Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Selasa, 12 Juni 2012

Pada Kensunyian


Aku tidak punya apa-apa, gumamnya kesekian kali, ketika kegamangan hidup tiba-tiba nyata di depan mata. Ia coba meneruskan buku yang dibacanya, sebuah karya seorang tokoh peraih nobel sastra favoritnya, tetapi pikirannya mulai tak konsentrasi. Tatapan matanya kosong.

Aku tak boleh terus-terusan begini. Pikirannya mulai terusik. Kini dunianya adalah dunia kesendirian. Dunia nestapa yang mengungkungnya tatkala orang-orang sekitarnya mulai mengacuhkannya. Ia adalah kesunyian.

Tapi pada siapa dia mengaduh. Sedang orang-orang mulai mengacuhkannya. Ia bekerja dalam kesendirian. Kesunyian, barangkali, adalah takdirnya. Ia sering mempertanyakan dirinya yang seolah-olah hanya eksistensi wujud hampa makna. Ia merasa dilupakan.

Tapi ia tak mengeluh. Ia tetap berkerja dalam kesunyian. Ia tidak menyoal nasibnya di hadapan orang lain. Baginya, hidup tak pernah sia-sia jika ia bekerja tanpa kenal batas lelah dan pamrih. Ia adalah laku maju yang melaju dalam jalur manfaat dan efektifitas. Hidupnya adalah hibah yang harus diberikan kepada siapa saja yang memerlukan.

Sekian lama laku hidup itu ia jejakkan di bumi. Ia tak ingin sia-sia, karena Tuhan tidak pernah sia-sia menciptakannya. Tapi ia terus mempertanyakan eksistensinya, seperti saat malam ini, ketika hawa dingin menerobos kamarnya. Baru saja ia terperanjat bangun karena mimpi buruk. Sebuah malam sunyi yang seperti sedang mengutukinya. Matanya memicing. Sunyi mencekam. Pikirannya kembali terusik.

Ya Allah, aku harus bagaimana. Di hadapan-Mu aku adalah makhluk dhaif. Aku tak ingin terus-menerus dalam jalan yang hampa makna. Aku harus mencari kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang kelak ingin kubagi bersama-sama, dengan istriku, anak-anakku dan orang-orang tercintaku. Aku tak boleh cepat lelah dan menyerah. Aku tak punya apa-apa. Hanya menulis yang kubisa, ya menuliskan apa saja, walau tak penting sekalipun. Ya Allah, aku butuh pertolongan-Mu.

Ia terbangun dari sujudnya di sepertiga malam yang sunyi. Ia tenggelam dalam lautan zikir. Entah kenapa dalam penghambaan itu persoalan demi persoalan masih terus berdengung dalam pikirannya.....    


logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar