Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Kamis, 11 Juli 2013

Semangat Ibnu Abbas dalam Menuntut Ilmu

“Aku telah merendahkan diriku sebagai pencari ilmu, sekarang aku menjadi mulia sebagai orang yang dicari ilmunya.”
--Ibnu Abbas ra.

Dalam menuntut ilmu, mari kita belajar pada semangat Ibnu Abbas.

Beberapa waktu setelah Rasulullah wafat, demikian Ibnu Abbas memulai ceritanya, aku pernah menemui sahabat Anshar. Aku katakan kepadanya jika Rasulullah telah lama meninggalkan kita, sedangkan para sahabat masih banyak yang hidup di antara kita. Aku ingin bersama sahabat Anshar ini menemui mereka, untuk menanyakan dan menghafalkan urusan-urusan agama. Tapi si Anshar ini justru bertanya: apakah orang-orang akan datang menanyakan masalah agama kepadamu, padahal para sahabat itu masih hidup?

Itikad baik Ibnu Abbas rupanya ditolak sahabat Anshar ini.

Tapi Ibnu Abbas tidak berhenti. Ia, didorong semangat mencari ilmu, bertekad mengetahui suatu ilmu agama dari para sahabat yang mengaku mendengarnya dari Nabi. Ia ingin membuktikan kebenaran yang diperoleh sahabat itu dari Nabi. Maka ia pun selalu bertanya seraya bersikukuh bahwa ilmu yang telah diperolehnya tidak pernah sia-sia. “Kebanyakan ilmu yang aku dapatkan adalah dari kaum Anshar,” kata Ibnu Abbas. Di mana pun keberadaan para sahabat perlu ia ketahui untuk menghafalkan persoalan agama.

Membaca kisah keponakan Nabi ini saat menuntut ilmu sungguh mengharukan. Seperti jamak seruan bersikap rendah hati bagi seorang murid di hadapan seorang guru, Ibnu Abbas adalah contoh ideal tentang itu. Tindak tanduk, pengorbanan, dan kesungguhannya patut ditiru. Mari kita simak penuturannya:

Suatu ketika aku ingin menemui seorang sahabat untuk urusan agama. Kebetulan saat aku hendak masuk rumahnya, ia sedang tidur. Maka kuhamparkan kain untuk duduk sambil menunggu di depan rumahnya sehingga muka dan tubuhku kotor oleh debu dan pasir. Meski demikian, aku setia duduk menunggu di pintu rumahnya. Setelah ia bangun, aku bertanya kepadanya mengenai masalah yang terjadi dan mengenai maksud kedatanganku.

Sahabat ini berkata, “Engkau adalah keponakan Rasulullah, mengapa engkau sampai hati menyusahkan diri, mengapa engkau tidak memanggilku saja?”

Kujawab, “Aku sedang menuntut ilmu, jadi akulah yang wajib mendatangimu. Sebab ilmu itu didatangi, bukan mendatangi”

Sementara di tempat lain, salah seorang sahabat setelah aku datangi rumahnya ia baru bangun dari tidurnya lalu bertanya, “Sejak kapan engkau duduk dan menungguku?”

“Cukup lama,” jawabku.

“Engkau telah berbuat sesuatu yang tidak layak, mengapa tidak memberitahu sebelumnya?”

“Aku tidak ingin hajatmu tertunda karena kepentinganku,” jawabku.

Ibnu Abbas bermaksud hendak menenangkan tuan rumah. Dan betapa sikap ini menunjukkan kalau keponakan Rasulullah ini sangat merendahkan hatinya dalam menuntut ilmu dan sangat menghargai kedudukan guru. Kisah ini tidak berhenti sampai di sini. Mari kita simak kisahnya lagi:

Kali waktu Zaid bin Tsabit—juru tulis wahyu dan sahabat yang terkemuka dalam keadilan, fiqih, qiraah dan faraid—hendak menaiki keledainya. Ibnu Abbas segera berdiri untuk memegangi dan menuntun keledainya. Zaid bin Tsabit pun merasa sungkan dan buru-buru melarangnya,
“Hentikan itu, wahai putra paman Rasulullah!”

“Begitulah kita disuruh berbuat terhadap ulama-ulama kita,” jawab Ibnu Abbas dengan tenang.

Zaid bin Tsabit tak kehabisan akal, lalu katanya, “Coba perlihatkan tanganmu!”
Ibnu Abbas mengeluarkan tangannya, dan langsung dicium oleh Zaid bin Tsabit seraya berujar, “Beginilah kita diperintahkan untuk berbuat kepada keluarga Nabi kita.”

Ibnu Abbas sangat rajin menuntut ilmu sampai derajat yang menakjubkan banyak orang. Masruq bin Ajda’, salah satu pembesar tabiin berkata, “Melihat Ibnu Abbas, maka harus aku akui bahwa dia orang yang paling tampan, paling lugas bicaranya, dan paling piawai dalam memberi penjelasan.”

Setelah cukup menimba ilmu, Ibnu Abbas mulai mengajar. Rumahnya menjadi jami’ (perkumpulan) bagi kaum muslimin. Benar-benar sebuah jami’ dengan seluruh kelengkapannya yang dimaksud pada masa kini. Bedanya jami’- jami’ pada zaman ini dipenuhi sejumlah tenaga pengajar, sedangkan jami’ Ibnu Abbas tegak di atas bahu satu guru, yaitu dia sendiri.

Di samping memberikan pelajaran-pelajaran khusus, Ibnu Abbas sangat memperhatikan hak-hak orang awam. Untuk itu, dia menyelenggarakan majlis-majlis penuh nasihat untuk mereka. Majlis ini menarik perhatian banyak orang sehingga mereka terkagum-kagum dengan kapasitas keilmuan Ibnu Abbas. Bahkan setiap cendekiawan yang duduk di depannya selalu tunduk kepadanya, dan setiap orang yang bertanya selalu mendapat jawaban yang memuaskan.

Karena keilmuannya yang sangat luas, Ibnu Abbas mampu mencapai kedudukan sebagai penasihat khalifah walaupun usianya masih sangat muda.

Setiap kali menghadapi kesulitan, Amirul Mukminin Umar bin Khattab selalu memanggil sahabat-sahabat utama termasuk Abdullah bin Abbas. Bila dia datang, diberinya tempat duduk di sisinya lalu berkata, “Kami menghadapi kesulitan dalam hal-hal yang engkau ahli di dalamnya dan orang-orang sepertimu.”

Umar bahkan pernah diprotes keras oleh golongan tua karena lebih mengutamakan Ibnu Abbas. Tentang hal ini Umar menjawab, “Dia memang muda, tetapi dewasa akalnya. Memiliki tutur kata yang lugas dan akal yang sehat.”

Ibnu Abbas bukan jenis manusia yang hanya bicara tanpa berbuat, atau yang melarang sementara dia sendiri melakukannya. Ia selain berilmu tinggi juga ahli ibadah. Ia dikenal ahli puasa dan suka shalat malam. Hal ini pernah diceritakan oleh Abdullah bin Malikah ketika ia menemani Ibnu Abbas dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah. “Bila kami istirahat di suatu rumah, dia akan bangun di sebagian malam sementara orang-orang tidur kepayahan.”

Ibnu Abbas dikenal memiliki wajah yang rupawan dan wajah cerah yang selalu menangis di tengah malam karena takut kepada Allah, sampai-sampai air matanya yang tumpah membekas di pipinya yang masih belia. Ia telah mencapai puncak spiritual.

Dalam usia 17 tahun Abdullah bin Abbas telah memenuhi dunia dengan ilmu, paham, hikmah dan ketakwaan. Ibnu Abbas dikenal dengan gelar Turjuman Al-Qur’an (penafsir Al-Qur’an), Habrul Ummah (guru umat), dan Ra’isul mufassirin (pemimpin para mufassir).

“Penafsir Al-Qur’an terbaik adalah Ibnu Abbas,” kata Ibnu Mas’ud.

“Ibnu Abbas dijuluki dengan Al-Bahr (lautan) karena keluasan ilmu yang dimilikinya,” kata Mujahid.

“Ketika Zaid bin Tsabit wafat, Abu Hurairah berkata, ‘Orang paling pandai umat ini telah wafat dan semoga Allah menjadikan Ibnu Abbas sebagai penggantinya.’” kata Yahya bin Sa’id Al-Anshari.

Jenazah Ibnu Abbas dishalati oleh Muhammad bin Hanafiyah bersama sisa-sisa sahabat Nabi dan tokoh-tokoh tabi’in. Dalam sebuah riwayat diceritakan, saat tanah mulai ditaburkan, terdengar suara membaca ayat 27-30 Surah Al-Fajr,

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

logoblog

3 komentar: