Ilmu tidak memberikan sebagian darinya kepadamu kecuali jika kamu mencurahkan segala kemampuanmu untuk meraihnya.
--Al-Jahizh
Kutipan ini saya dapatkan ketika saya membaca sebuah tulisan seorang budayawan ternama Mesir yang mengisahkan perjuangannya untuk meraih gelar dokor. Ia mengisahkan, demi meraih doktor, berkali-kali hasil penelitiannya ditolak olah dosen pembimbing. Tapi ia pantang menyerah. Ia pun bekerja siang malam untuk penelitiannya hingga berhasil menyelesaikan doktornya.
Mungkin cerita ini banyak yang mengalaminya. Siapa pun pernah mengalami masa-masa sulit saat menuntut ilmu. Menghadapi beragam problematika yang seakan-akan kondisi ini menyiksanya. Tapi disinilah indahnya berproses. Seseorang ditempa oleh situasi, kondisi, dan tuntutan yang sebenarnya ia sedang merintis jalannya sendiri untuk kesiapan dan kematangan pribadinya. Artinya, untuk “menjadi” seseorang tidak mungkin segera meraih hasil yang optimal dalam waktu yang pendek.
Sejarah orang-orang besar telah memberikan pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin berlaku selaku mereka. Keberhasilan mereka tidak ada yang diperoleh secara instan. Selalu ada proses panjang yang melelahkan. Dengan kata lain, kalau ingin benar-benar merasakan kebesaran dirinya seseorang harus melalui tahapan-tahapan yang tentunya tidak selalu mudah. Maka, jika seorang penuntut ilmu, tidak boleh cengeng dan cepat lelah dalam meraih cita-cita.
Apalagi, jika tuntutan mencari ilmu itu, sebagaimana sabda Rasulullah, diwajibkan sejak dalam buaian hingga meninggal dunia. Artinya tahapan dan proses itu harus kita lalui dengan sabar, mencurahkan segala kemampuan yang kita miliki. Karena untuk meraih ilmu kita butuh pengorbanan besar. Hanya dengan cara itu, seluruh ilmu akan memberikan dirinya untuk yang mencarinya.
Selalu ada pengorbanan untuk sebuah cita-cita. Dan ilmu pengetahuan selalu memberikan dirinya bagi yang sungguh-sungguh ingin meraihnya.
Lebo, 8 Maret 2013
--Al-Jahizh
Kutipan ini saya dapatkan ketika saya membaca sebuah tulisan seorang budayawan ternama Mesir yang mengisahkan perjuangannya untuk meraih gelar dokor. Ia mengisahkan, demi meraih doktor, berkali-kali hasil penelitiannya ditolak olah dosen pembimbing. Tapi ia pantang menyerah. Ia pun bekerja siang malam untuk penelitiannya hingga berhasil menyelesaikan doktornya.
Mungkin cerita ini banyak yang mengalaminya. Siapa pun pernah mengalami masa-masa sulit saat menuntut ilmu. Menghadapi beragam problematika yang seakan-akan kondisi ini menyiksanya. Tapi disinilah indahnya berproses. Seseorang ditempa oleh situasi, kondisi, dan tuntutan yang sebenarnya ia sedang merintis jalannya sendiri untuk kesiapan dan kematangan pribadinya. Artinya, untuk “menjadi” seseorang tidak mungkin segera meraih hasil yang optimal dalam waktu yang pendek.
Sejarah orang-orang besar telah memberikan pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin berlaku selaku mereka. Keberhasilan mereka tidak ada yang diperoleh secara instan. Selalu ada proses panjang yang melelahkan. Dengan kata lain, kalau ingin benar-benar merasakan kebesaran dirinya seseorang harus melalui tahapan-tahapan yang tentunya tidak selalu mudah. Maka, jika seorang penuntut ilmu, tidak boleh cengeng dan cepat lelah dalam meraih cita-cita.
Apalagi, jika tuntutan mencari ilmu itu, sebagaimana sabda Rasulullah, diwajibkan sejak dalam buaian hingga meninggal dunia. Artinya tahapan dan proses itu harus kita lalui dengan sabar, mencurahkan segala kemampuan yang kita miliki. Karena untuk meraih ilmu kita butuh pengorbanan besar. Hanya dengan cara itu, seluruh ilmu akan memberikan dirinya untuk yang mencarinya.
Selalu ada pengorbanan untuk sebuah cita-cita. Dan ilmu pengetahuan selalu memberikan dirinya bagi yang sungguh-sungguh ingin meraihnya.
Lebo, 8 Maret 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar