
om tedi dan istri di bandara menjelang kepulangannya (foto: hamdoen)
selalu ada yang pergi, selalu ada yang tersisa di hati. kau yang pergi, selalu kembalilah namamu…
Deretan kata itu saya tulis di acount twitter-ku sehari Om Tedi dan sekeluarga—dan juga saat terpikirkan Kholis yang hampir sebulan—pulang meninggalkan Mesir. Kalimat itu merupakan luapan kegelisahan hati saya sehabis mengantarkan kepulangan seorang kawan karib setelah sekian tahun di sini. Ya, tiapkali menyaksikan kepulangan seorang teman, selalu ada yang tersisa di hati. Saat ini, tekanan rasa itu begitu mengusik sehingga wilayah psikologisku acap terganggu.
Saya mulai akrab sama Om Tedi ketika sama-sama aktif nerjemah di Tanwir sejak 2006. Saling bahu-membahu menyelesaikan proyek terjemah. Saling berbagi ketika terjemah tak sanggup diselesaikan sendiri. Om Tedi menjabat sebagai pimpinan Tanwir, mengatur dealnya terjemah dengan pihak penerbit di Indonesia, mengkoordinasi mencari buku, sekaligus memutuskan jumlah fee yang harus diterima dari pihak penerbit.
Saya belajar terjemah dari Om Tedi. Belajar kesabaran darinya bagaimana meniti jalan menjadi penerjemah; belajar membantu menghidupi teman-teman lain lewat terjemah dengan naskah yang dibagi bersama. Belajar tentang arti kebersamaan bagaimana kita harus mencicipi kesengsaraan dan kesenangan bersama ketika pada saat-saat tertentu dua hal tersebut silih berganti menghampiri kita.
Om Tedi pula yang menuntunku menjadi penerjemah profesional. Saya ingat bagaimana dia sedikit demi sedikit membagikan naskah terjemah kepada saya untuk kemudian diedit dengan tekun dan sabar. Saya akhirnya mafhum, terjemah tidaklah mudah, cenderung berat karena menguras tenaga. Tapi dari yang berat tidak selamanya menyimpulkan ketidakenakkan. Saya pun, karena terjemah, terbiasa menulis sehingga kemampuan nulis sedikit terasah sekaligus, secara tidak langsung, saya menjadi editor.
Adapun Kholis adalah teman seangkatan saya. Sama-sama angkatan 2002. Usianya setahun lebih tua dari saya. Sudah menikah, dan, seperti Om Tedi, punya anak dua. Banyak kenangan yang mengisi hari-hari saya di Mesir ini bersama Kholis, terutama sebelum pacaran sama Lathifah, istrinya sekarang. Sejak menjadi anak baru yang masih tinggal di Kattamea kala itu, bahu-membahu melaksanakan tugas panitia di ikamaru, memilih saya satu tim dengannya saat bermain bola... Bahkan saya paham betul kisah romantisnya. Serta sederet kisah lain bagaimana bobroknya ikamaru saat di bawah kepemimpinannya.
Terlalu banyak kenangan bersama Kholis yang hendak saya tuliskan dalam blog ini. Tapi saya tak sanggup untuk menuliskannya dengan detail. Tiba-tiba kenangan itu hadir kembali, dan tiba-tiba ada sedih di hati. Saya tak sanggup....
Apalagi sekarang saya hidup dalam sepi. Dan ketika mendengar khabar mereka akan pulang, sebenarnya timbul rasa ketidakrelaan sehingga saya perlu mencegahnya agar mereka tidak beranjak terlebih dahulu meninggalkan saya. Pinginya selalu ada kebersamaan seperti dulu-dulu. Tapi hidup adalah sederet alur yang terus maju. Apalagi kita hidup di negeri orang yang tak selamanya akan menetap di sini. Apalagi letupan rindu kepada keluarga, kampung halaman, tanah air tercinta, sudah tak terbendung lagi. Maka pulang adalah konsekuensi dari kesemua itu setelah segala daya dan upaya tercurah di negeri ini dengan segala duka maupun sukanya.
Saya percaya bahwa akan selalu ada yang datang ketika yang pergi terlanjur meninggalkan saya. Menjadi pengganti setelah ketiadaan karena ditinggal pulang. Tapi yang pergi, dengan segala kenangannya terutama saat lebur dalam kebersamaan, senantiasa menyisakan kehampaan buat diri saya. Bahwa ada yang lepas, seolah-olah kenangan itu terurai kembali dari diri teman yang pulang dan kembali nampak nyata di mata saya. Saya pun, mau tak mau berhenti sejenak menengok ke belakang, kembali mengenang dari yang pernah ada, dan karena itu selalu ada yang tak beres dalam pikiran saya.
Mungkin inilah sisa-sisa yang selalu ada ketika teman-teman pulang. Maka dari itu sebisa mungkin saya menghindari foto-foto yang pernah merekam kebersamaan itu bersama mereka. Apalagi saat ini jika saya mendengar kata “pulang” yang terlontar dalam bentuk pertanyaan kepada kawan yang sudah menyelesaikan studinya di sini, rasanya ada yang berdesir di hati. Tiba-tiba saya ingin pulang. Itu saja persoalannya. Tapi pulang bagi saya sekarang ini tidaklah mudah. Tidak seperti tiga tahun yang lalu setelah tamat s-1 ketika tiket masih ada.
Silih berganti teman-teman satu almamater pulang meninggalkan Mesir. Selalu ada kenangan, dan selalu ada yang sepesial di antara mereka lantaran kadar keakraban yang saya rasakan. Om Tedi dan Kholis adalah teman yang paling akrab dalam pergaulan saya. Maka jangan ditanya bagaimana sedihnya hati ini kala mengantarkan mereka pulang. Meskipun saya tahu bahwa perpisahan itu selalu ada dalam hidup ini karena ada pertemuan sebelumnya. Inilah hidup. Selalu ada yang pergi dan yang datang. Kita pun bakal kehilangan. Mau tak mau saya siap kehilangan.(*)
Kattamea, 1 Nopember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar