Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Selasa, 16 November 2010

Aku Apa Adanya


Melihat diriku yang masih diperkenankan untuk bernafas, bagiku rasanya tak dapat ditawar-tawar untuk mengatakan “siapa aku ini”. Ini harus diketahui, sebab aku tak mau abai memberi kesaksian tentang diriku. Sudah lama aku hidup bersama orang-orang sezamanku, namun kutemukan ekspresinya dalam fakta bahwa aku tidaklah untuk didengar dan dipercaya.

Barangkali aku telah melakukan apa yang sering kusebut sebagai ‘dosa sosial’. Karena siapa pun pasti diajari untuk mendahulukan yang sosial. Sering aku bertanya, apalah sosial itu kalau bukan individu plus individu? Bukankah menjelajahi diri berarti mengetahui di mana tempat berpijak di dunia ini? Bukankah berkubang di tengah-tengah yang sosial adalah yang personal?

Aku hanya perlu berbicara dengan siapa pun di antara orang-orang yang masih bersedia menganggapku orang yang waras. Di sini bukan orang bijak yang berbicara. Dan bukanlah kenaifan bagi siapa pun yang berusaha ingin memahamiku. Dalam kondisi ini sudah menjadi kewajibanku untuk mencurahkan apa adanya. Sebab aku tak ingin menobatkan dusta. Hal yang ingin kubuktikan ialah menghapus dusta dalam diriku. Dusta senantiasa akan menjadi kutukan hidupku.

Adalah suatu kebanggaan bila aku dapat mengidealkan dari apa yang mungkin disukai orang. Aku masih butuh pengalaman untuk sebuah pencarian atas segala sesuatu yang asing dan masih dipertanyakan eksistensinya. Dari pengalaman ini kuberharap bisa menemukan asal-usul berbeda, dari apa yang mungkin disukai orang. Setiap penyelidikan dari pengalaman adalah langkah ke depan dan keberanian untuk mendapatkan pengetahuan yang memuaskan. Ini bagiku bisa menjadi ukuran yang riil tentang sebuah nilai. Dan, keyakinanku yang paling ideal tentang nilai itu adalah kebenaran. Sebab apa yang sampai saat ini yang sulit kuungkapkan berdasarkan prinsip bukanlah apa-apa, kecuali kebenaran itu sendiri.

Kuingin diriku bermakna bagi siapa pun yang masih mempedulikanku. Aku bukanlah sosok yang ditakuti, bukan pula monster moral yang mengerikan. Aku adalah sebuah hakikat antitesis bagi manusia yang sampai sekarang ini dihargai sebagai orang yang terhormat. Di antara mereka, diriku rasanya lebih senang dan puas. Seperti itulah bagian dari kebanggaan hidupku.

Keberuntungan eksistensiku terletak pada netralitas. Kebebasan dari segala ikatan dalam hubungannya dengan problem total kehidupan, menjadikanku agak sedikit berbeda. Aku mengecap hal-hal yang baik dalam cara pandang orang-orang yang pernah dekat denganku. Aku pun sampai sekarang belum menemukan tanda-tanda bahwa seseorang berkehendak mencelakaiku. Sebab aku belum pernah memahami seni membangkitkan permusuhan dengan orang-orang yang tak sehaluan denganku. Manusia yang bijak dan berpengetahuan harus mampu mencintai musuh-musuhnya.

Ini pun aku berhutang banyak pada orang-orang yang pernah menasehatiku, memperingatkanku, dan membimbing jalan hidupku. Tak tahu bagaimana aku harus melunasinya. Aku harus tidak siap jika aku ingin menjadi tuan atas diriku sendiri. Aku sangat percaya bila diriku berkewajiban untuk menaruh cinta terhadap sesama dan mengabaikan diri sendiri. Tapi ini masih kuhitung sebagai kekeroposan dan ketidakberdayaan diriku.

Aku sama sekali tak dapat memahami sejauh mana aku harus merasa ‘berdosa’. Demikian pula, aku tak punya sebuah kriteria yang dapat diandalkan tentang ‘kesadaran’. Di sini, aku telah membentangkan kecerobohan yang fatal pada diriku sendiri. Ini otomatis membuatku menyimpang jauh dari naluri dan kerendahan hatiku, hingga aku lalai akan tugas-tugas yang seharusnya kupikul.

Aku tak ingin kehilangan sebuah harapan. Aku sangat menghargai dan merindukan tanda-tanda kehidupan baru, dan selalu siap melahirkan apa pun yang bisa kulahirkan. Demi ketertarikan emosional atas harapan ini, sesegera mungkin kubentangkan perjalanan panjang sekaligus melelahkan. Hingga kumerasakan langit sudah menjelma menjadi selimut, dan bumi sebagai kasur sutra yang mendekap jiwaku mesra dan penuh kesabaran. Sampai kapan pun aku akan terus berusaha, agar senyum manis itu terkulum lagi di bibirku.[]

2005
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar