Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 03 Februari 2012

Daya Cinta

Mengapa wanita diciptakan? “Untuk menemani sang Adam.” Begitu Dewa menjawab dalam salah satu gubahan syair lagunya. Syair itu tampak sederhana. Namun Dani, sang composer, pasti memahami latar belakang syair itu. Bukan sekedar asal-asalan. Lagi-lagi, dalam syair itu, Dani ingin menyuguhkan tema cinta.

Adalah Adam dirundung kesepian. Hari-harinya bisu dan mencekam. Hidup bagai kematian, padahal jasad yang ditempa ruh itu masih utuh. Jalan pikiran serta perasaanya kacau-balau. Meski diliputi kemewahan, ia tetap saja tak konsisten, seakan-akan hidupnya didera kemalangan. Ia merasa ada kesulitan untuk menumpahkan ragam gejolak yang mengendap di hatinya. Lantas ia mulai berkhayal, memimpikan kehadiran sang pujaan.

Dan, Tuhan pun tak tega. Lalu diciptakanlah Hawa; sosok feminim, jelita, anggun, dan mempesona. Betapa, pancaran jiwa Hawa yang mengindikasikan ketulusan cinta, menyejukkan hati dan menebarkan aroma wangi surgawi, diharapkan mampu mengobati luka Adam.

Tanpa memperpanjang episode, cinta mereka langsung bersemi. Mereka mulai membuka lembaran-lembaran baru bab kehidupan. Adam sumringah. Tampak senyum simpul tersungging di bibirnya. Kini, ia tak lagi bersusah-payah menjawab pelbagai persoalan hidup. Kedua sejoli ini pun mengikat janji sehidup-semati, merengkuh kebahagiaan, serta kesetiaan abadi.

Demikianlah. Adam-Hawa hanya sekedar tamsil. Simbol persesuaian sepasang jiwa yang dijalin mesra dengan cinta. Keduanya berhasil mentorehkan goresan cinta pada nuktah-nuktah jiwa, saling mengisi dan melengkapi. Semacam wujud romantisme hidup yang memang harus ada dalam kerangka pikiran manusia. Sebab, cinta Adam adalah anugerah Tuhan, yang disemayamkan pada dirinya yang memang seorang manusia. Dan kadar cinta Adam tentunya tak jauh beda dengan kadar cinta yang kita miliki, toh sama-sama ciptaan-Nya.

Kita selamanya pasti mengharapkan jiwa yang dipenuhi cinta. Wajar memang, sebab Tuhan tidak mau menganugerahkan cinta yang sepi dari makna, alias sia-sia. Cinta selamanya pasti membuahkan nilai-nilai positif. Kita adalah lakon utama pementasan dunia fana ini. Dan kita pun sesungguhnya tak ingin kegelapan, atau menenggelamkan diri dalam samudera sejarah. Maka, lewat maha karyaNya itu, Tuhan ingin menggelar perjodohan mitra; semacam bentuk perjodohan yang bekerja sama menyatukan cinta, yang lakonnya diperankan oleh pria maupun wanita. Atas landasan cinta keduanya tidak hadir untuk berperang dan saling memusnahkan.

Kiranya harus disadari bahwa model cinta kita selamanya tidak wungkul. Kita, yang seharusnya melembagakan nilai-nilai cinta melalui jiwa dan raga, tak bisa memungkiri dialektika tanpa konflik. Kita pun bisa saja menjalani pementasan hidup antara cinta dan kebencian, misalnya. Semacam kesadaran akan keduaan, keterpecahan, keterpisahan. Maka, kita pun dituntut bisa menuju titik menyatu dengan memroses diri dari dualisme itu. Sebab, untuk mengerti cinta, kita harus memahami rasa benci, atau sebaliknya. Pada titik ini, tak jarang pula berakhir dengan rasa haru dan pilu. Nampaknya, kita tak bisa lari menolak sebagai pengelola jenis perjodohan ini.

Yang ingin saya katakan, masihkah ada cinta yang tertanam di hati kita? []

10 Mei 2005

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar