Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Rabu, 15 Juni 2011

Di Malam Kenduri Cinta

(foto: kenduricinta.com)

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya memutuskan ikut. Malam itu, malam Sabtu (9/6), sebelum besok sore pulang, adalah malam terakhir saya di Jakarta. Jadi, ketika seorang teman menawari saya ikut datang di kenduri cinta, saya tak menolaknya.

Lagi pula, saya yang di Kairo acap menontonya lewat Youtube, dibuat penasaran oleh format dan situasi acara yang sesungguhnya. Terutama kehadiran Cak Nun lah yang membetot keingintahuan saya untuk menyaksikannya secara langsung.

Saya tiba di TIM pukul sepuluh tepat. Acara telah dimulai. Saya menebarkan pandangan tempat digelarnya acara. Rame, dan terkesan santai. Alas duduknya berupa terpal dan atasnya dipasang terop. Di tempat paling depan terdapat panggung yang letaknya tak terlalu tinggi. Baru tiba, di panggung saya melihat ada dua orang yang sedang unjuk kebolehan. Yang satu bernyanyi, kemudian satunya lagi melanjutkan membaca puisi.

Di panggung itulah, dulu saat di Kairo, melalui tayangan Youtube, saya menyaksikan aksi Mbah Surip, Kiai Budi, Nurshamad Kamba, Ahmad Dhani, Amin Rais, dan sederet tokoh penting di negeri ini yang diundang untuk menemani Cak Nun. Saya sangat terkesan dengan penampilan Mbah Surip. Di panggung kenduri cinta itu pertama kali saya mengenalnya. Ia bernyanyi membawakan lagu hits Bangun Tidur Lagi. Sejak itu saya jadi tahu sosok Mbah Surip yang fenomenal itu.

Karena itu, sekali lagi, saya meyakinkan diri untuk datang. Saya pun terkagum-kagum dengan para hadirin. Mereka antusias. Melihat penampilan mereka agaknya yang datang adalah rata-rata kaum terpelajar. Pendeknya, setidaknya mereka punya kepedulian terhadap situasi Indonesia saat ini.

Setelah suguhan acara nyanyi dan baca puisi, acara diskusi dimulai. Malam itu rasanya saya agak kecewa. Cak Nun berhalangan hadir. Yaaah... justru selama ini yang membuatku memburu video kenduri cinta lewat Youtube adalah ceramah Cak Nun. Juga motivasi kedatanganku malam itu. Cak Nun lah yang justru membuat acara menarik meski lewat tengah malam.

Meski tanpa Cak Nun, acara tetap menarik. Pembawa acara mulai memanggil nama-nama yang menjadi narasumber diskusi. Ada putra Cak Nun Sabrang, seorang sutradara, dan seorang yang kelihatannya pakar ekonomi. Yang menarik perhatianku malam itu adalah Sabrang. Vokalis Letto ini selain pandai bermusik, juga intelektual.

Saya pun khusuk menyimak paparannya. Gaya retorikannya mirip Cak Nun, ayahnya. Kadang nyeleneh, penuh humor, tapi berlogika. Dari sekian banyak yang dipaparkan Sabrang, saya tertarik saat dia berkata, “Tidak ada proses mengajari. Yang ada adalah proses memberikan belajar.” Dia pun mengambil contoh kondisi bayi yang tidak ada yang mengajarinya. Sembari mengutip Cak Nun ia mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang mengajari (bayi itu). Tentu cara Tuhan mengajari tidak seperti cara guru. Seorang bayi tumbuh dan belajar tidak dalam konstruksi sosial. Manusia punya insting untuk mengikuti dulu, prosesnya belakangan.

Setelah Sabrang yang omong hampir empat puluh menit, saya lebih tertarik lagi pembicara kedua yang seorang sutradara. Saya tertarik karena dia berbicara tentang sinetron. Ia memaparkan fakta yang mencengangkan. Ia, misalnya, menyebut bahwa syuting sehari harus menjadi dua episode. Nulis skenarionya juga begitu. Yang nulis rata-rata anak muda yang kalau ditanya tentang kepenulisan skenario mereka tak mengerti sama sekali. “Yang mereka lakukan adalah menonton VCD film-film Korea, India, Barat, dan sebagainya; kemudian menerjemahkannya dan jadilah skenario sinetron,” kata sang sutradara yang belakangan saya tahu namanya Agung Waskito.

Jika demikian, pantaslah sinetron-sinetron banyak yang plagiat. Tidak mendidik. Dan sangat membosankan. Alur ceritanya tak jelas, akting pas-pasan, dialog yang tanpa makna. Dan, entah kenapa tiap hari penonton mau-maunya dibodohi sinetron!!

Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari kenduri cinta malam itu. Apa yang selama ini saya saksikan lewat downloadan Youtube, akhirnya bisa saya lihat secara langsung.

Lebih dari itu, puji syukur saya ucapkan karena masih ada sosok seperti Cak Nun yang membikin acara di halaman TIM itu dengan niat dan biaya sendiri. Di tengah situasi yang lebih mengedepankan ego demi kepentingan kelompok sendiri. Maka di kenduri cinta rasa ego itu telah tiada seraya diskusi bersama-sama mengurai benang kisut persoalan yang melanda masyarakat di negeri ini.

Jika kenduri adalah kata kiasan, wakil kebersamaan, dan semangatnya cinta. Maka berbahagialah mereka yang datang dan pulang sehabis acara itu membawa cinta. Karena cinta tidak mengutuk atau menyalahkan orang.

Semoga saya termasuk di dalamnya.

Kampoengku, 14 Juni 2011
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar