Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Rabu, 31 Oktober 2012

Fî as-Sûq


Di tengah-tengah mengajar materi bahasa Arab tentang as-sûq, tiba-tiba ingatanku melayang-layang jauh saat asyik berbelanja kebutuhan dapur di pasar, ketika dulu masih di Kairo. Sebagai lelaki yang punya hobi memasak, berbelanja pun jadi keasyikan sendiri.

Tentu bukan perkara masak-memasak atau kebutuhan dapur di kulkas yang kosong-melompong karena akhir bulan yang berdampak sistemik pada ekonomi saya dan teman-teman. Namun kegiatan di pasar, saat mengadakan transaksi tawar-menawar hingga nama barang-barang yang hendak kami beli, itulah yang punya cerita sendiri.

Ada banyak manfaat belajar bahasa Arab saat bertransaksi dengan penjual. Kalaupun saya tidak tahu bahasa Arabnya barang yang hendak saya beli, misalnya saya butuh tomat, saya tidak sungkan-sungkan menanyakan bahasa Arabnya tomat. Dih quthoh (baca: uthoh), kata si penjual yang menjawab pertanyaan saya sambil memegang tomat seolah ingin menjelaskan “ini lho yang namanya uthoh”. Si penjual maklum jika saya ajnabi, dipikirnya saya tidak tahu apa-apa tentang bahasa Arab!!

Tidak uthoh saja yang sampai sekarang melekat erat-erat di pikiran saya. Banyak benda-benda lain di pasar yang sampai sekarang saya hapal betul Arabnya. Baik itu menyangkut buah-buahan, sayur-mayur, rempah-rempah, sembako dll. Tanpa perlu repot-repot mencari di kamus cukup tanya penjual jika saya tak paham bahasanya. Dari tanya-tanya itulah kosa kata saya berkembang dan tahan lama di pikiran.

Maka di pasar pun saya beroleh banyak kosa kata baru. Misalnya saja, ketika saya hendak masak opor ayam. Tentu saya butuh banyak bahan untuk santannya. Biasanya, tiap kali masak yang membutuhkan banyak santan, saya cukup beli halîb sebagai pengganti santan. Tapi kali ini saya ingin rasa berbeda. Setelah tahu informasi dari teman-teman kalau ada parutan kelapa untuk santan, segera saya ke baqâlah langganan untuk membelinya. Lupa menanyakan kepada teman apa bahasa Arabnya parutan kelapa untuk santan itu, tiba-tiba saya bingung sendiri. Maka untuk mencari-cari bahan itu saya beranikan diri bertanya,

“Ya ‘ammu, ana ‘aiz hagah,” pinta saya kalau saya mau membeli sesuatu.

“Enta ‘auz eeh?” ia menanyakan saya mau beli apa.

“Ana ‘aiz hagah muhim li thabkh.” 

“Ya’ni eeh?” 

“Ana nasiit ismaha..”

“Leeh, ya ‘am!” 

“Mumkin ha`adkhul fi ba’alah? Hatadawwar wa ha`abhats ‘anha!”

“Hatafadhdhal!”

Saya katakan jika saya lupa nama barang yang hendak kubeli. Saya minta izin masuk baqâlah lalu mencari-cari barang yang saya cari. Setelah mengecek barang-barang jualan, saya lihat lalu memegang benda putih hasil parutan kelapa. Ini dia yang kucari-cari.

“Aa ho..ya ammu,” kata saya seraya menunjuk benda itu. Kemudian saya tanya, “Ma ismu hadza?”

“Hadza gauz hindi!!” jawab pembeli.

“Ma dza? gauz hindi?” saya ingin meyakinkan.

“Aiwah, gauz hindi!!”

Di baqâlah itu, sore hari itu, saya beroleh kosa kata baru. Juga di lain waktu, ketika saya tidak tahu lalu menanyakan bahasa Arabnya barang-barang yang hendak saya beli.

Jadi, karena faktor kebutuhanlah alias tuntutan bahasa Arab saya bisa berkembang. Saya pikir ini juga berlaku untuk bahasa-bahasa asing lainnya. Apalagi saya hidup di negeri orang lain, tentu kemampuan bahasa sangatlah urgen.

Maka tiap kali mengingat pasar-pasar tradisional di Kairo, saya selalu ingat gazar, badzinjan, filfil aswad, khiyar, fashuliyaa, na’na’, kusaah, gargir, limuun, tsaum, kiis/syanthah, kilo bikam, bathathis, kurkum,  sabanah, firakh, 'asal aswad, bashal, filfil ahmar, kasbarah, bidh, firakh, halib, sukar, kullu bikam? malah, kurumb, bamiyah..... 

Belajar bahasa adalah praktik. Bertanya jika tak bisa, lalu langsung mempraktikkannya adalah salah satu kuncinya. Tak perlu malu untuk mencoba. Butuh proses memang. Tapi sedikit pengetahuan tentang bahasa, lalu mempraktikkannya adalah langkah maju. Semakin terbiasa menggunakan pengetahuan bahasa yang kita miliki, maka segera kita akan bisa!!
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar