Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Sabtu, 10 April 2010

Cengeng

ya allah, kutulis curhat ini kepadamu sebagai ungkapan kesedihan dan kebimbangan yang kurasakan saat ini. entah, kenapa, keputusan yang kubuat waktu itu tanpa pertimbangan yang pasti. waktu itu aku cuma menuruti kata hati. apa yang kuputuskan hari itu adalah pilihan yang tepat. karena itu, bismillah, aku pasti bisa. dengan berbekal keyakinan dan kemantaban, apa yang kuputuskan hari itu adalah jembatan untuk menyongsong masa depan.

tapi apa lacur. waktu-waktu yang kulalui ternyata membuat aku tergilas. aku seolah-olah getas untuk berdarah-darah memperjuangkan prinsip. pendeknya, aku gagal melampui waktu-waktu yang seharusnya potensi yang kumiliki kukembangkan sebaik mungkin. mungkin aku terlalu santai. mungkin aku terlalu malas. mungkin aku terlalu meremehkan hal-hal yang seharusnya menjadi skala prioritasku. barangkali aku kualat dengan omonganku sendiri. “ah, cari uang kok enak ya, daripada sekolah.” ini jelas keliru. apalah artinya materi bilamana ilmu dinomorduakan, apalagi jauh-jauh di sini aku menuntut ilmu.

tapi, ya allah, aku juga butuh makan. bayar rumah, listrik, yang aku sendiri juga berdarah-darah untuk menjumput rezekimu itu. ya, itulah konsekuensinya engkau ciptakan aku sebagai manusia. selain engkau menyuruh aku beribadah kepadamu, dengan rezekimu yang bertebaran di muka bumi, engkau meniscayakan aku untuk bekerja. juga berbuat baik terhadap sesama. sementara itu yang tetap kukerjakan hingga saat ini, aku juga mafhum akan eksistensiku sendiri. mungkin saja aku belum masuk kriteria hambamu: ‘yang beriman dan orang-orang yang berilmu’, yang sampai detik ini nyata-nyata aku belum mencapai maqam mereka, dan karena maqam itulah engkau berhak membalasnya dalam bentuk derajat mulia di antara manusia.

tapi ya allah, tiba-tiba aku sadar apa yang kupikirkan itu keliru. aku tak pantas merendah diri sampai sejauh itu. ‘kan, kamu sudah kubekali akal, kesehatan, dan rezeki yang tempo dulu engkau harap-harapkan untuk bisa meneruskan s2mu’, demikian logika yang kerap muncul dalam nalarku untuk menerjemahkan apa-apa yang telah engkau anugerahkan kepadaku, sekaligus menelanjangi betapa kerdilnya pikiranku. ‘apa yang kurang dari apa yang telah kuberikan kepadamu. tapi engkau tak pernah bersyukur.’ ya allah, tiba-tiba aku geragapan bilamana logika itu yang meloncat dari pikiranku. ya, syukur. mudah diucapkan, tapi berat diamalkan. ya, itu persoalannya. akal, kesehatan, waktu yang longgar, bukankah itu kenikmatan tiada tara yang semustinya dioptimalkan sebaik mungkin. ya allah, inni kuntu min az-zhalimin.

berat, berat, sungguh berat. bagaimana nikmat yang spesial itu sampai sia-sia di tanganku. ya, aku sadar akhirnya, jika aku selama ini salah. barangkali aku sendirilah yang membangun lobang gua kegelapan sehingga aku tersesat dan tak keluar-keluar karena bibir gua tak kunjung kutemukan.

duh gusti, biarlah kesalahan yang kucipta ini kutanggung sendiri. biarlah semua ini menjadi pelajaran yang berharga di kemudian hari. namun demikian, ya allah, aku berharap engkau sudi membantu meringankan bebanku ini. Karena berat, sungguh teramat berat, bila masa lalu yang penuh kesialan itu, tiba-tiba muncul kembali, hingga menyeretku untuk menengok lagi ke belakang, sehingga aku dibuat tak berdaya, dan akhirnya aku bagai orang mati padahal jasad yang ditempa ruh ini masih utuh.

rabbanâ zhalamnâ anfusana wa in lam taghfir lana lanaku nanna mina al-khasirin.[]
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar