Dik, andai saja engkau ada di sini malam ini, temani pengembaraanku dalam kegelapan. Temani aku bercerita, bagaimana hidup tak selalu terasa indah bagi manusia seperti aku. Aku yakin, jika kita saling berpegang tangan, sebenarnya kita mampu merubahnya. Sementara itu, jam jarum terus berputar. Aku harus menunggu kesempatan itu datang. Dari pagi ke pagi. Dari senja ke senja. Dari malam ke malam. Tapi nyatanya aku masih saja tetap di sini. Terpuruk dalam keputus-asaan yang berlebihan sampai aku merasa tiba-tiba saja jenuh untuk menunggu kehadiranmu.
Namun, melihat kenyataan saat-saat ini hatiku tiba-tiba saja gundah, miris, kecewa, kesal, entah perasaan apa lagi yang campur aduk di dadaku saat ini. Di sini, di tempat yang lebih memanjakan individualisme, aku merasa seperti terjajah. Entah berapa lama lagi aku mampu bertahan. Aku sudah tak sanggup lagi menanggung apalagi aku terusan dililit dengan permasalahan baru. Baru saja aku berusaha melupakan masa-masa sendirian yang kurasa mencekam, namun itu hanya mampu bertahan sampai beberapa detik. Seterusnya aku semakin tenggelam dalam kediamanan yang membisu, dan entah kapan bisa kurajut bahagia yang pada setiap tarikan nafas aku mendambanya.
Karena itulah, Dik, aku berharap suatu saat engkau berada di sini. Menemaniku mengatasi kebimbangan pikiran. Kupikir cuma engkaulah yang saat ini mengerti tentang aku. Aku sendiri tak tahu mengapa perasaan ini dapat hadir. Malam ini saat warna langit sudah hitam, aku berusaha mencari sebongkah sinar, agar dapat menerangiku. Membukakan jalan yang baru, supaya engkau berkenan hadir dan dengan cepat membawaku segera keluar dari kegelapan.
Izinkanlah aku untuk selalu rindu dan menulis apa saja tentangmu. Sebab hanya ini yang aku punya sekarang. Barangkali aku dilahirkan sebagai seorang pengecut. Tidak dilahirkan sebagai seorang yang romantis dan perhatian. Sejak dulu aku sadar itu. Aku hanya punya butir-butir kerinduan yang mengendap di sudut hati. Aku sendiri tidak tahu perasaan macam apa yang membuatku seperti ini. Meskipun demikian, aku bersyukur pada Tuhan. Aku masih diberi ketegaran untuk dapat mengarungi hidup ini. Aku tetap berjalan meski setiap langkah yang kuayunkan kadang terseok-seoak lantaran batu terjal yang menghadang di tengah jalan.
Entahlah, mengapa aku selalu membayangkan kehadiranmu. Acapkali kubayangkan engkau sosok rupawan dengan segala sifat kewanitaan yang sempurna di mataku. Selalu tersenyum kala hari-hari sulit menghadang kita. Dan, engkau pun tak henti-hentinya menanankan rasa optimis dalam diriku. Hingga hidupku berwarna dan bergairah. Beginilah gambaranmu yang tak henti-henti mengisi perjalanan batinku yang koyak. Betapa aku mendambamu, adikku.
Aku tahu, apa yang kulakukan ini sudah usang. Aku ketinggalan zaman. Aku kuno. Aku bagai robot yang bernyawa. Masih hidup memang. Darah keluar-masuk memompa dengan cepat tapi aku selalu terjebak dari satu rutinitas ke rutinitas lainnya yang hampir sama. Aku selalu berusaha melakoni sandiwara ini dengan sebaik-baiknya. Tapi bukankah hidup itu sendiri juga sebuah sandiwara-- dan kita tak pernah tahu peran kita selanjutnya menjadi apa? Bukankah begitu, Dik?
Sebenarnya, aku merasa jenuh juga sih. Habis, bagaimana lagi? Toh, nyatanya sampai sekarang aku tak dapat menghindarinya. Sebuah hidup dan sepotong sandiwara yang tercecer, belum selesai. Aku harus melakoninya semuanya, Dik! Tak ada pilihan lain. Suka atau tidak suka, itulah kenyataan yang harus kuhadapi.
Ini sajalah yang kutulis buatmu sekarang. Sebuah tulisan kala seseorang sedang bimbang menghadapi kenyataan. Aku berpikir, mungkin sekarang, saat ini aku mebutuhkan seorang penyelamat. Tepatnya: hanya engkau seorang, Adikku. Sosok yang sanggup menebarkan sayapnya yang hangat, lalu mendekapku mesra. Barangkali, ini ada padamu sekarang. Aku masih mengharapkan kedatangan sosok itu. Sang penyelamat yang dapat memecahkan persoalan yang sedang kuhadapi. Menenangkan batinku agar tidak terus-terusan bergejolak.
Mungkin, seandainya engkau membaca surat ini sekarang-- terkesan aku sedang sakit jiwa dengan pikiran yang awut-awutan. Tidak terkontrol. Terserahlah, engkau mau menilai bagaimana. Aku tak mau repot-repot lagi. Biarlah, asal kau tahu, aku sudah berusaha menyusun kekuatan untuk mengungkapkan gundah ini padamu. Tapi apalah dayaku. Sampai sekarang aku senantiasa didera kebimbangan tak terhingga.
Beginilah aku, Dik. Sesungguhnya aku tak mau lagi memikirkan hal-hal yang berat lagi. Mungkin, aku harus bersembunyi di salah satu tempat yang terpencil agar aku dapat melupakan bayangmu. Aku merasa jiwaku sudah rapuh sekarang. Bagai kayu yang sudah digerogoti rengat. Aku sekarang cepat sekali merasa sedih. Tak tahu lagi apa yang mesti ditangisi. Derai air mataku seperti sudah habis. Kering. Entahlah, kenapa aku sekarang menjadi begitu cengeng bagai anak kecil.
Dan, di setiap waktu aku akan terus menuliskan curahan hati tentang kamu pada lembaran kusam. Meskipun kutahu engkau tak akan pernah mau tahu tentang isi hatiku. Namun aku yakin, suatu saat nanti pasti ada angin segar yang akan menyampaikannya padamu, lewat gelap malam yang begitu sunyi, seperti saat ini. Kemudian lambat laun akan merasuk ke dalam sanubarimu, lalu memberitahukan bahwa aku memang benar-benar butuh kamu!
09 Maret '08
waduh pak ... ternyata bisa romantis juga, banyak kata yg kau ucap tapi kalo dikehidupan nyata waduh teriak aja gak dengar ......
BalasHapussorry ......