Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Senin, 12 April 2010

Masih Seorang Pengecut


Aku masih belum bisa memejamkan mata. Kulirik jam tanganku menunjukkan angka setengah dua. Angin malam membelai sekujur tubuhku yang terbungkus selimut tebal. Pandangan mataku menerawang sambil menatap langit-langit yang berwarna putih. Warna ini semakin menambah ingatanku pada wajah pucat pasi kawanku. Masih terbayang olehku saat dia tersenyum. Tapi senyum itu kini terasa hambar. Semua yang tampak olehku hanyalah kebohongan. Di balik semua itu ternyata dia menyimpan kepedihan yang melukai hatinya. Dia sekarang tampak sakit. Tapi seandainya dia merasakan apa yang sedang kualami, aku menjamin sakit yang kurasakan ini tak kalah pedihnya.

Ya, karena perbincanganku dengan dia tadi sore itulah yang membuatku sakit dan kecewa. Sampai saat ini aku belum bisa melupakannya. Aku meragukan semua yang dikatakannya. Bagiku, dia itu tipe laki-laki malang yang sok tegar, padahal tak lebih hanya seorang pengecut yang terlalu pintar mencari-cari alasan untuk membohongi dirinya sendiri, sok belagu, sok bijak; dia itu menyimpan perasaan yang benar-benar menyedihkan, naif, konyol... Inilah yang membuatku prihatin sekaligus benci pada dia.

Pantas saja saat dalam kesendirian, dia tampak sedih dan murung. Di wajahnya terlukis keputusasaan atas sebuah harapan. Ini kudapati saat dia berada di sebuah masjid sambil menuliskan sesuatu di buku harian. Dalam pada itu aku sengaja tidak menyapanya. Aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan. Jika dia sedang berada di masjid sambil menuliskan sesuatu, pasti ada permasalahan yang dihadapinya. Pernah dia bilang bahwa masjid yang terletak di pinggir kota itu bisa memberi ketenangan dan kedamaian yang tidak bisa didapatkan di tempat lain selama tinggal di kota ini. Jika demikian, dugaanku pasti benar kalau dia sedang ada masalah.

Kawanku ini memang pendiam. Semenjak dekat dengan dia, aku cukup mengenal kepribadiannya. Kalau ada permasalahan, dia lebih senang memendamnya daripada mencurahkan kepada orang lain, termasuk kepadaku sebagai teman dekatnya. Ini berbeda dengan aku yang selalu terbuka kepada siapa pun. Tapi kawanku ini punya kelebihan yang tak kumiliki. Di balik semua itu, ternyata dia punya cara tersendiri. Segala permasalahan yang menumpuk di pikirannya, itu dia tuangkan ke dalam sebuah tulisan. Aku kagum padanya. Dia pernah bilang bahwa menuliskan segala sesuatu akan dapat mengatasi kenangan dan perasaan yang pahit. Dan ternyata benar. Saat aku berkunjung ke kamarnya dia nyaris menulis terus. Entahlah, apa saja yang dia tulis.

Pernah aku berkunjung ke kamarnya dan dia tidak ada. Saat itu pikiranku sedang pusing. Aku memikirkan kondisi keuanganku yang semakin menipis dan hutang yang menumpuk. Selain itu, aku juga belum membuat kerneh dan membeli muqarrar. Padahal ujian tinggal beberapa hari lagi. Daripada pusing, mendingan aku pergi ke kamar kawanku untuk mendengarkan musik, begitu pikirku. Tapi dia tidak ada di kamar. Meski demikian, aku tetap memaksa diri untuk masuk. Dan secara kebetulan aku melihat buku kecil berwarna biru di atas meja. Aku penasaran dengan isi buku itu, sebab aku pernah melihat kawanku menuliskan sesuatu di dalamnya saat dia sedang di masjid beberapa waktu lalu. Lantas aku membacanya. Ternyata kawanku ini piawai menuliskan apa saja dalam buku itu. Mulai dari puisi, kata-kata bijak, curhat dan.... Masya Allah, dia sedang jatuh cinta! Begitulah kesimpulanku saat membaca tulisannya di halaman terakhir. Aku terkejut dan terheran-heran dengan tulisan itu. Apakah benar permasalahan itulah yang membuat dia akhir-akhir ini agak berubah? Mengapa dia tidak sedikit pun bercerita kepadaku? Lantas aku mencoba mengingat-ingat siapa saja wanita yang pernah dekat dengan dia. Seketika itu aku ingat pada salah seorang wanita. Apa benar kawanku telah jatuh cinta dengan dia? Begitulah aku bertanya-tanya.

Sore itu aku niatkan diri bertandang ke kamarnya. Kebetulan dia sedang tidur santai sambil melamun. Dia tidak kelihatan menulis lagi seperti dulu tiap kali aku berkunjung. Terus terang, aku tak tega melihat kondisi dia akhir-akhir ini. Dia semakin kurus dan tiap hari kerjanya tidur melulu. Sebagai teman terdekat, aku tak tega melihatnya. Aku ingin memulihkan kondisi dia agar kembali hidup dengan penuh gairah dan percaya diri.

"Kau selamanya tidak akan bisa menyimpan rahasia yang kau pendam!," kataku membuka percakapan. "Sebaiknya kau katakan saja sejujurnya kepadaku. Aku sudah cukup lama menjalin keakraban denganmu. Dan kau juga tahu siapalah aku ini."

"Ah, apa-apaan sih. Aku tak paham maksudmu!" ucap dia. Kata-kata seperti itu sudah aku duga sebelumnya. Seperti biasa, dia pasti mengelak dan berlagak bodoh. Dan ini sering membuat hatiku jengkel. Sebenarnya tidak ada masalah bagiku jika dia tidak mau berterus terang. Tapi untuk kali ini, bagaimanapun caranya, aku harus mengetahui kebenaran persoalan yang dihadapinya.

"Bukankah kau mencintai dia?" tanyaku yang langsung ke pokok permasalahan.

"Maksudmu?!” Kawanku kaget. Matanya terbelalak dan melototiku. Lalu dia duduk dan menyandarkan tubuhnya ke tembok.

"Ayolah, katakan terus terang! Jangan kau khianati perasaanmu!"

"Ya, aku mencintai dia!" jawabnya spontan.

Aku senang mendengar jawaban itu. Tapi aku tidak tahu apakah jawaban itu benar-benar keluar dari bawah sadarnya atau tidak. Sebab itu, aku harus terus menyelidik keberanan kata-katanya. Aku juga heran mengapa dia tidak berkomentar apa pun saat aku bertanya seperti itu. Ah, mungkin dia sudah tak tahan lagi memendam perasaan cintanya, pikirku.

"Memang sakit mencintai orang yang tidak mencintai kita. Namun, akan lebih sakit lagi jika kita mencintai seseorang dan kita tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Mengapa kamu kau tidak terus terang saja?!”

"Karena sampai sekarang aku sama sekali tidak pernah bersungguh-sungguh mencintai dia!"

Jawaban ini sangat mengagetkanku. "Bukankah tadi kamu bilang mencintai dia?"

"Benar," katanya, "dan justru sebab itu aku pantang untuk melakukannya. Pantang itu artinya tidak melakukan apa yang dicintai. Aku selalu curiga kepada apa yang aku cintai sebagai manusia. Kalau naluriku mencintai, biasanya itu hal yang tidak baik, yang menurutku, bisa jadi itu disengaja oleh Tuhan untuk mengujiku. Memang harus kuakui, jika mencintai dia sudah barang tentu hatiku akan bahagia. Tetapi, yang menjadi permasalahan adalah, di bagian manakah kebahagiaan itu harus aku taruh dalam ruang hidupku? Sebab kebahagiaan yang kurasakan selama ini hanyalah semu dan abstrak. Kebahagiaan di dunia tidak bisa menjanjikan nilai-nilai istimewa. Bagiku, hidup adalah air mata.”

“Lantas....”

"Maka sejak sekarang aku berlatih untuk mengerjakan apa yang tidak aku cintai dan tidak melakukan apa yang aku cintai. Dan sejak sekarang aku sudah berprinsip bahwa aku mengerjakan hidup ini tidak berdasarkan apa yang aku cintai, melainkan berdasarkan apa yang baik dan harus. Pedoman dan kriteria tentang yang baik dan harus itu tidak aku mintakan kepada siapa pun di muka bumi ini selain kepada Tuhan. Sebab Dialah satu yang berhak atas diriku."

Aku bingung mendengarkan jawaban ini. Aku heran mengapa dia punya jawaban seperti itu. Keherananku bertambah lagi karena dia yang selama ini kukenal sebagai sosok pendiam, ternyata jago omong juga. Ah, apa karena pembicaraan kami mengenai cinta? Kemudian aku bertanya lagi, "Lalu apa hubungannya dengan mencintai dia sebagai seorang wanita?"

"Ada baiknya aku katakan kepadamu. Jika aku mencintai seorang wanita, termasuk dia, aku harus memahami cintaku terlebih dahulu. Cintaku merupakan pemberian dan anugerah terindah yang datang dari Tuhan. Sebab itu, aku tidak ingin pilih kasih. Aku mencintai dia seperti halnya mencintai coro, bekicot, kadal, tikus, kucing, cacing dan semua makhluk Tuhan yang bernyawa. Aku mencintai dia bukan karena terpana akan budi pekertinya dan mukanya. Aku mencintai dia bukan karena menuruti kedunguan perasaanku yang acapkali menggiring pada hawa nafsu. Aku mencintai dia hanya karena memang aku berkewajiban mencintai dia sebagai sesama makhluk-Nya. Aku mencintai dia karena ada tuntutan dari hati nuraniku yang memang sudah terlanjur berazam untuk mencintai siapa pun. Karena itu, aku berkeyakinan bahwa cintaku kepadanya bukanlah karena faktor bahwa aku melakukan apa yang aku cintai. Tapi itu merupakan nilai-nilai kebaikan dan keharusan yang selama ini sudah menjadi prinsip hidupku." Bagaikan mitraliur, rentetan kata-kata ini menyerbuku.

"Kamu gila. Sungguh, kamu benar-benar gila...."

"Benar!" Tiba-tiba dia memotong. "Aku selalu memohon kepada Tuhan agar aku dijadikan gila saja. Biarlah kegilaanku ini menjadi wujud sempurna dalam hidupku. Tapi bukan kegilaanku jika definisinya sama dengan definisi kamu. Aku berharap gila yang membungkus diriku ini bisa mengantarkan aku pada gerbang kebenaran dan kebaikan. Dan yang lebih penting, bagaimana kegilaanku ini bisa menuju kesejatian hidup hakiki, untuk memandang keindahan wajah Ilahi."

“Bukankah mencintai wanita adalah fitrah? Mengapa kamu membohongi dirimu sendiri?”

“Fitrah adalah konsep yang unik dalam citra manusia. Kelahiran fitrah bukan begitu saja ada, melainkan sudah ada rencana dari Tuhan. Tapi fitrah selama ini lebih kupercayai sebagai kecenderungan potensi yang sanggup menerima nilai-nilai kebenaran. Jika mencintai wanita termasuk fitrah, maka aku harus tidak menjadi tuan atas diriku untuk lebih mencintai siapa pun dari sekedar wanita. Aku harus bersiap-siap diri dan bersedia berkorban demi apa pun yang kuanggap baik. Tentu saja, ini merupakan citra asli yang dinamis, yang terdapat dalam psikopikis diriku sebagai manusia; sehingga aku dapat mengaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku yang berpegang pada ketulusan, kebersamaan dan persaudaraan.”

Aku terpana dengan argumennya. Meskipun demikian, terus terang, aku masih sangsi dengan apa yang dikatakannya. Karena itu, aku ingin mengingat-ingat kembali catatan hariannya sebagai bahan pembicaraan selanjutnya.

Ya aku ingat, aku telah membaca di catatan hariannya bahwa wanita yang dia kenal itu memiliki kelebihan tersendiri. Dia sangat memuja-mujanya. Bahkan wanita itu dianggap sebagai penyelamat jiwanya. Ini terjadi ketika perjalanan karir hidupnya hampir tamat. Pasalnya, dia pernah divonis salah seorang kawan dekatnya sebagai pengecut. Bahkan, masih menurut catatan yang kubaca itu, dia sempat linglung dan depresi. Karena itu, ketika wanita itu masih mempedulikan nasibnya, dia merasa beruntung dan senang. Dia seolah mendapatkan kekuatan baru. Namun, yang membuatku bersimpati, dia menganggap wanita itu telah menyodorkan sebuah cermin. Katanya, dia malu melihat dirinya sendiri yang dipenuhi oleh noda-noda dosa, ketika wanita itu menceritakan semua intensitas ibadahnya di hadapannya. Karena itulah, aku ingin mengajukan pertanyaan lebih jauh lagi tentang wanita itu. "Lantas kenapa dulu kamu memuja dia sedemikian rupa!?"

Dia diam sebentar. Mulutnya dikunci rapat-rapat. Sorot matanya menatap tajam wajahku. Di wajahnya seolah ada rasa sesal yang begitu mendalam. Sambil menundukkan wajahnya, dia melanjutkan pembicaraan.

"Itulah ketololanku. Aku gampang diranjau oleh identitas dan kepribadian yang sampai sekarang aku belum bisa menemui titik kejelasan dan kongkritnya. Aku mudah dimanipulasi oleh penampilan-penampilan luar yang amat menggiurkan syahwati, sehingga membuatku terlena dan lupa memperhatikan isi. Aku terlalu terobsesi oleh angan-angan yang melangit, hingga tanpa kusadari akhirnya aku sendiri malah terjatuh dan terjerembab di dalam jurang kesengsaraan yang paling dalam."

"Apa karena omongan orang yang pangling melihat dia akhir-akhir ini sehingga kamu berubah haluan?!" Aku mencoba menebak.

"Aku belum bisa berkesimpulan seperti itu!”

Dia menghela nafas panjang. Lalu berkata:

“Terus terang, aku masih bingung. Kebingunganku ini terjadi karena aku belum bisa merumuskan secara mendetail semua objek kajian tentang dia. Tapi ini bukan tugas utamaku. Sebab ada tugas lain yang lebih penting dari sekedar tugas membahas tentang dia yang –Insya Allah—tidak akan ada manfaatnya sama sekali. Tapi setelah membaca fakta tentang dia secara mendalam, aku hampir berpendapat sama: pangling. Itu dulu. Entalah sekarang, karena aku tidak tahu lagi tentang dia. Jika omongan orang itu benar, sebagai makhluk yang lemah, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan. Aku memohon agar dia masih punya kesanggupan untuk pangling kepada dirinya sendiri. Kesanggupan pangling kepada dirinya sendiri sesungguhnya adalah berlakunya prinsip dan standar yang menyangkut identitas dan kepribadian."

"Bukankah kau merasa menemukan sesuatu yang kau anggap hilang selama kau dekat dengan dia di tempat itu?" Aku berkata demikian untuk membuka kembali kenangan masa lalunya.

"Jangan membicarakan itu lagi. Aku tak ingin mengingatnya kembali. Aku tak ingin menengok masa lalu. Aku ingin membuang secarik kenangan ini ke dalam tong sampah!" ujarnya.

"Masa lalu tidak bisa dilupakan begitu saja. Jadikanlah masa lalumu sebagai intropeksi untuk hari depanmu. Kamu perlu berhenti sebentar dan mengenang kembali masa lalumu. Dan masa lalu tidak akan mudah pergi meskipun kamu seperti tidak ingin menengoknya. Tidakkah kenangan bersama dengan dia adalah sesuatu yang baik?!" ucapku begitu meyakinkan.

Kawanku terdiam lagi. Pandangannya menerawang, membayangkan entah apa. Tampak di wajahnya tercermin keberatan untuk menengok masa lalu.

“Yang jelas, aku tak ingin jatuh cinta! Aku akan berjuang keras menghadapi masa kini dan nantiku!” katanya sinis.

“Kau jangan senantiasa membohongi perasaanmu. Kau tidak boleh memaksakan diri untuk memendam cinta. Cinta layak diberi kesempatan. Ketika kesempatan itu telah hilang dan cinta tak juga datang, maka ia meminta kelapangan jiwa. Aku tahu pedihnya rasa kehilangan, bahkan mungkin kau akan menilai ini sebuah pengkhianatan.”

“Justru karena itulah aku ingin menjahui cinta. Cinta sering menjebakku dalam ketidakpastian, yang mendorongku ke sudut ketidakberdayaan, bahkan sekedar mengekspresikan dalam bentuk paling sederhana sekalipun....”

“Dan karena itulah kau rela membohongi perasaanmu sendiri!” Aku memotong.

“Sudahlah,” katanya, “aku tak ingin mendiskusikan perihal tentang dia lagi. Sudah aku katakan, tidak akan ada manfaatnya sama sekali. Lagi pula, aku sudah mengenal dia lebih jauh. Untuk urusan cinta-mencinta, apalagi pacaran, setidaknya untuk saat ini, belum ada dalam kamus hidupnya. Dia lebih mementingkan idealismenya. Dia tak ingin mengecewakan orang-orang yang telah mendukungnya dengan sepenuh hati. Aku takut jika kehadiranku dalam hidupnya akan berandil cukup besar dalam ketidakdewasaannya. Aku tak ingin memperlakukan dia bagai menjaga kristal yang retak. Aku juga tahu dia tidak akan mau menjadi pelabuhan bagi persinggahan cintaku. Aku tak ingin menderita lagi, meskipun itu kuanggap sebagai setoran termahal untuk menggapai tangga kebahagiaan.”

Dan tibalah giliranku untuk mematahkan semua argumennya. Ini kulakukan setelah aku betu-betul memahami apa yang telah dikatakannya.

“Aku mengerti sekarang. Sampai saat ini kau masih berpikir kekanak-kanakkan. Kau sangat bodoh sekali. Kebodohanmu adalah sejenis kebaikan yang bernasib buruk. Kebodohanmu terlihat sangat polos dan terlalu berlebihan. Tidak sedikit manusia-manusia luhur yang ingin mencintai sesama, termasuk wanita, dengan mengorbankan apa yang dimiliki. Mereka bergairah dan memacu keberanian untuk mendapatkan segala apa yang telah dicita-citakan. Tetapi kebaikan hati dan keluhuran itu bisa menggelincirkan dirimu ke lantai kebodohan; karena orang yang baik hati biasanya tidak memiliki radar kepekaan dan keinginan untuk menyingkap kebenaran di balik tabir yang tersembunyi.”

Sekilas aku melirik wajahnya. Agaknya dia tersinggung dengan ucapanku ini. Lalu aku meneruskan, “Pantas kau selalu hidup dalam bayang-bayang kesengsaraan. Kau masih terlalu lemah untuk mengatakah ‘ya’ atau ‘tidak’ ketika bawah sadarmu memang berkehendak demikian. Kau belum bisa memadukan antara harapan dan keyakinan, dan sebab itu kau mudah terjerumus ke dalam lingkaran optimisme yang kosong dan keyakinan irrasional. Dan salah satu unsur yang berhubungan dengan harapan dan keyakinan dalam struktur kehidupan adalah keberanian. Kualitas keberanian orang akan menjadi esensi, jika dia bersandar pada dirinya sendiri, tanpa melalaikan naluri untuk mencintai sesama demi melanggengkan kehidupan di mana dia berada. Sementara dirimu selama ini belum memiliki keberanian. Kau tak usah menyangkal tuduhanku ini!”

Aku berhenti sebentar. Aku ingin dia berkomentar. Tapi dia hanya membisu sambil menundukkan kepalanya. Dia pasrah.

“Tadi kau bilang bahwa hidup adalah air mata. Oke, aku setuju!,” lalu aku meneruskan, “Tapi anggapan itu terlalu berlebihan. Justru dengan kehadiran dia sebagai seorang wanita, kau akan beruntung sebab segala permasalahan yang selama ini kau anggap beban bisa kau minimalisir. Segenap penderitaan tidak lagi kau tanggung sendiri, karena kamu bisa berbagi dengan dia. Jika kau masih beranggapan hidupmu terus sengsara, sementara kau membiarkannya dalam kesendirian dan kesunyiaan, maka kau tidak bisa merubah situasi dari arah yang satu ke arah yang lainnya. Jiwamu akan semakin rapuh karena sering digerogoti oleh perasaan-perasaan yang tidak tersalurkan pada setiap kecenderungannya. Hidupmu akan menjadi stagnan dan cenderung mati. Hidupmu akan mengalami ketidakberdayaan dan kemacetan total. Tidakkah kau ingin menjadi orang yang berdaya dan bermanfaat?!”

“Sudahlah,” kataku, “ngaku saja. Tak usah banyak alasan. Sekali ini berhentilah mempolitiki perasaan dan akal sehat. Kau masih tetap seorang pengecut!”

Sampai di kalimat itu, aku berhenti. Aku menatap wajahnya. Dia masih membisu sambil memegang kepalanya, seolah sedang memikirkan sesuatu. Entahlah, apa yang dia pikirkan. Aku yakin dia pasti kecewa dengan tuduhanku itu. Kehadiranku sore itu bukannya mengobati lukanya, tetapi malah menambah luka baru. Biarlah, biar dia tahu bahwa aku paling benci dengan pengecut yang sok. Dan kebenciaku kepadanya semakin mendalam lagi tatkala malam ini aku terus dibayang-bayangi wajahnya.[]

Nur Alamsyah
16 Des 2005
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar