Tapi bagaimana lagi, Emak. Anakmu ini sedang menuntut ilmu. Kukira Emak bisa sabar menahan kerinduan ini. Pengorbanan untuk memendam kerinduan ini, kukira, tak seberat dengan pengorbanan emak selama membesarkan anak-anak Emak. Itulah Emak, kenapa dulu aku bertekad untuk meneruskan kuliahku di sini. Bukankah Emak yang selama ini mengajariku untuk hidup tegar dan mandiri. Dan itu sudah aku buktikan. Emak kini tak repot-repot lagi memikirkan dan mengirimi uang untuk biaya hidup dan kuliahku. Meskipun Emak, seandainya engkau tahu keadaanku sekarang ini, engkau akan menangis. Ah, malam ini aku tak ingin berbicara tentang diriku. Yang penting, bila kerinduan itu datang, aku ingin engkau menahan air matamu dan segera mengusap bila air mata itu tumpah. Aku tidak mau membuatmu menangis. Karena itulah, aku berupaya menjadi anak yang musti bisa dibanggakan, setidaknya aku harus tamat s2, atau paling tidak, aku punya karya sendiri.
Tapi entah kenapa justru akhir-akhir ini kerinduan untuk bertemu denganmu mulai tak tertanggungkan olehku. Bayangan Emak terus menganduli mataku. Betapa waktu telah menggerogoti usiamu. Wajahmu yang kutahu lewat foto tempo hari kemarin, telah menggambarkan sisa-sisa ketegaran seorang ibu dalam menghadapi cobaan hidup. Di usia tuamu, sebagaimana lazimnya orang tua, tentu engkau ingin melihat kesuksesan anakmu ini. Betapa mendambanya engkau melihat anakmu menjadi kebanggaan bagi orang-orang sekitar. Inilah yang kuyakini tiap hari bahwa engkau tak pernah lelah untuk menghembuskannya lewat doa dalam setiap sujudmu. Karena pada siapa lagi aku berharap. Batapa doa Emak amat berarti.
Karena itulah aku merasa nyaman. Apalagi, saat-saat ini hidup yang aku jalani terasa berat. Selain umur bertambah, proses yang kujalani untuk merealisasikan idealisme mulai jauh dari harapan. Betapa masygulnya aku, Emak. Betapa mirisnya hidup akhir-akhir ini. Mungkin karena itu, akhir-akhir ini bayangan Emak kerap muncul. Emak hadir seolah-olah hendak menegurku, atas kealpaanku, keteledoranku, kesembronaanku atas segala nikmat yang Allah berikan kepadaku. Terus terang, aku malu, Emak; kepadamu, Bapak, keluarga, juga orang-orang di sekelilingku yang terlanjur tahu keberadaanku.
Lebih dari itu, Emak, setiap saat aku ingin menangis, ketika aku membayangkan harapanmu akan diriku, dan lebur dalam kerinduan yang tak tertanggungkan ketika engkau menunggu kepulanganku sambil membawa kesuksesan. Tapi entalah, Emak, aku tak tahu harus bagaimana lagi. Menyedihkan memang. Tapi aku tak boleh larut dalam kesedihan. Itulah kenapa aku ingin menuliskan semua ini dan berterus terang kepadamu, ketika di sekelilingku tak ada lagi orang yang sanggup menampung keluhanku lantaran mereka disibukkan oleh permasalahannya sendiri. Mungkin dengan cara ini kesedihanku yang memberat di rongga dada bisa terhempas. Aku tak ingin berlarut-larut tenggelam dalam persoalan ini.
Tapi itu tak cukup. Perlu ketekunan dan kesabaran yang luar bisa. Sebabnya kini aku bagai sedang mengulang mulai dari nol. Inilah yang acap membuatku stres bila larut memikirkan semua ini. Ini pula yang akhir-akhir ini acap mengusik ketentraman pikiranku hingga aku sulit konsisten pada titik yang seharusnya jadi fokus perhatian pikiranku. Menyakitkan memang. Tapi aku sadar, semua ini terjadi lantaran ulahku sendiri. Tak ada yang disalahkan. Ketika kesempatan hadir dengan segala kemudahannya, aku justru tampil dalam laku yang tak seirama dengan kapasitas yang musti dipenuhi untuk menopang wujud sebuah cita-cita. Sebuah ketimpangan yang seharusnya tak terjadi apabila diukur dari usaha kerasku selama ini yang aku lakukan demi menutupi biaya hidup dan kuliah. Inilah, Emak, permasalahan yang acap memberat di kepala, dan apabila aku terhempas dalam sudut ketidakberdayaan, tiba-tiba bayangan wajahmu telintas dalam pikiran, hingga tiba-tiba aku ingin bersimpuh di pangkuanmu, seraya berharap energi baru, biar semangatku terlahir kembali.
Ah, Emak, kenapa larut dalam penyesalan ini sulit dihilangkan. Kenapa pula hal ini semakin menambah beban pikiranku saja. Aku susah berkonsentrasi. Padahal, jalan ke depan yang aku tempuh semakin berat. Ditambah keunganku yang menipis. Terjemah yang sulit diandalkan lagi. Hidup semakin mahal.... Ah Emak, sungguh berat hidup ini. Mungkin hidup yang kujalani ini tak seberat saudara-saudaraku lainnya yang sedang diterpa kesusahan. Tapi Emak, kenapa mentalku tidak sekuat baja. Kenapa mentalku getas, sehingga aku mudah rendah diri di hadapan orang lain. Kiranya yang kubutuhkan sekarang adalah bagaimana kepercayaan diriku telahir kembali. Dan aku tak tahu bagaimana mengembalikan kepercayaan diri itu. Kadang-kadang aku malah tak yakin bisa mengembalikan bila aku tetap begini-begini saja.
Makanya, Emak, ketika banyanganmu lagi-lagi muncul, aku ingin segera mengakhiri petualanganku di negeri ini. Ingin rasanya aku berjuang dan mengamalkan ilmu yang selama ini aku pelajari. Aku merindukan hal itu. Tiap saat, ketika aku rapuh dan harus segera bangkit kembali. Juga ketika aku butuh tantangan baru yang sekiranya bisa membuat mentalku kokoh bak karang di tengah lautan. Tapi entahlah. Pikiranku akhir-akhir ini selalu buntu dan buntu.
Emak, sudahlah kiranya kuakhiri saja keluhanku ini. Aku bosan terus mengeluh jika aku sendiri tak segera bangkit lalu mencari sebuah solusi untuk selanjutnya membenahi diri. Tapi, keluhan ini tetap aku perlukan, Emak. Aku harap engkau maklum. Apalagi, akhir-akhir ini, kerinduan untuk bertemu denganmu semakin tak tertahankan. Maka, alangkah bahagia jika di hari yang fitri ini aku bisa bersimpuh di hadapanmu, seraya mengucapkan maaf, atas kecerobohan anakmu selama ini yang menghancurkan harapan-harapan yang engkau taruh di atas pundakku. Betapa engkau akan kecewa atau bahkan menangis bila menyaksikan pola hidup yang aku tempuh saat ini.
Kubayangkan, di hari idul fitri ini Emak tampak bahagia. Keluarga dan sanak famili berkumpul. Saling memaafkan, saling mendoakan. Anak-anakmu, menantumu, cucu-cucumu sungkem di hadapanmu. Keluarga nun jauh berdatangan. Bersilaturrahmi, melepas rindu, berbagi cerita, dan tentu, mereka tak lupa menanyakan kabarku. Kubayangkan, engkau menjawabnya seraya menceritakan kebanggaan-kebanggaan atas diriku yang engkau tahu. Senyum itu tak lepas dari bibirmu saat bercerita. Dan, bayangan itu membuat aku bahagia, meskipun hidup yang kujalani saat ini terasa getir.
+3 Idul Fitri [23 Sept 2009]
Tapi itu tak cukup. Perlu ketekunan dan kesabaran yang luar bisa. Sebabnya kini aku bagai sedang mengulang mulai dari nol. Inilah yang acap membuatku stres bila larut memikirkan semua ini. Ini pula yang akhir-akhir ini acap mengusik ketentraman pikiranku hingga aku sulit konsisten pada titik yang seharusnya jadi fokus perhatian pikiranku. Menyakitkan memang. Tapi aku sadar, semua ini terjadi lantaran ulahku sendiri. Tak ada yang disalahkan. Ketika kesempatan hadir dengan segala kemudahannya, aku justru tampil dalam laku yang tak seirama dengan kapasitas yang musti dipenuhi untuk menopang wujud sebuah cita-cita. Sebuah ketimpangan yang seharusnya tak terjadi apabila diukur dari usaha kerasku selama ini yang aku lakukan demi menutupi biaya hidup dan kuliah. Inilah, Emak, permasalahan yang acap memberat di kepala, dan apabila aku terhempas dalam sudut ketidakberdayaan, tiba-tiba bayangan wajahmu telintas dalam pikiran, hingga tiba-tiba aku ingin bersimpuh di pangkuanmu, seraya berharap energi baru, biar semangatku terlahir kembali.
Ah, Emak, kenapa larut dalam penyesalan ini sulit dihilangkan. Kenapa pula hal ini semakin menambah beban pikiranku saja. Aku susah berkonsentrasi. Padahal, jalan ke depan yang aku tempuh semakin berat. Ditambah keunganku yang menipis. Terjemah yang sulit diandalkan lagi. Hidup semakin mahal.... Ah Emak, sungguh berat hidup ini. Mungkin hidup yang kujalani ini tak seberat saudara-saudaraku lainnya yang sedang diterpa kesusahan. Tapi Emak, kenapa mentalku tidak sekuat baja. Kenapa mentalku getas, sehingga aku mudah rendah diri di hadapan orang lain. Kiranya yang kubutuhkan sekarang adalah bagaimana kepercayaan diriku telahir kembali. Dan aku tak tahu bagaimana mengembalikan kepercayaan diri itu. Kadang-kadang aku malah tak yakin bisa mengembalikan bila aku tetap begini-begini saja.
Makanya, Emak, ketika banyanganmu lagi-lagi muncul, aku ingin segera mengakhiri petualanganku di negeri ini. Ingin rasanya aku berjuang dan mengamalkan ilmu yang selama ini aku pelajari. Aku merindukan hal itu. Tiap saat, ketika aku rapuh dan harus segera bangkit kembali. Juga ketika aku butuh tantangan baru yang sekiranya bisa membuat mentalku kokoh bak karang di tengah lautan. Tapi entahlah. Pikiranku akhir-akhir ini selalu buntu dan buntu.
Emak, sudahlah kiranya kuakhiri saja keluhanku ini. Aku bosan terus mengeluh jika aku sendiri tak segera bangkit lalu mencari sebuah solusi untuk selanjutnya membenahi diri. Tapi, keluhan ini tetap aku perlukan, Emak. Aku harap engkau maklum. Apalagi, akhir-akhir ini, kerinduan untuk bertemu denganmu semakin tak tertahankan. Maka, alangkah bahagia jika di hari yang fitri ini aku bisa bersimpuh di hadapanmu, seraya mengucapkan maaf, atas kecerobohan anakmu selama ini yang menghancurkan harapan-harapan yang engkau taruh di atas pundakku. Betapa engkau akan kecewa atau bahkan menangis bila menyaksikan pola hidup yang aku tempuh saat ini.
Kubayangkan, di hari idul fitri ini Emak tampak bahagia. Keluarga dan sanak famili berkumpul. Saling memaafkan, saling mendoakan. Anak-anakmu, menantumu, cucu-cucumu sungkem di hadapanmu. Keluarga nun jauh berdatangan. Bersilaturrahmi, melepas rindu, berbagi cerita, dan tentu, mereka tak lupa menanyakan kabarku. Kubayangkan, engkau menjawabnya seraya menceritakan kebanggaan-kebanggaan atas diriku yang engkau tahu. Senyum itu tak lepas dari bibirmu saat bercerita. Dan, bayangan itu membuat aku bahagia, meskipun hidup yang kujalani saat ini terasa getir.
+3 Idul Fitri [23 Sept 2009]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar