Qanathir!! Hem, siapa mahasiswa Indonesia Kairo yang tak mengenal objek wisata ini. Hampir semua tahu. Kalaupun mereka belum pernah ke sana, setidaknya cerita Qanathir mampir di telinganya. Sayang sekali jika mereka melewatkan wisata ke Qanathir. Selain tempatnya tak jauh dari Kairo, ongkos perjalanannya juga tak mahal. Apalagi jika Anda punya kekasih, wah, benar-benar rugi lho, ketika masih di Kairo, Anda sama sekali belum pernah ke sana!
Saya sendiri, berapa kali, ya, ke sana. Hem, sudah tiga kali kayaknya. Terakhir kali ke sana pada pertengahan Juni 2007. Saya ingat betul itu. Lha iya, bagaimana bisa saya melupakan Qanathir untuk yang terakhir kalinya. Wong saya sendiri yang mengusulkan dan menggawanginya. Kok bisa!! Ya iya lah, kan saya ketua. Ketua apaan? Sok keren ya! hehe..
Begini. Kala itu saya menjabat ketua Ikamaru cabang Kairo. Ikamaru adalah perkumpulan almamater pesantren kami. Jadi ceritanya, sehabis ujian, kami bingung ke mana enaknya mengisi liburan. Secara rihlah kan sudah menjadi program andalan kepengurusan saya. Nah, oleh karena tidak ingin mengecewakan anggota, lebih-lebih bingung berkepanjangan memilih objek wisata karena pertimbangan ongkos, ya sudah, dipilihlah Qanathir sebagai ojek wisata. Syukurlah, demi merawat kebersamaan biar tetap terjaga, teman-teman akhirnya tidak keberatan, meskipun roman muka mereka tidak bisa menyembunyikan kekecewaan (kesal pool kalee ya...) karena saking seringnya ke Qanathir.

Pagi itu, sebelum berangkat, kami sepakat kumpul dulu di kawasan Tahrir, dekat terminal kapal pemberangkatan di pinggir Sungai Nil. Untuk menuju terminal tersebut, jika Anda menuju Tahrir kemudian sampai di Mugamma', Anda terus lurus ke depan hingga kelihatan Sungai Nil lalu belok ke kanan kemudian jalan lagi sekitar 200 meter. Setelah tampak beberapa kapal yang diparkir di pinggir Sungai Nil, nah dari situlah Anda akan memulai perjalanan. Setelah teman-teman kumpul, lantas kami membeli tiket kapal. Hari itu yang ikut sekitar 30-an orang. Setelah masing-masing mengantongi tiket, lalu kami masuk kapal, menunggu beberapa jam kapal mengangkut penumpang lain, baru kemudian jam 10 pagi kapal berlayar.
Kapal-kapal yang berangkat ke Qanathir tidak terlalu besar. Lebar kapal sekitar 10 meter, sedangkan panjangnya sekitar 25 meter. Sejak tahun 2006, model kapal diperbarui. Tentu saja, harga tiket ikutan melonjak, yaitu 10 Le., pulang-pergi. Kapal ini cukup menampung sekitar 200 penumpang. Beda dengan kapal sebelumnya yang lantai pertama terbuka, kapal baru ini dilengkapi tempat duduk empuk dengan ruangan tertutup. Ada tiga lajur tempat duduk: lajur kanan, tengah, dan kiri. Di lajur kiri dan kanan, yang bersebelahan jendela, termasuk tempat favorit bagi penumpang. Karena di lajur bangku ini penumpang bisa langung menyaksikan Sungai Nil dari jarak dekat.
Sementara di lantai atas, ruangan dibiarkan terbuka. Tempat duduk disediakan di tengah dan di pinggir kapal. Tempat paling favorit di kapal, ya, di lantai atas ini. Selain tempatnya terbuka, udara yang semilir, penumpang juga leluasa melihat pemandangan sekitarnya saat kapal berlayar. Namun bukan itu, menurut saya. Justru keindahan lebih terasa jika mereka yang duduk di lantai atas itu sedang memandu kasih. Betapa tidak. Sepanjang deretan bangku di pinggir kapal, saya melihat pemuda pemudi Mesir asyik duduk mesra bergandengan, ngobrol apa saja, tertawa gembira, seolah-olah dunia milik mereka berdua. Nah, inilah bagian dari keindahan perjalanan ke Qanathir. Saya cuma bisa membayangkan, seandainya punya gandengan sendiri, lalu duduk berdua di pinggir kapal menghadap Sungai Nil, alamak, tentu perjalanan kala itu lebih asyik!! Mungkin dunia terasa milik berdua kali yee. Yang lain ke laut aje!! Hehe..
Segera kuusir lamunan seronok itu. Saya lantas kembali ke lantai satu. Mencari-cari tempat duduk dekat jendela, lalu melamun dan sesekali melihat gadis Mesir yang bahenol-bahenol. Setelah kapal berjalan hampir 20 menit, terdengar dentuman musik keras yang memekakkan telinga. Entah judul lagu apa dan siapa yang menyanyi dalam kaset yang diputar itu. Dulu, saat kapal masih jadul, suara musik keras ini diputar melalui saund system yang ditaruh di lantai atas bagian depan kapal. Selanjutnya, sebagian cowok dan cewek Mesir mengerubungi saund system, lalu joget bareng, sesekali menirukan lagu dan meneriakkan zaghrudah. Namun kali ini saya melihat suasana beda. Musik diputar di lantai satu. Tepat di depan bangku penumpang, atau di belakang ruang kemudi kapal, tampak tempat yang agak longgar. Nah di tempat itulah biasanya cowok-cowok Mesir berjoget ria menirukan irama lagu yang diputar. Untuk mengusir lamunan, sesekali saya melihat pola joget mereka, lalu ikut tertawa, sembari tepuk tangan untuk menyemangati mereka.
Tentu saja, bukan karena hal tersebut rihlah ke Qanathir mengasyikkan bagi diri saya. Ada alasan menarik lain yang fenomenal. Perjalanan ke Qanathir sungguh berarti bagi saya karena selama perjalanan di hadapan saya terhampar Sungai Nil yang menakjubkan. Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia. Jaraknya mencapai 2400 km. Sungai Nil membelah empat negara Afrika, yang bersumber dari mata air di pegunungan Kilimanjaro, Afrika Timur, kemudian bermuara ke arah utara menuju Laut Mediterania. Saking berkahnya, Sungai Nil telah melahirkan peradaban baru di Mesir dan sejumlah negara Afrika. Ini bermula dari luapan banjir tiap tahunnya yang membawa lumpur hingga lembah di sepanjang Sungai Nil menjadi subur. Hal inilah yang menarik perhatian manusia untuk memulai hidup dan membangun peradaban di lembah tersebut. Peranan Sungai Nil begitu penting bagi lahirnya kehidupan masyarakat. Maka tepatlah jika Herodotus menyebutkan “Mesir adalah hadiah sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile).
Karena kesuburannya, tak mengherankan jika saya melihat sawah-sawah dan pepohonan rindang di sepanjang Sungai Nil. Selain bangunan dan flat-flat mewah yang berjejer di tepi Sungai Nil, saya melihat anak Sungai Nil yang membelah sawah-sawah, sehingga air sungai tersebut memudahkan masyarakat setempat untuk bertani. Air Sungai Nil juga dimanfaatkan untuk irigasi dengan membangun saluran air, terusan-terusan, dan waduk. Irigasi air Sungai Nil juga dialirkan ke ladang-ladang dan rumah-rumah penduduk di kota maupun di desa, dengan pendistribusian yang merata.
Oleh karena di Mesir tiap hari saya nyaris tak pernah kekurangan air tawar bersih, kadang-kadang ingatan saya melambung ke kampung halaman saya yang sumber mata airnya asin. Saya ingat dulu, betapa susahnya jika musim kemarau melanda kampung saya. Udara sangat panas. Di mana-mana air surut dan terasa asin. Bagi yang tidak mempunyai penampungan air hujan, mereka tak punya jalan lain kecuali membeli air tawar atau ngangsu air di telaga di luar kampung. Tiap kali membandingkan kondisi saya yang saat ini air tawar berkecukupan, membuat rasa syukur saya bertambah.
Di sepanjang Sungai Nil, saya juga melihat nelayan menjala ikan. Saya tak tahu jenis ikan apa saja yang ada di Sungai Nil ini. Pasti jenisnya beragam. Namun ikan yang sering dijual dan yang katanya dari Sungai Nil adalah ikan mujair. Ikan mujair tak asing bagi saya yang hidup di pesisir dan anak seorang petani tambak. Sepanjang yang saya lihat di pasar, ikan mujair yang dijual di sini ukurannya jumbo-jumbo. Saya jadi teringat sayur-mayur atau buah-buahan di pasar yang ukurannya jumbo-jumbo, yang ukuran tersebut sudah menjadi ciri khas ketika saya menjumpainya di Mesir. Selain mejala ikan, penduduk setempat juga kadang perahon (naik perahu) menyisiri tepi Sungai Nil sambil memancing. Atau mereka piknik berkeluarga sambil naik kapal kecil yang di tengah-tengahnya dipasang layar.
Sehimpun pemandangan ini saya saksikan saat kapal masih berlayar di Sungai Nil. Musik yang memekakkan telinga masih terdengar. Saya acuhkan suara gaduh penumpang yang membuat saya tak tahan lagi. Saya melihat teman-teman lain ngobrol satu sama lain. Saya menemukan beberapa teman yang duduk dekat saya. Yang lain mungkin duduk di atas, atau duduk di pucuk kapal depan kemudi. Angin semilir mengelus tubuh saya hingga tiba-tiba kantuk datang menyergap.[] (bersambung...)
Kattamea, 16 April 2009
Saya sendiri, berapa kali, ya, ke sana. Hem, sudah tiga kali kayaknya. Terakhir kali ke sana pada pertengahan Juni 2007. Saya ingat betul itu. Lha iya, bagaimana bisa saya melupakan Qanathir untuk yang terakhir kalinya. Wong saya sendiri yang mengusulkan dan menggawanginya. Kok bisa!! Ya iya lah, kan saya ketua. Ketua apaan? Sok keren ya! hehe..
Begini. Kala itu saya menjabat ketua Ikamaru cabang Kairo. Ikamaru adalah perkumpulan almamater pesantren kami. Jadi ceritanya, sehabis ujian, kami bingung ke mana enaknya mengisi liburan. Secara rihlah kan sudah menjadi program andalan kepengurusan saya. Nah, oleh karena tidak ingin mengecewakan anggota, lebih-lebih bingung berkepanjangan memilih objek wisata karena pertimbangan ongkos, ya sudah, dipilihlah Qanathir sebagai ojek wisata. Syukurlah, demi merawat kebersamaan biar tetap terjaga, teman-teman akhirnya tidak keberatan, meskipun roman muka mereka tidak bisa menyembunyikan kekecewaan (kesal pool kalee ya...) karena saking seringnya ke Qanathir.

Pagi itu, sebelum berangkat, kami sepakat kumpul dulu di kawasan Tahrir, dekat terminal kapal pemberangkatan di pinggir Sungai Nil. Untuk menuju terminal tersebut, jika Anda menuju Tahrir kemudian sampai di Mugamma', Anda terus lurus ke depan hingga kelihatan Sungai Nil lalu belok ke kanan kemudian jalan lagi sekitar 200 meter. Setelah tampak beberapa kapal yang diparkir di pinggir Sungai Nil, nah dari situlah Anda akan memulai perjalanan. Setelah teman-teman kumpul, lantas kami membeli tiket kapal. Hari itu yang ikut sekitar 30-an orang. Setelah masing-masing mengantongi tiket, lalu kami masuk kapal, menunggu beberapa jam kapal mengangkut penumpang lain, baru kemudian jam 10 pagi kapal berlayar.
Kapal-kapal yang berangkat ke Qanathir tidak terlalu besar. Lebar kapal sekitar 10 meter, sedangkan panjangnya sekitar 25 meter. Sejak tahun 2006, model kapal diperbarui. Tentu saja, harga tiket ikutan melonjak, yaitu 10 Le., pulang-pergi. Kapal ini cukup menampung sekitar 200 penumpang. Beda dengan kapal sebelumnya yang lantai pertama terbuka, kapal baru ini dilengkapi tempat duduk empuk dengan ruangan tertutup. Ada tiga lajur tempat duduk: lajur kanan, tengah, dan kiri. Di lajur kiri dan kanan, yang bersebelahan jendela, termasuk tempat favorit bagi penumpang. Karena di lajur bangku ini penumpang bisa langung menyaksikan Sungai Nil dari jarak dekat.
Sementara di lantai atas, ruangan dibiarkan terbuka. Tempat duduk disediakan di tengah dan di pinggir kapal. Tempat paling favorit di kapal, ya, di lantai atas ini. Selain tempatnya terbuka, udara yang semilir, penumpang juga leluasa melihat pemandangan sekitarnya saat kapal berlayar. Namun bukan itu, menurut saya. Justru keindahan lebih terasa jika mereka yang duduk di lantai atas itu sedang memandu kasih. Betapa tidak. Sepanjang deretan bangku di pinggir kapal, saya melihat pemuda pemudi Mesir asyik duduk mesra bergandengan, ngobrol apa saja, tertawa gembira, seolah-olah dunia milik mereka berdua. Nah, inilah bagian dari keindahan perjalanan ke Qanathir. Saya cuma bisa membayangkan, seandainya punya gandengan sendiri, lalu duduk berdua di pinggir kapal menghadap Sungai Nil, alamak, tentu perjalanan kala itu lebih asyik!! Mungkin dunia terasa milik berdua kali yee. Yang lain ke laut aje!! Hehe..Segera kuusir lamunan seronok itu. Saya lantas kembali ke lantai satu. Mencari-cari tempat duduk dekat jendela, lalu melamun dan sesekali melihat gadis Mesir yang bahenol-bahenol. Setelah kapal berjalan hampir 20 menit, terdengar dentuman musik keras yang memekakkan telinga. Entah judul lagu apa dan siapa yang menyanyi dalam kaset yang diputar itu. Dulu, saat kapal masih jadul, suara musik keras ini diputar melalui saund system yang ditaruh di lantai atas bagian depan kapal. Selanjutnya, sebagian cowok dan cewek Mesir mengerubungi saund system, lalu joget bareng, sesekali menirukan lagu dan meneriakkan zaghrudah. Namun kali ini saya melihat suasana beda. Musik diputar di lantai satu. Tepat di depan bangku penumpang, atau di belakang ruang kemudi kapal, tampak tempat yang agak longgar. Nah di tempat itulah biasanya cowok-cowok Mesir berjoget ria menirukan irama lagu yang diputar. Untuk mengusir lamunan, sesekali saya melihat pola joget mereka, lalu ikut tertawa, sembari tepuk tangan untuk menyemangati mereka.
Tentu saja, bukan karena hal tersebut rihlah ke Qanathir mengasyikkan bagi diri saya. Ada alasan menarik lain yang fenomenal. Perjalanan ke Qanathir sungguh berarti bagi saya karena selama perjalanan di hadapan saya terhampar Sungai Nil yang menakjubkan. Sungai Nil adalah sungai terpanjang di dunia. Jaraknya mencapai 2400 km. Sungai Nil membelah empat negara Afrika, yang bersumber dari mata air di pegunungan Kilimanjaro, Afrika Timur, kemudian bermuara ke arah utara menuju Laut Mediterania. Saking berkahnya, Sungai Nil telah melahirkan peradaban baru di Mesir dan sejumlah negara Afrika. Ini bermula dari luapan banjir tiap tahunnya yang membawa lumpur hingga lembah di sepanjang Sungai Nil menjadi subur. Hal inilah yang menarik perhatian manusia untuk memulai hidup dan membangun peradaban di lembah tersebut. Peranan Sungai Nil begitu penting bagi lahirnya kehidupan masyarakat. Maka tepatlah jika Herodotus menyebutkan “Mesir adalah hadiah sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile).Karena kesuburannya, tak mengherankan jika saya melihat sawah-sawah dan pepohonan rindang di sepanjang Sungai Nil. Selain bangunan dan flat-flat mewah yang berjejer di tepi Sungai Nil, saya melihat anak Sungai Nil yang membelah sawah-sawah, sehingga air sungai tersebut memudahkan masyarakat setempat untuk bertani. Air Sungai Nil juga dimanfaatkan untuk irigasi dengan membangun saluran air, terusan-terusan, dan waduk. Irigasi air Sungai Nil juga dialirkan ke ladang-ladang dan rumah-rumah penduduk di kota maupun di desa, dengan pendistribusian yang merata.
Oleh karena di Mesir tiap hari saya nyaris tak pernah kekurangan air tawar bersih, kadang-kadang ingatan saya melambung ke kampung halaman saya yang sumber mata airnya asin. Saya ingat dulu, betapa susahnya jika musim kemarau melanda kampung saya. Udara sangat panas. Di mana-mana air surut dan terasa asin. Bagi yang tidak mempunyai penampungan air hujan, mereka tak punya jalan lain kecuali membeli air tawar atau ngangsu air di telaga di luar kampung. Tiap kali membandingkan kondisi saya yang saat ini air tawar berkecukupan, membuat rasa syukur saya bertambah.Di sepanjang Sungai Nil, saya juga melihat nelayan menjala ikan. Saya tak tahu jenis ikan apa saja yang ada di Sungai Nil ini. Pasti jenisnya beragam. Namun ikan yang sering dijual dan yang katanya dari Sungai Nil adalah ikan mujair. Ikan mujair tak asing bagi saya yang hidup di pesisir dan anak seorang petani tambak. Sepanjang yang saya lihat di pasar, ikan mujair yang dijual di sini ukurannya jumbo-jumbo. Saya jadi teringat sayur-mayur atau buah-buahan di pasar yang ukurannya jumbo-jumbo, yang ukuran tersebut sudah menjadi ciri khas ketika saya menjumpainya di Mesir. Selain mejala ikan, penduduk setempat juga kadang perahon (naik perahu) menyisiri tepi Sungai Nil sambil memancing. Atau mereka piknik berkeluarga sambil naik kapal kecil yang di tengah-tengahnya dipasang layar.
Sehimpun pemandangan ini saya saksikan saat kapal masih berlayar di Sungai Nil. Musik yang memekakkan telinga masih terdengar. Saya acuhkan suara gaduh penumpang yang membuat saya tak tahan lagi. Saya melihat teman-teman lain ngobrol satu sama lain. Saya menemukan beberapa teman yang duduk dekat saya. Yang lain mungkin duduk di atas, atau duduk di pucuk kapal depan kemudi. Angin semilir mengelus tubuh saya hingga tiba-tiba kantuk datang menyergap.[] (bersambung...)Kattamea, 16 April 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar