Situasi di sebuah kafe (google.com)
Jika Anda akrab dengan novel-novel karya Naguib Mahfuoz, maka Anda akan menemukan bagaimana sang adib tidak bisa lepas dari kafe yang dijadikan setting dalam ceritanya. Semisal novel Zuqaq al-Miqad, yang dengan bagus memotret kaum kelas menengah-bawah, kafe justru menjadi gambaran penting bagaimana masyarakat Mesir sangat akrab dengan dunia kafe.
Ya, kafe merupakan tempat yang spesial bagi orang Mesir. Bahkan ada yang mengatakan, jika Anda sudah berkunjung ke Mesir namun tidak menyempatkan diri untuk mampir di kafe, sekedar duduk-duduk ngobrol sambil menyeruput syai atau—bagi yang merokok—menghisap syisya rasanya kunjungan itu kurang afdhal.
Kafe-kafe itu saya jumpai di pinggir-pinggir jalan terutama kawasan ramai pengunjung. Di kawasan al-Azhar misalnya, saya menjumpai sekitar empat kafe. Dari kafe yang elit dimana tempatnya bersih, hingga kafe sya’biyah untuk kalangan masyarakat kelas menengah-bawah.
Untuk kalangan atas kafe-kafe yang tersedia memang tampak bersih. Ruangannya cukup nyaman dan tidak sepenuhnya terbuka. Selain bagi kalangan yang berduit, kafe ini juga diperuntukkan bagi para wisatawan asing. Kafe-kafe jenis ini bisa saya temukan di kawasan wisata depan masjid Husain. Bahkan kafe ini menyediakan tempat duduk santai terbuka di luar kafe. Saya sering menjumpai para turis duduk santai, ngobrol sambil menyeruput teh, menghisap syisya, atau makan-makan.
Banyak sekali kafe-kafe kelas mewah. Terutama di daerah perkotaan atau kawasan elit di Kairo. Di daerah pinggiran Sungai Nil misalnya, saya sering menjumpai sejumlah kafe. Kafe yang terletak di pinggiran Nil merupakan kafe yang strategis. Karena kafe-kafe itu menyediakan tempat santai sambil menikmati indahnya pemandangan Sungai Nil. Jangan tanya berapa harga minuman dan makanan di kafe-kafe elit itu, pasti sangat mahal. Saya hanya tahu kafe-kafe itu dari luar, dan melihat potongan orang-orang yang berkunjung tampaknya mereka berkelas.
Saya hanya punya pengalaman mengunjungi kafe-kafe yang kelas sya’biyah. Saya baru tahu dari beberapa tulisan jika kafe yang biasa dikunjungi oleh “kaum kecil” itu disebut sya’biyah. Biasanya ciri dari kafe sya’biyah adalah tempatnya terbuka. Agak kotor dan penataan tempatnya tidak teratur. Ciri lainnya adalah kursi-kursinya yang selain berada di dalam kafe juga mengambil tempat di luar kafe.
Setahu saya, pengunjung kafe-kafe sya’biyah adalah kaum lelaki. Di sana suasana gaduh amat terasa. Suara yang keras saat mereka berbicara, tertawa ngakak, serta kepulan asap rokok dan syisya yang menyemburkan bau menyengat. Di kafe itu biasanya disediakan beragam permaian, seperti kartu remi, permainan yang mirip catur (saya kurang tahu apa namanya), dll. Kabarnya kafe-kafe sya’biyah ini buka selama 12 jam.
Kunjungan saya ke kafe sya’biyah adalah karena ingin menonton pertandingan sepakbola Eropa terutama Liga Champion. Seperti Kamis malam kemarin saat nonton pertandingan antara Milan vs Real Madrid yang berakhir 2 - 2. Memang salah satu daya tari kafe-kafe di Mesir adalah adanya tivi kabel selain jenis permaian tadi. Tivi kabel inilah yang menyemarakkan suasa kafe. Apalagi kalau ada pertandingan yang melibatkan tim-tim elit sepakbola Mesir seperti Ahli atau Zamalek, pasti suasan kafe semakin seru!!
Nah, karena ingin melihat Liga Champion yang mempertemukan klub-klub besar, saya biasanya menonton di kafe kelas sya’biyah. Saat nonton bola di kafe ini memang tidak gratis. Namun biaya yang saya keluarkan hanya tergantung pada minuman yang saya pesan. Saat berada di kafe ini saya sering mengamati dunia malam kaum lelaki Mesir. Ada yang asyik bermain kartu remi, asyik mengobrol, merokok sebebas-bebasnya, dan ada yang asyik dengan dunianya sendiri sambil menghisap syisya.
Bila saya perhatikan sangat edan orang Mesir saat merokok. Seolah-olah kafe adalah surga bagi yang doyan rokok dan syisya. Kepulan asap rokok dan syisya dengan bau yang menyegat, kadang membuat saya tak tahan di berada kafe saat nonton bola. Bahkan yang kadang saya tak habis pikir, pada jam-jam kerja, saya sering menjumpai banyak kaum lelaki dengan santainya berada di kafe minum teh sambil ngisap syisa, ngelamun, bermain kartu atau mainan yang mirip catur tadi. Lantas bagaimana mereka mencukupi kebutuhan keluarga mereka?!
Kafe-kafe memang sangat akrab bagi masyarakat Mesir. Naguib Mahfouz sendiri, konon sebelum berangkat ke kantor, selalu menyempatkan mampir dulu di kafe untuk sekedar minum kopi dan membaca koran. Bahkan ada sejumlah novel yang ditulis di kafe. Bahkan banyak juga tokoh-tokoh intelektual dan sastrawan yang mengadakan majlis ilmiah di kafe-kafe.
Rasanya kali waktu saya kepingin pergi ke kafe yang memberikan suasana nyaman, sambil minum kopi dan nyisya... (*)
Kattamea, 5 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar