Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 22 April 2022

Menjadi Sosok yang Bertakwa

Sebutir kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang yakin dan takwa lebih unggul daripada segudang ibadah yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan tertipu.

Kita akan memasuki sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan. Sepuluh hari terakhir adalah hari-hari yang sangat penting. Beberapa hadis Nabi menyebutkan, pada hari-hari ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir ini ada momen yang sangat penting yang dikenal dengan Lailatul Qadar.

Ada baiknya bila kita merenung kembali dan menyegarkan ingatan kita, mengenai tujuan dan makna ibadah puasa yang sedang kita jalani selama ini. Tujuan puasa, sebagaimana disebut dalam surah Al-Baqarah ayat 183 adalah supaya kita bertakwa,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183)

Dengan mudah dikatakan, kalau kita tidak menjadi bertakwa, maka seluruh ibadah puasa kita telah sia-sia. Sekadar mengingatkan, inti takwa selain menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, adalah mengingat Allah, sehingga terbentuk kesadaran mendalam pada diri kita bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita. Allah Mahahadir. Dia bersama kita, di mana pun kita berada. Sebagaimana firman-Nya,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌۭ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

Karena kita selalu sadar bahwa Allah senantiasa hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan melakukan sesuatu yang tidak mendapatkan ridha Allah. Oleh karena itu, takwa mempunyai korelasi positif dan langsung dengan budi pekerti luhur. Takwa harus melahirkan akhlakul karimah. Apabila tidak ada tanda-tanda akhlak karimah pada diri kita, maka patut dipertanyakan, seberapa jauh kita menjadi bertakwa. Mengenai takwa dan akhlak mulia ini, Rasulullah Saw. pernah bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ، فَقَالَ: تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ،(رواه الترمذي)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang perkara yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.” (HR. Tirmidzi)

Puasa adalah ibadah yang paling pribadi. Jika ibadah-ibadah lain tampak oleh mata, maka tidak demikian dengan puasa. Seseorang mengerjakan shalat atau tidak, bisa kita ketahui. Kita juga bisa tahu, seseorang membayar zakat atau tidak. Tetapi, tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar puasa atau tidak, kecuali diri kita sendiri dan Allah. 

Karena puasa sifatnya paling personal, maka dari sanalah benih-benih ketakwaan dilatih. Apabila kita telah berniat puasa, kemudian menderita lapar dan haus, namun kita tidak mencuri untuk makan atau minum, meskipun kita sedang sendirian, maka dari sini kita mulai melihat adanya permulaan dari takwa itu. Yaitu, kita tidak tergoda untuk mencuri makan dan minum, karena kita tahu Allah melihat kita. Karena itulah puasa memberikan efek pendidikan kejujuran. Jujur kepada Allah, kemudian jujur kepada diri sendiri. 

Puasa, dengan demikian, adalah ibadah yang sangat ruhani. Sangat spiritual. Karena puasa yang rahasianya sifatnya personal, maka efek puasa tidak selamanya bisa dilihat secara langsung. Efeknya adalah efek ruhani. Justru karena efeknya di bidang ruhani, maka kebaikan yang diakibatkan puasa akan melimpah ruah.

Sesungguhnya pahala puasa tidak bergantung pada kadar kelaparan dan kehausan. Pahala puasa tergantung pada sikap jiwa. Dalam hadis disebutkan sebagai sikap jiwa imanan wa ihtisaban. Yaitu, penuh kepercayaan kepada Allah dan penuh perhitungan kepada diri sendiri (introspeksi).
Rasulullah Saw. bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري)

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman kepada Allah dan penuh introspeksi, maka seluruh dosanya di masa lalu akan diampuni oleh Allah. (HR. Bukhari)

Begitu pula dosa itu tidak tergantung pada rasa lapar dan haus, melainkan kepada imanan wa ihtisaban. Maka dari itu, marilah kita jalani ibadah puasa ini dengan penuh percaya kepada Allah bahwa Dia menghendaki kebaikan bagi kita. Oleh karena itu, selama berpuasa kita dianjurkan memperbanyak itikaf, bersedekah, membaca Alquran, shalat tarawih, dan amalan-amalan kebajikan lainnya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, marilah kita merenungkan satu hadis Rasulullah Saw.,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ
فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa orang itu meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Marilah kita jaga agar kualitas puasa kita betul-betul menjadi lebih baik di sisa penghujung Ramadhan ini. Jangan sampai panas setahun hilang oleh hujan sehari. Jangan sampai kualitas baik puasa kita sebelumnya lewat terhapus begitu saja oleh kesalahan kita baik ucapan maupun perbuatan. Marilah kita tingkatkan amal kebajikan kita di penghujung Ramadhan ini, seraya mengharapkan ridha Allah, dan berharap kita dipertemukan kembali Ramadhan pada tahun mendatang. 

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar