Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Jumat, 20 Juli 2012

Kenapa Awal Ramadhan Berbeda?


Tahun ini ada perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan. Kelompok pertama, yang diwakili Muhammadiyah, puasa ditetapkan pada hari ini, Jumat. Adapun kelompok kedua, yang diwakili pemerintah dan NU, puasa ditetapkan pada hari Sabtu besok.

Untuk menjelaskan perbedaan ketentuan awal puasa tersebut, saya menghimpun keterangan dari sebuah artikel di harian Kompas (19/7), yang saya ringkaskan berikut ini:

o Belum ada kesepakatan organisasi massa Islam dengan pemerintah dalam menentukan kriteria hilal.

o Hilal (bulan sabit tipis) diinterpretasikan berbeda oleh sejumlah kelompok.

o Kelompok pertama menginterpretasikan hilal dengan konsep wujud al hilal (terbentuknya hilal).

o Syarat wujud al hilal: ijtimak (kesegarisan Matahari-Bulan-Bumi) terjadi sebelum matahari terbenam dan matahari terbenam lebih dulu dibandingkan bulan. Tak ada ketentuan bulan harus dilihat.

o Menurut BMG, posisi hilal tertinggi di Indonesia pada hari Kamis (19/7) terjadi di Palabuhanratu, Jawa Barat, dengan ketinggian 1 derajat 28 menit. Matahari terbenam delapan menit sebelum bulan. Umur hilal saat matahari terbenam saat matahari terbenam 6 jam 25 menit.

o Jika mengikuti kriteria wujud al hilal, hilal sudah wujud atau terbentuk pada kamis petang. Karena itu, 1 ramadhan jatuh pada hari Jumat (20/7).

o Kelompok kedua, menggunakan kriteria imkan ar rukyah, yang puasa jatuh pada Sabtu (21/7).

o Kelompok ini mengambil dalil hadis yang secara eksplisit untuk memulai Ramadhan setelah melihat bulan dan mengakhiri Ramadhan (Syawal) setelah melihat hilal.

o Kelompok imkan ar rukyah menetapkan, ketinggian hilal agar bisa diamati, dengan mata telanjang atau teleskop, minimal 2 derajat.

o Pemerintah mengikuti kriteria Majlis Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang mensyaratkan hilal dapat dilihat jika tingginya minimal 2 derajat, umur bulan saat matahari terbenam sejak ijtimak minimal 8 jam, dan jarak sudut matahari –bulan minimal 3 derajat.

o Pengamatan hilal penting untuk menverifikasi perhitungan (hisab) yang sudah dilakukan.

o Pelaksanaan hilal merupakan bukan perkara mudah karena kompleksitasnya tinggi, antara lain disebabkan dinamika Matahari-Bumi-Bulan hingga kondisi atmosfer.

o Sistem lainnya yang digunakan sejumlah kelompok di Indonesia adalah sistem hisab urfi yang sangat sederhana, yaitu mematok jumlah hari dalam setiap bulan Hijrah tanpa memperhatikan dinamika bulan yang sesungguhnya.

Jadi, perbedaan ketetapan awal Ramadhan lebih dikarenakan belum adanya ketentuan kriteria hilal. Hal inilah yang menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam penentuan awal bulan pada kalender Hijrah di Indonesia. Setiap kelompok saya kira punya argumen sendiri-sendiri.

Yang penting, dalam menyikapi perbedaan itu, kita tetap saling menghormati. Sehingga saat menjalankan ibadah puasa kita merasa nyaman, dan kita pun memperoleh berkah Ramadhan.
logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar