Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 01 Maret 2013

Tukang Ketik

Dan apa yang saya tekuni, ternyata tak pernah sia-sia.

Saya punya cita-cita jadi penulis. Maka, ketika cita-cita itu membutuhkan wasilah, saya pun, selain membaca dan mengasah tulisan, harus pandai mengetik. Ini harus saya kuasai, pikir saya kala itu. Maka perlahan saya mulai mengakrabi tuts keyboard komputer.

Bukan kebetulan kalau saya sekarang sanggup mengetik sepuluh jari tanpa melihat tuts keyboard. Bukan semata huruf-huruf latin yang saya kuasai, tapi juga Arab. Proses yang saya lakukan membutuhkan ketekunan dan memakan waktu hampir tiga bulan. Tiap hari saya berlatih mengetik. Mulai satu jari untuk dua huruf, tiga huruf, empat, lima, dst...

Saya beroleh inspirasi kemahiran mengetik ini dari salah seorang senior saya. Kala itu, ia menekuni bidang terjemah. Keahliannya mengetik tanpa melihat keyboard luar biasa. Saya takjub dan kepingin seperti dia. Jadi, selain terjemah yang dia ahlihi, kepandaiannya dalam mengetik sepuluh jari tanpa melihat keyboard membuat saya tergoda. Saya juga bisa, pikir saya. Maka ketika komputer organisasi ditaruh di kamar saya, kesempatan ini tidak pernah saya sia-siakan untuk belajar komputer dan mengetik.

Kala itu, komputer masih merupakan barang yang berharga. Tidak seperti sekarang dimana orang-orang sudah akrab dengan laptop. Pendeknya, saya beruntung dengan cepat bisa mengenal komputer.

Hampir tiap hari, ketika komputer sedang nganggur, saya latihan ngetik. Saya asah jari-jemari saya sehingga akhirnya hapal betul dan lengket dengan huruf-huruf keyboard. Jari sepuluh ini bekerja semua. Pada latihan ini harus konsentrasi betul. Saya ingat kawan saya berkata, dalam menguasai keahlian tertentu kita harus tekun dan sabar. Pada posisi ini, kita tidak boleh tergesa-gesa. Hasil akhir memang penting, tapi proses juga tak kalah penting. Maka saya tidak boleh ingin cepat mengakhiri latihan ngetik ini. Sebab, jika saya ingin cepat-cepat bisa, saya justru banyak membuat kesalahan. Maka, usaha pelan-pelan dengan sedikit beroleh manfaat dengan meminimalisir kesalahan lebih penting daripada cara cepat-cepat tapi banyak kekeliruan sana-sini.

Pada akhirnya, kemampuan mengetik sepuluh jari tanpa melihat tuts keyboar saya kuasai. Bahkan, misalnya, saya ngetik sambil menonton tv pun saya sanggup. Diajak omong pun saya bisa melakukannya. Rupanya jari-jemari saya sudah lengket dan jodoh dengan tuts keyboard.

Kemampuan mengetik inilah yang menghantarkan saya hampir tiap hari bertemu dan berdampingan dengan Gus Ali, seorang ulama sekaligus dai terkenal. Mungkin ini sebuah anugerah, ketika saya bisa bersama dengan tokoh kharismatik ini. Saya jadi tukang ketik beliau. Terutama, pada hari Senin dan Kamis saya selalu ngetik materi ceramah beliau untuk pengajian umum di malam harinya. Sehari-hari bersama dengan Gus Ali perlahan saya mengenal ketokohan ulama ini. Saya juga banyak beroleh ilmu dan kearifaan dari beliau.

Jika dalam sebuah lirik lagu berjudul “Tombo Ati” ada penggalan kalimat “wong kang alim kumpulono”, maka bersama dengan Gus Ali semoga hati saya tercerahkan sekaligus meneladani perjuangan beliau.

Lebo, 1 Maret 2013

logoblog

1 komentar: