Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Minggu, 05 Juni 2011

Ilmu itu Mahal

Saya tertegun. Cukup lama. Ketika pagi yang seharusnya diliputi kesegaran justru dibuat gelisah oleh pikiran. Sejak seminggu, tidur tak nyenyak, dan pening.

Dan pagi itu saya dibuat berpikir. Sampai saya teringat sms Bu Nyai lalu menelponnya.

Setelah menceritakan semua kegelisahan saya, melalui komunikasi hape dari sebuah daerah di Jawa nun jauh (sekarang saya di Ciputat, Jakarta), di tengah pembicaraan tiba-tiba Bu Nyai berkata, "Ilmu itu mahal!"

Saya tertegun lagi. Rupanya ia tahu betul saya sedang gelisah. Ia tahu saya sedang dilema. Dan ia tahu, ilmu yang kupunyai, disamping umur yang beranjak, seharusnya menjadi barang berharga yang siap menjaga saya, kapanpun dan di manapun.

"Tapi aku tak punya uang, Bu." Aku berkilah. Menegaskan jika saat ini masih menganggur.

"Aku juga sekarang ndak pegang uang, Le," katanya seolah ingin menenangkanku.

"Iya beda, dong. Kapasitas Bu Nyai sama aku." Ucapanku ini hanya berlalu dalam hati, seraya mengingat-ingat cerita beliau pertama kali menerima uang lewat hapalan Qur'annya.

"Le, ilmu itu mahal. Uang tak seberapa jika dibandingkan dengan ilmu."

Saya tertegun. Lalu dengan bangganya saya menanggapi dan menjelaskan bahwa ilmu yang saya miliki cukuplah untuk modal mengajar, untuk mencukupi keperluan hidup. Saya lalu berpikir bahwa kemampuan bahasa Arab saya terhitung di atas lumayan. Saya seorang penerjemah. Punya karya sepuluh buku terjemah yang telah cetak. Mampu memahami teks Arab cepat saat membacanya, secepat dan semudah memahami teks Indonesia.

Saya bangga.

Selanjutnya saya banyak diam. Konsentrasi mendengarkan nasihatnya. Seraya mengamini setiap panjatan doannya untuk saya.

Pagi itu saya beroleh pelajaran. Tentang nilai ilmu. Tapi saya merasa diri saya belum beres.

Sebelum mengakhiri, Bu Nyai bertanya, "Bagaimana Qur`annya, Le?"

Seolah-olah sedang menegur saya, saya diam. Lalu seraya tersipu saya jawab, "Masih delapan juz, Bu."

Ia tahu jika saya gelisah. Dan ia tahu bagaimana cara mengilangkan gelisah itu.

"Jangan lupa, Qur`annya dideres tiap malam."

Saya mafhum, akhir-akhir ini spritualitas saya turun. Padahal membaca Al-Qur`an seraya menghayati indahnya ayat-ayatnya adalah sebuah penawar. Saya pernah membuktikannya. Pada sebuah malam yang sepi, kala berteman dengan kalam ilahi, dan qiyamul laili.

Ciputat, 05 Juni 2011
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar