Ada rasa merinding ketika saya membayangkan prospek IKAMARU ke depan. Entahlah, mungkin semacam kehampaan psikis yang sedang melanda pikiran saya. Atau, barangkali saya memang sebuah ornamen yang meriah, tetapi sesungguhnya saya getas dan mudah dicampakkan. Saya tak mengerti. Yang jelas, tata kehidupan organisasi kita sudah mulai dipenuhi sikap skeptis, pesimis, dan--maaf--hilangnya akal budi yang sehat. Hidup berorganisasi seperti telah kehilangan maknanya sendiri.
Tetapi, kemudian, saya menjadi heran. IKAMARU, yang di tahun 2003 ingin diubah garis haluannya atau dibubarkan saja, ternyata masih belum tenggelam dalam samudera sejarah. Ini terjadi ketika para anggota sudah mencapai titik jenuh, bosan, dan sumpek. Bahkan, akhirnya mereka menyerah, dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi bagi sebuah kesadaran yang sayu tentang organisasi: bahwa ia memang tidak banyak yang bisa diharapkan.
Maka wajar bila ada sebagian anggota, ketika mereka masih semangatnya ingin menambah khazanah ilmu pengetahuan, merasa tak puas dan berharap lebih. Mereka pun jadi mafhum dan yakin bahwa perubahan yang berarti memang seharusnya terjadi, dan sebab itu tindakan yang bermanfaat diperlukan. Dengan demikian, mereka lari mencari lahan baru untuk mengasah keintelektualan, potensi dan kreatifitas masing-masing. Sehingga dapat diduga bahwa inilah dambaan kita semua.
Adapun sebagian besar kita, sebagai anggota, ternyata mengalami impotensi yang tak mau berbuat besar dan berani; takut menempuh bahaya untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan, serta masih dihinggapi rasa pamrih ketika berkorban demi orang lain. Kita mungkin sudah terlanjur mengarungi hidup yang beragam, yang seringkali terasa enak dan mengasyikkan. Bahkan, pada akhirnya, hidup kita terjebak hanya dalam satu dimensi saja. Kita pun dapat dimasukkan ke dalam kandang kategorisasi sebagai manusia yang sakit orientasi makna. Barangkali, inilah yang membuat tragis kehidupan kita, sehingga potensi akal, jiwa, dan raga sama sekali tak berguna.
Oleh sebab itu, wajar jika saya takut. Sekali lagi, saya tak mengerti, dengan kondisi semacam itu, apakah organisasi terus berjalan dalam garis linear atau tidak. Saya sendiri merasakan suasana yang hilang untuk berdebat dan berkompetisi, apalagi berkorban demi organisasi.
Pernakah kita membayangkan ini? Mungkin kita akan mengatakan, pendidikan organisasi justru tergantung pada kesadaran diri sendiri. Adapun kesadaran adalah latihan merumuskan serta menguraikan watak dan jati diri masing-masing, untuk kemudian dipertanggungjawabkan. Kita sesungguhnya dilatih untuk melakukan yang terbaik, ketika mendengarkan aneka keluh dan keinginan, yang sering tak akur dan menjengkelkan. Dan, tentunya, bukanlah hal yang mudah dengan sepenuh hati untuk bisa mengakhiri dan bersimpati. Juga pada dasarnya, memang tidak ada seseorang pun yang bisa memberi petunjuk kecuali akal budi sendiri, di samping kesadaran itu.
Akal budi adalah kesadaran yang ada dalam jiwa kita. Ketika kita mulai bersungguh-sungguh menggunakan akal budi, maka kita selalu mengandaikan bahwa jalan itu adalah jalan yang terbaik dari manapun yang lain. Maka, bagi saya, ini berarti menghendaki berpikir sendiri yang merupakan bukti usaha menjadi dewasa. Namun sayang, impresi kedewasaan itu, yang seharusnya tumbuh subur dalam hidup berorganisasi, belum bisa sepenuhnya ditumbuh-kembangkan. Setidaknya sampai saat ini.
Mungkin sebab itu, berlangsunglah suasana di mana orang mulai, seandainya kuasa, bersembunyi atau melarikan diri sejauh-jauhnya. Terutama bagi mereka yang sudah lama memendam kekecewaan, kegetiran, dan kepahitan, yang dirasakan ketika mereka merencanakan dan mengontrol suatu cita-cita yang dianggap baik bagi anggota.
Aneh, memang. Tapi juga benar. Bagaimanapun, kepahitan yang dialami sebagian anggota tadi, barangkali, kita terlanjur menyangka bahwa itu sudah menjadi bagian manajemen kehidupannya. Tetapi, sesungguhnya mereka, sebagai subyek, juga manusia biasa yang menyimpan kelemahan dan kekeroposan. Kita bahkan alpa akan makna subyek mereka yang memang selamanya tak akan bisa mencapai dan berbuat sempurna. Pada titik inilah, kita mayoritas anggota, mengalami kesalahan fatal.
Yang menyedihkan ialah bahwa kita terus mengulum rasa pahit di sekian waktu, dan sepertinya tak mau, mungkin tak kuasa, mengakui kesalahan kita. Yang kita lakukan justru membuat corengan kepada mereka, terus-menerus, dan karena itu kita pun menjadi kerdil. Memang menyesakkan, terutama saat menilai dan mengingat apa saja peran kita selama ini bagi orang lain dan organisasi.
Pendek kata, masih saja ada ironi yang melekat dalam hidup berorganisasi. Di sini juga terungkap bahwa ada kerancuan yang menghiasi struktur keorganisasian kita. Kalau boleh dikata, ini sebenarnya kisah klasik yang lazim, yang akan terus-menerus terjadi dari masa ke masa. Maka, memang benar kesalahan adalah sebuah keniscayaan. Permasalahannya, mampukah kita menginsyafi atau tak tahu diri?[] Wallahu A’lam.
Nur Alamsyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar