Pada saat pertemuan terakhir mengajar bahasa Arab, di penghujung semester genap, iseng-iseng saya menyodorkan kertas kosong kepada setiap siswi yang saya ajar. Sengaja saya memilih yang putri karena saya ingin ulah saya ini tidak diperbicangkan di kalangan para siswa.
Pendek kata, ulah saya ini hanyalah iseng semata. Berharap ada dokumentasi dari anak didik saya yang bisa saya jadikan kenang-kenangan. Maka tulisan tangan mereka di kertas yang saya bagikan tadi, kala itu yang terbesit di pikiran saya, adalah barang berharga yang musti saya simpan baik-baik.
Untuk apa? Saya hanya berharap kejujuran dari mereka. Sebab bagi saya, tulisan yang ditulis secara spontan, dimana kertas yang saya bagikan kala itu harus ditulis segera mungkin, saya anggap sebuah kejujuran kata hati mereka yang sebenarnya.
Setidaknya saya paham tentang jalan pikiran mereka. Karena yang saya harapkan dari isi tulisan mereka adalah penilaian tentang seorang guru yang telah mendidiknya selama satu tahun.
Terus terang, saya tidak mengharapkan yang baik-baik untuk kertas yang mereka tulis. Saya berharap masukan, apa sih yang kurang dalam metode pembelajaran yang telah saya terapkan selama ini. Tentu banyak kekurangan sana-sini. Saya berharap mereka menyampaikan kritik yang pedas untuk saya. Sebuah kejujuran yang ke depannya bisa menambah lecutan semangat saya untuk tampil lebih baik.
Ada yang mengatakan, saya adalah guru yang penyabar, tidak pernah marah, orangnya baik, gak jahat, telaten saat mengajar, dan sederet penilaian yang baik-baik buat saya. Saya tidak bisa menampik penilaian mereka itu. Kejujuran mereka saat menuliskan tentang saya harus saya apresiasi dengan baik. Saya pun bisa menyimpulkan psikologi anak-anak seusia mereka secara umum.
Penilaian mereka, bagi saya, adalah cerminan kemanjaan. Bahwa sesuatu yang baik-baik dan menyenangkan untuk mereka, meski saya akui saya sengaja tidak menindak mereka kala mereka mengacuhkan mata pelajaran yang saya ampu, menjadikan penilain-penilaian itu bermotif kebaikan akibat pola mengajar saya.
Artinya, selama ini kesan yang saya dapatkan saat mengajar adalah saya terlalu menuruti kemauan mereka. Memanjakan mereka dengan sikap-sikap lunak dan terkesan lembek. Sikap ini semakin nyata bila melihat kemampuan saya sendiri yang saat mengajar masih kerepotan mengajak mereka agar tidak tidur di kelas.
Ya, itu kelemahan saya sebagai guru. Dan saya sadari hal itu. Terutama saat saya mengajar saya melihat antusias mereka kurang greget. Tampak ada kejenuhan dan kelelahan di wajah mereka. Pada situasi ini, kadang saya bingung sendiri. Meski di sela-sela mengajar pikiran saya terbit ide ingin menyuguhkan hiburan lewat cerita-cerita menarik dan lucu, tapi saya tidak terlalu ahli dalam beretorika untuk hal ini. Maka yang terjadi adalah keajegan situasi yang menjerumus pada ketidakonsentrasian anak didik saya dalam mengikuti pelajaran saya.
Apakah saya merasa gagal? Tentu. Tapi, saya punya ide menarik untuk itu. Berbekal pengalaman mengajar selama satu tahun, saya paham apa yang musti saya lakukan ke depannya. Sengaja saya tidak menuliskannya di sini. Saya hanya ingin menulis yang kurang tentang diri saya. Sebab saya masih tidak bisa melupakan teguran seorang murid saya. Ustad, katanya, ketika mengajar, terlalu menuruti kemauan kita-kita dan kurang tegas!!
Kampoengku, 27 Juni 2012
Pendek kata, ulah saya ini hanyalah iseng semata. Berharap ada dokumentasi dari anak didik saya yang bisa saya jadikan kenang-kenangan. Maka tulisan tangan mereka di kertas yang saya bagikan tadi, kala itu yang terbesit di pikiran saya, adalah barang berharga yang musti saya simpan baik-baik.
Untuk apa? Saya hanya berharap kejujuran dari mereka. Sebab bagi saya, tulisan yang ditulis secara spontan, dimana kertas yang saya bagikan kala itu harus ditulis segera mungkin, saya anggap sebuah kejujuran kata hati mereka yang sebenarnya.
Setidaknya saya paham tentang jalan pikiran mereka. Karena yang saya harapkan dari isi tulisan mereka adalah penilaian tentang seorang guru yang telah mendidiknya selama satu tahun.
Terus terang, saya tidak mengharapkan yang baik-baik untuk kertas yang mereka tulis. Saya berharap masukan, apa sih yang kurang dalam metode pembelajaran yang telah saya terapkan selama ini. Tentu banyak kekurangan sana-sini. Saya berharap mereka menyampaikan kritik yang pedas untuk saya. Sebuah kejujuran yang ke depannya bisa menambah lecutan semangat saya untuk tampil lebih baik.
Ada yang mengatakan, saya adalah guru yang penyabar, tidak pernah marah, orangnya baik, gak jahat, telaten saat mengajar, dan sederet penilaian yang baik-baik buat saya. Saya tidak bisa menampik penilaian mereka itu. Kejujuran mereka saat menuliskan tentang saya harus saya apresiasi dengan baik. Saya pun bisa menyimpulkan psikologi anak-anak seusia mereka secara umum.
Penilaian mereka, bagi saya, adalah cerminan kemanjaan. Bahwa sesuatu yang baik-baik dan menyenangkan untuk mereka, meski saya akui saya sengaja tidak menindak mereka kala mereka mengacuhkan mata pelajaran yang saya ampu, menjadikan penilain-penilaian itu bermotif kebaikan akibat pola mengajar saya.
Artinya, selama ini kesan yang saya dapatkan saat mengajar adalah saya terlalu menuruti kemauan mereka. Memanjakan mereka dengan sikap-sikap lunak dan terkesan lembek. Sikap ini semakin nyata bila melihat kemampuan saya sendiri yang saat mengajar masih kerepotan mengajak mereka agar tidak tidur di kelas.
Ya, itu kelemahan saya sebagai guru. Dan saya sadari hal itu. Terutama saat saya mengajar saya melihat antusias mereka kurang greget. Tampak ada kejenuhan dan kelelahan di wajah mereka. Pada situasi ini, kadang saya bingung sendiri. Meski di sela-sela mengajar pikiran saya terbit ide ingin menyuguhkan hiburan lewat cerita-cerita menarik dan lucu, tapi saya tidak terlalu ahli dalam beretorika untuk hal ini. Maka yang terjadi adalah keajegan situasi yang menjerumus pada ketidakonsentrasian anak didik saya dalam mengikuti pelajaran saya.
Apakah saya merasa gagal? Tentu. Tapi, saya punya ide menarik untuk itu. Berbekal pengalaman mengajar selama satu tahun, saya paham apa yang musti saya lakukan ke depannya. Sengaja saya tidak menuliskannya di sini. Saya hanya ingin menulis yang kurang tentang diri saya. Sebab saya masih tidak bisa melupakan teguran seorang murid saya. Ustad, katanya, ketika mengajar, terlalu menuruti kemauan kita-kita dan kurang tegas!!
Kampoengku, 27 Juni 2012
semangat menjadi ustadz....! :)
BalasHapusmakasih dyah..:)
BalasHapus