsung “Muhammad”

Di antara kemuliaan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad adalah Dia tak pernah memanggilnya langsung “Muhammad.”

Di dalam Al-Qur’an, ketika Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, tidak seperti nabi-nabi lainnya, Dia senantiasa menyertakan kata “Nabi” atau “Rasul”, dan tidak menyebut namanya begitu saja. Perhatikan firman-Nya,

“Hai  Rasul...” (QS. Al-Maidah: 41)

“Hai Nabi...” (QS. Al-Anfal: 64)

Kalau pun hanya disebut Muhammad saja, pasti diiringi kata “Rasul” atau “Nabi”, perhatikan firman-Nya,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144)

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Hal ini tidak seperti nabi-nabi lainnya ketika Allah berfirman kepada mereka.

“Hai Ibrahim, tinggalkanlah soal jawab ini.” (QS. Hud: 76)

“Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu.” (QS. Hud: 46)

“(Hai) Yusuf, ‘Berpalinglah dari ini’,” (QS. Yusuf: 29)

Ini menunjukkan kedudukan mulia dan luhur Nabi Saw. di sisi Allah. Allah mengkhitabnya dengan penuh penghormatan yang tinggi karena tugas-tugas beliau yang membawa risalah dan kenabian. Dengan kemunculan beliau, risalah-risalah Allah menjadi sempurna, dan menjadi petunjuk atas kebenarannya.

Karena keluhuran Nabi Saw. sampai-sampai Allah menyematkan dua sifat-Nya hanya untuk beliau, dan tidak pernah terjadi pada nabi-nabi sebelumnya. Hal ini terdapat pada ayat,

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Dua sifat tersebut adalah “Ar-Ra`uf” dan “Ar-Rahim”. Dalam tafsirnya, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa yang dimaksud amat belas kasihan (Ar-Ra`uf) adalah sangat lemah lembut, sedang penyayang (Ar-Rahim) adalah sangat memiliki kasih sayang. Sementara dalam Tafsir Jalalain disebutkan bahwa makna Ar-Ra`uf adalah sangat belas kasihan, dan Ar-Rahim adalah beliau selalu mengharapkan kebaikan bagi orang-orang mukmin.

Dua sifat amat belas kasihan lagi penyayang itu merupakan perwujudan paling tepat bagi semua profil singkat Nabi Saw. bahwa beliau adalah sosok penebar kasih sayang dan perdamaian.

Itulah Nabi Muhammad Saw., cahaya kebenaran yang menerangi kegelapan, yang hatinya penuh memancarkan kasih sayang dalam bentuk kesempurnaanya yang paling tinggi, yang tidak diutus Allah melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.

 Lebo, 09 Sept 2021

   


logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar