“Sesungguhnya aku hanyalah mengadukan kesusahan dan dukacitaku kepada Allah.”
Tiap kali saya membaca ayat ini, saya teringat tentang kesedihan. Bukan semata kesedihan, tapi ekspresi kesedihan yang berlebihan, dimana orang-orang menyatakannya dalam dinding facebook, twitter dlsb, itulah yang mendorong saya untuk mengetengahkan kembali ayat ini. Ternyata dalam tangis pun selalu ada motivasi untuk segera bangkit.
Ayat ini adalah yang ke-86 dari Surah Yusuf. Ayat ini keluar dari lisan Nabi Yakub ketika kehilangan Yusuf, putra tercintanya. Kehilangan sang putra telah mendera Nabi Yakub hingga dirundung kesedihan yang berkepanjangan sampai-sampai kedua matanya menjadi buta.
Pendeknya, Nabi Yakub sedang dihadapkan musibah. Tapi yang menarik dari kisah ini adalah Nabi Yakub tidak semata menangisi musibah itu, tapi ada pelajaran penting dari Sang Nabi yang memiliki keyakinan yang matang dan mulia saat mengadapi musibah. Ia tetap tabah ketika anak-anaknya bercerita sambil menangis bahwa salah satu saudara mereka, Yusuf, diterkam serigala. Mendengar penuturan mereka, Nabi Yakub berkata,
“Kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. 12.15)
Nabi Yakub hanya bisa menunggu kepulangan anaknya, Yusuf, yang tidak diketahui apakah masih hidup ataukah telah mati. Ia terus menunggu meskipun tidak ada hasil.
Tahun demi tahun berlalu, sementara sang anak yang hilang belum kembali pulang. Bukannya menemukan kembali anaknya, Nabi Yakub justru kehilangan lagi salah satu putranya. Luka baru kembali mendera, menambah luka lama yang sudah menganga.
Lalu, apa yang Nabi Yakub lakukan? Apakah melepas kesedihan dan berteriak keras dan berkeluh kesah? Lagi-lagi ia berkata, “Kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS. 12.15) Ia kukuh dalam ketabahan dan kesabarannya, tidak mau dikalahkan oleh kecemasan dan keputus-asaan. Ia bersenandung,
Aku memikul beban pagi hari, lalu aku melepasnya lagi
Sebab dua tanganku harus bersiap memikul beban malam
Nabi Yakub tetap menyikapi musibah kedua dengan sikap yang sama ketika musibah pertama menimpanya. Ia tetap mengharapkan rahmat Allah, memandang hari esok dengan bibir yang senantiasa mengucapkan kata harap. Hasratnya tidak padam oleh berbagai musibah. Ia kemudian berkata kepada anak-anaknya,
“Wahai anak-anakku, pergilah kalian. Carilah berita tetang Yusuf dan saudaranya. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum kafir.” (QS. 12.87)
Demikianlah sikap mulia yang dicontohkan Nabi Yakub. Dari sini, kita dapat mengambil teladan dan mempelajari ketegaran serta ketabahannya dalam menghadapi setiap musibah yang menyakitkan. Siapa pun akan menanggung musibah dalam kehidupannya. Tapi sikap bebesar hati, sabar dan menjadikan musibah sebagai pelajaran hidup adalah sikap yang harus tertanam dalam hati seorang mukmin.
Betapa pilu pengaduhan Nabi Yakub itu di hadapan Allah. Hingga dalam suatu riwayat, tatkala Umar bin Khattab membaca ayat 86 Surah Yusuf itu, di mana saat itu menjadi imam shalat shubuh, ia menangis hingga air matanya tumpah membasahi jenggotnya. Umar bersedih hati tatkala dihadapkan tanggung jawab besar setelah terpilih menjadi khalifah. Ia pun perlu mengadu kepada Allah tentang tugas berat yang bakal diembanya.
Kiranya, semua orang pasti bersedih hati dan pilu. Dan, kepada Allah kita seharusnya bersandar dan mengadu.

Sangat bermanfaat tulisannya, dari tulisan ini bisa diambil teladan dari kisah Nabi Ayub, terutama dalam hal mengajar / mendidik anak... bila kehilangan anak saja Nabi Ayub bisa bersabar, apalagi dalam hal mendidik anak, tentu bisa lebih sabar lagi... Nabi Ayub tidak memarahi anak-anaknya, padahal perbuatan anak2nya termasuk makar besar, yang hati manusia biasa tentu sulit menerima keadaan / kondisi tsb... Alhamdulillah, membaca tulisan ini membuka wawasan saya dalam hal berhubungan dengan anak-anak.... harus selalu mendahulukan kesabaran dalam segala hal dan kondisi berkaitan dengan hubungan keluarga / anak-anak...
BalasHapusAllah SWT berfirman "Hai orang-orang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." QS.At-Taghabun-14.
Kok teladan nya dr kisah nabi ayyub a.s? Kisah nabi yaakub a.s kehilangan putera tersayang nabi yusuf a.s mgkin?
Hapus