Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 10 Juni 2011

Membeli Novel Pramudya

Sejak di Kairo, setelah sekian lama saya mengincarnya, saya pun memutuskan untuk membelinya. Agak mahal memang. Tapi jauh-jauh saya membelinya di Jakarta, yang lama menanti untuk segera membelinya karena saya mengantongi banyak uang, saya pun tak menyesal.

Ya, ini buku pertama saya yang saya beli saat di Indonesia. Saya katakan demikian karena saya mencintai buku terutama sastra. Sejak lama saya ingin membaca novel-novel karya Pramudya. Terutama tetralogi yang termasyhur itu. Saya memang sudah membaca novelnya semisal Perburuan dan Gadis Pantai, dalam format pdf, namun saat membacanya kurang nyaman di mata, dan karena itu tak selesai.

Membeli buku di Indonesia sangat beda jauh di Mesir. Patokan harga dan cetakan itu yang membedakannya. Jika novel-novel Pramudya yang saya beli ini ditulis dan dicetak tahun 70-an, maka jika di Mesir buku-buku yang dicetak pada tahun itu niscaya mudah mendapatkannya. Semisal novel-novel Naguib Mahfouz, yang banyak sekali edisi cetakannya dan mudah sekali mendapatkannya terutama di buku loakan. Saya membandingkan Pramudya dan Naguib Mahfouz—sastrawan Mesir yang saya kagumi—karena telah menghasilkan karya nobelis.

Adapun patokan harga amatlah jauh bedanya. Mahalan di sini. Saya pun yang biasanya di Mesir bisa belanja empat sampai lima buku sekali beli, di sini saya hanya mampu beli satu buku. Tak mengapa. Suatu ketika jika saya punya uang banyak, saya ingin memborong semua karya Pramudya.

Kenapa Pramudya? Saya sangat mencintai sastra. Saya sangat menyukai keindahan kata-kata melalui sastra. Selain ide penulisnya tentu saja. Melalui sastra, saya ingin ada nuansa kelembutan kata-kata yang saya tulis. Selama ini saya banyak membaca novel Arab. Dari sini saya banyak menemukan kosa kata baru yang beragam. Maka melalui sastra Indonesia, saya ingin perbendaharaan kata saya kaya.

Novel Bumi Manusia yang saya beli ini merupakan babak baru untuk belajar sastra Indonesia. Selain novel-novel Mesir yang sedikit saya pahami, saya tak boleh ketinggalan belajar sastra Indonesia. Suatu ketika saya ingin membaca sebanyak-banyaknya karya sastrawan di negeri ini. Saya ingin belajar dari mereka, tentang kelembutan, pemberontakan, pergolakan ide, cinta, sejarah, kebudayaan, takdir…

Ciputat, 10 Juni 2011

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar