
Pelataran Masjid Al Azhar (foto: google.com)
Agak berat menuliskannya. Pada sore tadi, sehabis ashar. Pada keramaian senja dan pada kesunyian. Dan, seperti yang dulu-dulu, yang sunyi pun melindas yang meriah dan yang ramai. Di tengah keramaian itu, aku bagai kapas yang diterjang angin, tak berdaya terombang-ambing mengikuti desaunya.
Suasana di kawasan Darasah tadi sore memang ramai. Hari ini, hari kedua tasyrik, adalah hari libur. Di mana-mana kujumpai orang Mesir mengisi hari liburan bersama keluarga. Terutama di Hadiqah Al Azhar, di kawasan Darasah dan Husain--dekat kompleks Universitas Al Azhar.
Kali ini aku tidak tertarik bercerita tentang orang Mesir dengan segala kemeriahannya pada hari libur idul adha. Tapi aku ingin bercerita tentang kenangan. Tentang masa silam yang menyisakan kenangan di Masjid Al Azhar. Kenangan itu seperti halnya masa lalu Masjid Al Azhar yang menyisakan goresan sejarah. Kenangan itu, meskipun pilu bila mengingatnya, tapi tetap perlu untuk kukenang. Dan karenanya aku perlu menuliskannya.
Ini hanya cerita tentang peristiwa yang lekat di masa lalu. Gambaran masa lalu itu langsung akrab tatkala kaki melangkah masuk Masjid Al Azhar. Entah di bagian mana aku perlu berhenti sejenak untuk mengenang masa lalu itu. Apakah kenangan tentang kemasygulan dan kecemasan tatkala meneruskan sisa-sisa belajar semalam di pelataran Masjid Al Azhar satu jam sebelum masuk ujian, seolah-olah materi ujian yang sudah kupelajari sebulan belum memuaskan? Atau kisah tentang kemurungan yang sedikit demi sedikit sirna apabila berada dalam kesendirian di zawiyah masjid? Atau kisah tentang bimbingan belajar bersama adik-adik perempuan tercinta kala menjelang ujian?
Semua punya catatan tersendiri. Dan entah kenapa, tiap kali berada di Masjid Al Azhar, kenangan tentang bimbingan belajar itu terus melekat hingga kini. Ini bukan cerita bagaimana ikhlasnya aku membimbing mereka hingga mereka memahami materi ujian. Tapi ini cerita tentang kebodohanku. Entah bagaimana kala itu aku menuruti saja kemauan mereka. Kukira aku yang cuma bisa menuruti keinginan mereka adalah karena aku ingin dekat dan tahu saja tentang perempuan. Karena itulah cerita tentang kenangan ini selalu hadir kembali tatkala aku mampir atau melewati Masjid Al Azhar.
Bila aku mengingat masa-masa semangat memberi bimbingan belajar sampai-sampai di Masjid Al Azhar, rasanya bikin malu saja. Bayangkan, di pelataran masjid itu aku berduaan dengan cewek, dengan satu buku yang dibaca bersama. Bayangkan, banyak orang lalu lalang di masjid itu. Tentu tatapan mereka sesekali mampir ke arah kami. Makanya kadang saat bimbingan aku sering menebarkan pandangan ke semua arah untuk melihat siapa saja yang menatap arah kami. Kadang agak malu juga lebih-lebih jika ada teman yang aku kenal. Tapi gimana lagi, kala itu aku tidak mudah mengatakan tidak saat diminta membimbing mereka. Adik-adik perempuan yang kubimbing itu sekarang, menurut kabar yang kudengar, alhamdulillah, sukses dan bahagia.
Dan sore tadi, ketika aku jauh-jauh dari Kattamea hanya karena ingin menghapal Al Qur`an di Masjid Azhar, atau membuang pusing lantaran hidupku yang sangat suntuk dan membosankan, deretan kenangan itu kembali muncul. Sulit menepisnya meskipun aku berada di tengah keramaian. Aku seolah-olah hadir di duniaku sendiri dengan segala kenangan itu. Bahkan aku sulit menepis ketidakkonsentrasiku dalam menghapal Al Qur`an.
Ironisnya, kondisi demikian membuat pikiranku semakin kacau. Aku hampir stres karenanya. Di tengah keramaian sore tadi aku ngomel sendiri. Entah kepada siapa amarah ini hendak kutumpahkan. Aku hanya bisa mengutuki diri sendiri. Menolol-nololkan diri karena pilihan hidup. Tentang kemelaratan dan pengangguran. Tentang kegagalan dan kerendahdirian. Tentang gambaran masa depan yang hilang. Tentang kesepian. Juga tentang pertanggungjawaban. Semua campur-aduk jadi satu dalam pikiran. Makanya seharian tadi rasanya ingin marah melulu. Aku ingin menjauh, tapi tempat apa lagi di sini yang bisa kujangkau, sekedar melepas penat, lelah dan jenuh.
Ya Allah, usiaku masih muda tapi aku merasa lelah dengan hidup ini. Yang kutakutkan saat ini adalah jika segala anugerah-Mu padaku aku sia-siakan begitu saja. Segala yang kupelajari di sini hilang sia-sia tak berguna. Aku ingin segera meninggalkan negeri ini, ya Allah. Tapi entahlah, hari-hari ini aku tak tahu cara untuk segera pergi dari sini. Aku hanya bisa berikhtiar, sembari berdoa kepada-Mu, semoga karunia rezeki bisa mencukupi untuk beli tiket. Aku lelah, sungguh lelah, segala daya yang kulakukan telah sirna dan hilang sia-sia.
Ini keluhan yang kesekian kali. Di zawiyah Masjid Al Azhar sore tadi, segala keluhan seperti ini seharusnya sedikit meringankan bebanku. Tidak seperti dulu-dulu, selain deretan kenangan yang sulit kutampik kehadirannya, di zawiyah itu juga merusak konsentrasiku meghapal Qur`an. Karena itu, saat-saat begini aku sangat merindukan suasan yang jernih dan tenang hingga pikiran dan hatiku bekerja baik. Suasana itu tak lagi kutemukan di sini. Yang kurasakan hanya bosan, jenuh, pusing, sepi, sembari memaki-maki diriku kenapa sampai hati memilih jalan hidup yang ujung-unjungnya aku kehilangan bahagia. Ya, bahagia, sesuatu yang kudamba, dan entah kapan aku benar-benar bahagia.[]
Kattamea, 18 Nopember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar