Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Selasa, 20 April 2010

Mengarungi Sungai Nil Menuju Qanathir (2)

Teman-teman sibuk menyiapkan diri turun dari kapal. Nampak wajah mereka kusut karena kantuk dan kelelahan. Ketahanan tubuh di musim panas terkadang membuat kita cepat merasa lemas dan capek. Apalagi bila saya melihat kebiasaan teman-teman yang jarang sarapan pagi. Artinya, sejak pagi tadi banyak teman-teman yang belum sarapan, dan karena itu mempengaruhi kondisi fisik mereka.

Kapal berlabuh di Qanathir tepat jam satu. Dengan demikian, perjalanan kami dari Tahrir menuju Qanathir melewati Sungai Nil kira-kira tiga jam. Sementara masih menunggu beberapa penumpang turun dari kapal, saya mengecek dan mengemasi seluruh barang yang kami bawa. Adapun barang bawaan kami sebagai panitia apalagi jika bukan konsumsi. Sudah menjadi tradisi almamater kami jika konsumsi tak pernah ketinggalan kalau ada acara kumpul bareng seperti sekarang ini. Iuran ditanggung bersama untuk keperluan acara tersebut hingga urusan konsumsi.

Karena masih waktu zuhur, saya mengajak teman-teman shalat dulu. Biar nanti kami bisa konsentrasi pada acara yang lumayan lama. Karena itulah, baru saja kaki kami mendarat di Qanathir, kami langsung menuju mushala. Shalat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipersilakan shalat dulu, sedangkan kelompok dua menunggu di luar mushala sambil menjaga barang bawaan panitia. Kemudian gantian kelompok pertama menunggu dan menjaga barang tersebut setelah mengerjakan shalat. Sekitar dua puluh menit kami menghabiskan waktu sejak tiba di Qanathir hingga selesai shalat di mushala.

Setelah shalat, kami teruskan perjalanan kami sembari mencari-cari tempat yang nyaman untuk berkumpul. Di samping kanan dan kiri jalan saya menjumpai beberapa kafe dan tempat hiburan. Biasanya, sejumlah pelayan berdiri di tepi jalan seraya menyapa pengunjung lalu menawarkan sebuah tempat hiburan. Kadang-kadang ulah mereka agak menjengkelkan terutama kepada kami orang asing. Hal ini saya rasakan ketika mereka menyapa kami agar mampir ke tempat mereka dengan cara yang kasar.

Meskipun Qanathir termasuk kawasan wisata taman, namun jalan-jalan yang membelah tempat tersebut tampak kotor. Bila saya perhatikan, jalan-jalan di Qonathir dipenuhi kotoran kuda yang menyebar di mana-mana. Kondisi jalanan seperti ini saya jumpai sejak turun dari kapal hingga ujung jalan sebelum belok ke arah kiri, yang di sana terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan jalan menuju lokasi taman lainnya. Kondisi ini disebabkan oleh kuda-kuda yang lalu-lalang di tengah jalan. Kuda-kuda tersebut memang disewakan kepada para pengunjung. Entah berapa tarifnya perjam. Yang jelas, karena kotoran kuda, jalan-jalan di Qonathir tampak berdebu dan bau. Kok bisa-bisanya tempat wisata dibiarkan kotor begitu tanpa ada upaya menjaga kebersihan. Mungkin situasi inilah yang menyebabkan teman-teman malas untuk kembali ke Qonathir.

Di sepanjang jalan saya menjumpai pula tempat penyewaan sepeda onthel dan motor. Agaknya, sudah menjadi hal lumrah di Mesir jika penyewaan sepeda onthel dan motor selalu ada di tempat wisata. Di jalanan itu saya menjumpai orang Mesir ugal-ugalan saat bersepeda motor. Mereka ngebut tanpa mempedulikan lalu-lalang banyak orang di jalan. Suara bising terdengar seolah-olah mereka tak mau kalah dengan pengendara kuda.

Orang Mesir memang menyukai taman-taman. Waktu liburan mereka biasanya dihabiskan di taman bersama keluarga. Dan Qonathir adalah salah satu dari sekian banyak taman di Mesir yang jadi objek wisata. Namun demikian, Qanathir memiliki daya tarik tersendiri, karena sebelum tiba di sana, pengunjung disuguhi keindahan Sungai Nil selama perjalanan via kapal.

Qonathir Khairiyah, begitu nama lengkapnya, terletak di kabupaten Qalyubiyah, 20 km sebelah utara Kairo. Qonathir adalah kawasan yang menjadi pertemuan dua cabang Sungai Nil yang masing-masing mengalir ke Dimyath dan Rasyeed. Qanathir pertama kali dibangun oleh Muhammad Ali Pasya (1769-1849) pada 1843.

Pada mulanya Qanathir dibangun untuk memberdayakan Sungai Nil dan mencegah meluapnya air sungai tersebut yang sering menenggelamkan daerah pertanian. Bangunan tersebut berupa wilayah luas yang sejatinya untuk menanggulangi meluapnya air Sungai Nil yang datang dari tiga mata angin di Delta Nil (Manufi, Taufiqi, Buhairi). Dengan kata lain, Qanathir dibangun sebagai bedungan terbuka yang berfungsi menampung arus air yang mengalir dari Delta Nil.

Qanathir, yang saat ini luasnya sekitar 500 acre (1 acre = 4047 m²), termasuk kawasan bernilai estetika dan peninggalan penting pada masa pemerintahan Muhammad Ali Pasya. Karena itulah selain pertimbangan fungsi di atas, Qanathir juga dikembangkan menjadi objek wisata mengingat tempatnya yang indah karena dekat Sungai Nil. Untuk itu, sejak pertama kali dibuka pada 30 Agustus 1868, Qanathir terus berbenah dengan membangun taman rumput dan vila-vila mewah di sekitar kawasan tersebut. Konon, di Qanathir itulah Adil Imam, salah seorang aktor komedian termasyhur Mesir, membangun sebuah villa di tepi Sungai Nil.

Terlepas dari jalan-jalan di Qanathir yang kotor, di sana saya melihat taman rumput yang luas dengan pohon-pohon rindang yang dibatasi pagar. Di taman itu saya melihat orang Mesir berkumpul santai bersama keluarga sambil makan-makan. Sesekali terlihat anak-anak kecil sedang asyik bermain-main. Sementara di tempat lain, saya melihat sepasang muda-mudi pacaran, menyambung kebiasaan seperti saat mereka sedang di kapal. Mereka asyik berdua sambil menikmati udara segar dan pemandangan alam di bawah pohon rindang dan beralaskan rerumputan.

Setelah hampir limabelas menit berjalan dan kemudian mendapat tempat yang nyaman untuk kumpul, maka acara langsung dimulai. Secara garis besar, tema acara ini adalah rihlah bersama. Di almamater kami selain acara kumpul-kumpul yang diselingi makan-makan, rihlah adalah cara lain untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan. Tradisi ini sudah ada sejak senior-senior saya hingga terjaga sampai sekarang. Meskipun terkadang acara rihlah seperti ini tidak sepenuhnya mendapat sambutan hangat dari teman-teman lain.

Udara panas siang itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk meramaikan acara. Setelah sambutan dan pengarahan silih berganti, acara yang paling ramai adalah ketika panitia mengerjai peserta rihlah. Sekali lagi, pada momen inilah saya menjumpai kreativitas teman-teman yang kaya. Mereka bisa membikin suasana terasa hidup. Hingga tak terasa perjalanan yang melelahkan ini selalu diliputi keceriaan. Mereka pun tertawa. Bersorak-sorak seraya mengolok-olok teman yang sedang dikerjai. Seolah-olah mereka mafhum bahwa dalam rihlah ini, hendaklah dikesampingkan dulu setiap persoalan yang acap bikin stres. Kami butuh hiburan. Dan barangkali dengan cara itu, selain terhibur, momen itu mematrikan ingatan bahwa tiap kali dalam kebersamaan, ada keindahan yang sulit dilupakan.

Satu setengah jam lebih acara berlangsung. Acara kemudian ditutup doa, lalu makan-makan. Kami meninggalkan Qonatir sekitar pukul tiga sore. Lalu kembali berlayar mengarungi Sungai Nil, meninggalkan Qanathir yang menyimpan sehimpun kenangan. Kenangan itu, entah kenapa, selalu mengajak saya untuk menengok kembali, hingga menuliskan kisah ini.

Tiba-tiba saya sadarkan diri. Saya tak bakal menemukan kebahagiaan lagi bila kembali ke Qanathir meskipun menyusuri indahnya Sungai Nil. Saya sadar jika saya hidup di sebuah masa yang berbeda.[]

Kattamea, 19 April 2010

ket: foto 1 & 2 hasil googling, sisanya dok. ikamaru
logoblog

2 komentar:

  1. cerita menarik cak...
    jadi pengen liburan neeh...
    salam dari Gresik

    BalasHapus