Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 03 Februari 2012

Inikah Takdirku?

sebenarnya, saat SPA aku berencana tak mau hadir. aku memilih tidur atau jalan-jalan. tapi nuraniku menghendaki lain. walau berat, aku tetap melangkahkan kaki ke kutomiyah. inilah keputusanku.

malam harinya, sebelum acara SPA digelar, aku didera keresahan mendalam. lewat swaraning sepi aku selalu dikejar-kejar oleh rasa was-was. yang paling menakutkan adalah seandainya aku tidak hadir di SPA. aku takut kalau aku menghindari tanggung jawab atas organisasi yang pernah memberi kenyamanan hidupku. pendeknya, di sudut hatiku muncul suara: lebih baik kamu datang, apa pun yang terjadi itu adalah takdirmu. akhirnya aku pasrah. jadi ketua, gak apa-apa, syukur-syukur kalau nggak jadi.

mungkin aku terlalu kampungan. tapi benar, ini memang takdirku. masa setahun yang kulewatkan sedikit demi sedikit telah berhasil membangun citraku. performaku hampir kutemukan. aku tahu apa yang harus kulakukan. cita-citaku, yang sempat kuidam-idamkan, berdasarkan nasehat ustadz, kini berhasil kuwujudkan. aku sedikit bangga atas yang kuraih, meski tak sepenuhnya memuaskan. tapi bukankah itu sedikit lebih menuntunku ke jenjang yang lebih tinggi?

kini aku pasrah. aku wajib menjadi budak tuhan. aku siap mengerahkan tenaga dan pikiranku asal demi tuhan. aku siap jadi tukang ojek, babu, camat, menteri, kiyai, ustadz, tukang lap sepatu, penjaja kue putu, loper koran, atau suamimu asalkan karena takdir tuhan, bukan karena keputusanku.

aku mengharamkan diriku terlalu ambisi dalam karir, rizeki, dan ketentuan-ketentuan yang sudah ada di tangan tuhan..

NOER

18/07/06
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar