Alangkah beruntung orang yang tiap kali menerima nasihat lantas diamalkan dalam kehidupan nyata. Apalagi nasihat itu membuat langkah hidupnya semakin bijak. Hidupnya terasa nyaman dan tenang. Ia pun terhindar dari golongan orang-orang yang merugi.
Agama menganjurkan kita agar saling menasihati. Menasihati dalam hal kebaikan sesungguhnya amat besar manfaatnya. Karena penilaian dan nasihat orang lain pada diri kita, lalu kita merenunginya, akan membuat kita mawas diri. Kita membutuhkan nasihat orang lain agar kita instropeksi lalu berbenah diri.
Nasihat itu bisa datang darimana saja. Dari anak kecil, orang mati, orang sakit, orang tua, ulama, bahkan orang jahat dan pendosa sekalipun. Pun beragam kejadian yang ada di sekeliling kita, jika jeli dan mau berendah hati untuk terus belajar, sesungguhnya menyimpan pesan dan nasihat yang bisa kita renungkan dalam-dalam.
Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa cukuplah kematian itu sebagai nasihat. Imam Ahmad bin Hanbal lain lagi. Ia punya cerita sendiri. Ia beroleh sebuah nasihat bijak hingga mengukuhkan hatinya meski jiwanya saat itu terluka dan terbelenggu di balik terali besi.
Ketika itu, sejarah kelam umat Islam diguncang oleh peristiwa besar tentang perdebatan kemakhlukan Qur`an. Pengikut Mu’tazilah berpendirian bahwa Qur`an adalah makhluk, bukan qadim. Sebaliknya, pengikut Ahli Sunnah menyatakan bahwa Qur`an adalah kalam Allah yang azali. Mazhab Mu’tazilah yang menempatkan akal di atas segala-galanya merasa bahwa pendapat mereka yang paling benar. Mereka kuat lantaran mendapat dukungan dari penguasa kala itu. Maka, pendapat yang berseberangan dengan mereka harus dilibas habis.
Imam Ahmad bin Hanbal berada di deretan ulama yang musti disingkirkan. Berbeda dengan para ulama sezamannya yang patuh pada penguasa, ulama ini kukuh pendirian dengan menyatakan bahwa Qur`an adalah qadim. Ia pun ditangkap, dijebloskan penjara, disiksa.
Suatu hari saat di penjara, Sang Imam sedang duduk bersama dengan para tahanan. Di antara tahanan itu, ada pencuri terkenal karena sederet aksi kriminalnya. Pencuri ini amat simpati dan hormat kepada Sang Imam. Rasa belas kasihnya tak tertahankan kala ia melihat penderitaan Sang Imam lantaran luka-luka tubuhnya akibat pedihnya siksaan.
Si pencuri membisiki Sang Imam, “Tuan, mereka menyiksa Anda. Saya tahu itu. Mereka juga tak henti-henti menyiksa tubuh ini agar saya mengakui benda-benda yang saya curi. Tapi saya seorang pria sejati, tak sudi mengaku! Saya sabar menanggung setiap siksaan yang mengenai tubuh saya. Saya lakukan ini meskipun perbuatan saya di jalur kebatilan. Tuan tidak boleh menyerah dan lemah. Orang yang mempertahankan kebenaran seperti Tuan tidak pantas putus asa melebihi orang jahat seperti saya. Sungguh tidak pantas!!”
Nasehat inilah yang membuat Imam Ahmad bin Hanbal terus melawan kehendak penguasa, dan tiap kali semangatnya mengendur, ia teringat nasihat pencuri itu. Bertahun-tahun Sang Imam merasakan siksa itu. Ia menghadapinya dengan teguh, kokoh, dan tenang, seolah gunung menjulang.
Tatkala penguasa tumbang dan kemenangan di tangan Sang Imam, nasihat pencuri ini selalu terngiang. Sang Imam menanyakan orang-orang dimana kini sang pencuri tinggal. Dikatakan, pencuri itu telah meninggal. Sang Imam menanyakan kuburnya, lalu menziarahinya dan mendoakannya.
Dalam mimpinya di suatu malam, Sang Imam melihat pencuri itu masuk surga. Ia bertanya kepada pencuri itu,
“Apa yang membuat Anda masuk surga?”
“Allah telah menerima taubatku. Tidak lama setelah saya menasihati Tuan agar bersabar.”
Nur Alamsyah
Agama menganjurkan kita agar saling menasihati. Menasihati dalam hal kebaikan sesungguhnya amat besar manfaatnya. Karena penilaian dan nasihat orang lain pada diri kita, lalu kita merenunginya, akan membuat kita mawas diri. Kita membutuhkan nasihat orang lain agar kita instropeksi lalu berbenah diri.
Nasihat itu bisa datang darimana saja. Dari anak kecil, orang mati, orang sakit, orang tua, ulama, bahkan orang jahat dan pendosa sekalipun. Pun beragam kejadian yang ada di sekeliling kita, jika jeli dan mau berendah hati untuk terus belajar, sesungguhnya menyimpan pesan dan nasihat yang bisa kita renungkan dalam-dalam.
Imam Ghazali pernah mengatakan bahwa cukuplah kematian itu sebagai nasihat. Imam Ahmad bin Hanbal lain lagi. Ia punya cerita sendiri. Ia beroleh sebuah nasihat bijak hingga mengukuhkan hatinya meski jiwanya saat itu terluka dan terbelenggu di balik terali besi.
Ketika itu, sejarah kelam umat Islam diguncang oleh peristiwa besar tentang perdebatan kemakhlukan Qur`an. Pengikut Mu’tazilah berpendirian bahwa Qur`an adalah makhluk, bukan qadim. Sebaliknya, pengikut Ahli Sunnah menyatakan bahwa Qur`an adalah kalam Allah yang azali. Mazhab Mu’tazilah yang menempatkan akal di atas segala-galanya merasa bahwa pendapat mereka yang paling benar. Mereka kuat lantaran mendapat dukungan dari penguasa kala itu. Maka, pendapat yang berseberangan dengan mereka harus dilibas habis.
Imam Ahmad bin Hanbal berada di deretan ulama yang musti disingkirkan. Berbeda dengan para ulama sezamannya yang patuh pada penguasa, ulama ini kukuh pendirian dengan menyatakan bahwa Qur`an adalah qadim. Ia pun ditangkap, dijebloskan penjara, disiksa.
Suatu hari saat di penjara, Sang Imam sedang duduk bersama dengan para tahanan. Di antara tahanan itu, ada pencuri terkenal karena sederet aksi kriminalnya. Pencuri ini amat simpati dan hormat kepada Sang Imam. Rasa belas kasihnya tak tertahankan kala ia melihat penderitaan Sang Imam lantaran luka-luka tubuhnya akibat pedihnya siksaan.
Si pencuri membisiki Sang Imam, “Tuan, mereka menyiksa Anda. Saya tahu itu. Mereka juga tak henti-henti menyiksa tubuh ini agar saya mengakui benda-benda yang saya curi. Tapi saya seorang pria sejati, tak sudi mengaku! Saya sabar menanggung setiap siksaan yang mengenai tubuh saya. Saya lakukan ini meskipun perbuatan saya di jalur kebatilan. Tuan tidak boleh menyerah dan lemah. Orang yang mempertahankan kebenaran seperti Tuan tidak pantas putus asa melebihi orang jahat seperti saya. Sungguh tidak pantas!!”
Nasehat inilah yang membuat Imam Ahmad bin Hanbal terus melawan kehendak penguasa, dan tiap kali semangatnya mengendur, ia teringat nasihat pencuri itu. Bertahun-tahun Sang Imam merasakan siksa itu. Ia menghadapinya dengan teguh, kokoh, dan tenang, seolah gunung menjulang.
Tatkala penguasa tumbang dan kemenangan di tangan Sang Imam, nasihat pencuri ini selalu terngiang. Sang Imam menanyakan orang-orang dimana kini sang pencuri tinggal. Dikatakan, pencuri itu telah meninggal. Sang Imam menanyakan kuburnya, lalu menziarahinya dan mendoakannya.
Dalam mimpinya di suatu malam, Sang Imam melihat pencuri itu masuk surga. Ia bertanya kepada pencuri itu,
“Apa yang membuat Anda masuk surga?”
“Allah telah menerima taubatku. Tidak lama setelah saya menasihati Tuan agar bersabar.”
Nur Alamsyah
wow! cool man! baru kali ini ana tau bhwa seorang pencuri jga bsa menberi nasihat pdhl prbuatan mrka sendiri tercela!!!!!
BalasHapussubhanaAllah!!!!