Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Senin, 30 Mei 2011

Pelajaran dari Messi


Saya mengenalnya pertama kali ketika memperkuat timnas Argentina dalam suatu pertandingan melawan entah negara apa saya lupa. Lima atau empat tahun lalu, ketika ia menjadi pemain cadangan, dan baru diturunkan ketika menjelang menit-menit terakhir. Sesekali, bahkan sering, kamera menyorot wajahnya, seperti hendak mengukuhkan bahwa ia adalah bintang masa depan.

Saya pun bertanya-tanya siapa pemuda itu. Saya tidak bisa terus mengikuti kiprahnya di dunia sepakbola lantaran waktu itu saya tinggal di asrama buuts, tidak punya tivi, dan internet belum bisa saya akses dengan mudah lewat modem dan laptop, seperti saat ini.

Belakangan namanya menjadi perhatian saya ketika ia bermain dalam laga Chelsea kontra Barcelona dalam ajang Liga Champion. Saya lupa pada musim berapa pertandingan bergengsi itu digelar. Yang jelas Chelsea masih dilatih Jose Mourinho, Barcelona dilatih Frank Rijkaard. Nama Messi berkibar lantaran disebut-sebut Mourinho menyebabkan salah satu bek Chelsea dikartu merah, setelah terjadi pelanggaran keras terhadap Messi. Yang saya ingat ucapan Mourinho saat itu adalah menyebut Messi sudah pandai bersandiwara demi mengelabui lawan agar wasit mengkartu merahnya.

Bermain di klub sebesar Barcelona tentu sorotan terhadap pemain begitu besar. Dan Messi, yang kala itu sudah menunjukkan bakatnya yang luar biasa bermain bola, selalu menjadi buruan media. Mata penikmat bola dunia pun mulai menanti aksi-aksinya yang luar biasa di lapangan. Meski saat itu nama Messi di bawah bayang-bayang nama besar Ronaldinho, rekannya di Barcelona, perlahan akhirnya menggeser selebritas pemain dari Brazil itu, setelah melakukan aksi-aksi yang memukau di lapangan baik individunya maupun gol-gol yang dicetaknya.

Dan malam itu, Messi lagi-lagi mempertontonkan aksi yang memukau penonton kala Barca mengandaskan Manchester United dalam laga final Liga Champion musim 2010-2011. Ia mencetak gol kedua lewat tendangan keras setelah mendapat ruang terbuka di luar kotak pinalti MU. Skor 2-1 lewat gol Messi setelah ditahan imbang MU ini akhirnya memacu semangat teman-temannya hingga akhirnya Barca menyudahi pertandingan dengan skor 3-1 setelah gol terakhir yang dicetak oleh David Villa. Satu gol Messi itu menambah tabungan jumlahnya menjadi 12 gol dan menjadi top skor tiga kali berturut-turut di ajang Liga Champion.

Namun bukan itu yang penting menurut saya. Orang-orang, saya kira, sudah maklum akan kehebatan Barca dengan permainan indahnya yang akan berhasil mengalahkan MU. Apalagi ada Messi, kemudian ditunjang dua gelandang kreatif yang punya nama besar semacam Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, tentu sudah menjadi jaminan mutu akan kemenangan Barca. Namun, di balik kehebatan Messi di lapangan, di luar lapangan, rupanya ada pelajaran penting yang patut dijadikan teladan.

Messi yang lahir dan besar di Rosario, 300 kilometer sebelah barat laut dari Buenos Aires, ternyata lahir dengan kelainan hormon. Karena kelainan hormon tubuhnya tak bisa tumbuh seperti anak-anak seusianya. Kondisi fisik itu membuatnya terbuang dari sepak bola. Ia pernah dilarang bermain sepakbola pada hari pertama di sekolah dasarnya lantaran tubuhnya yang mungil itu.

Kelainan hormon ini agaknya mustahil menjadikan Messi sebagai pesepakbola. Tapi takdir bicara lain. Di usianya ke 12, pada saat keluarganya tinggal di Catalonia, ia didaftarkan di akademi Barcelona. Ia lolos sleksi dan diterima, dan karena kelainan hormon, Barcelona siap menanggung pengobatan bulanan Messi.

Dan pilihan Barca pun tepat. Di pertandingan perdananya saat memperkuat tim Barca U-14, ia mencetak lima gol. Dan gol itu tetap mengalir dari kakinya sampai saat ini, hingga ia berdiri di puncak, dan dielu-elukan para legenda sebagai yang terbaik. Namun gelimang prestasi dan sanjungan tidak melupakan Messi dari mana ia datang. Ia memiliki empati dan kesederhanaan yang telah lazim dalam jiwa yang rendah hati.

“Aku suka hidup sederhana. Aku manusia pada umumnya,” kata Messi. Dan karena empati itulah, ia mendirikan yayasan amal untuk kesehatan dan pendidikan anak-anak bernama The Leo Messi Foundation. “Aku menyukai kegiatan amalku dengan yayasan yang membantu anak-anak di seluruh dunia.”

Memberi. Ya itulah barangkali kebahagiaan yang tengah dirasakan Messi karena mampu berbuat baik untuk orang lain—di samping pawai mencetak gol demi kemenangan tim tentu saja. “Hal istimewa (membahagiakan) bagiku adalah mencetak gol. Aku suka merayakannya bersama teman-teman dan rekan tim.”

Kisah yang dialami Messi sekarang bukan kisah perjalanan tanpa rintangan. Di samping kelainan hormon yang menyebabkan pertumbuhannya tidak normal, cemooh dan pesimistis dari orang lain pernah ia terima. “Pernah ada yang mengatakan kepadaku, aku tak akan pernah menjadi pesepakbola.” Tapi ia menepis anggapan itu. “Aku akan terus berjalan sehingga bisa mengejar impianku.”

Selalu bermula dari mimpi untuk meraih prestasi. Messi telah menjadi tauladan. Bahwa kekurangan bukan suatu halangan, tapi melalui ikhtiar yang sungguh, kekurangan pun bahkan jadi kelebihan. “Menjadi lebih kecil dari yang lain membuatku berusaha lebih cepat,” katanya.

Messi pun memukau dunia. Lewat kerendahan hati dan aksinya di lapangan. Orang-orang pun mengaguminya. Ia selalu menjejakkan kakinya di bumi, ketika saat ini bergelimangan prestasi dan bertaburan pujian. Tapi ia selalu mengingat dari mana ia berasal, di mana kesulitan hidup telah membelitnya.

"Berapa pun jumlah gelar, trofi, dan penghargaan, aku akan selalu menjadi anak-anak yang tumbuh di Rosario, Santa Fe, Argentina."

Ya, ya..Messi, kini semua orang mengelu-elukanmu, mencitaimu, mengagumimu... Kita perlu tokoh panutan berprestasi yang memiliki sifat rendah hati dan suka membantu sesama. Dan Messi adalah tauladan itu.(*)

Kampoengku, 30 Mei 2011
logoblog

1 komentar: