Media Kajian Islam, Hukum, dan Hikmah

Senin, 01 April 2013

Galau atau Apalah Namanya?

Orang menyebutnya galau. Tapi entahlah aku tak suka dengan kata ini. Terlalu kenak-kanakkan dan manja menurutku, bila kata itu disandangkan pada diriku. Tapi entahlah kata apa lagi yang pantas untuk menggambarkan situasi diriku saat ini?
 

Berkali-kali aku begini. Kata Gus Ali, seorang anak bila dilanda stres, seyogyanya diajak refresing ke tempat yang menyegarkan otak. Tempat yang pas adalah yang berhampar hijau-hijauan. Sembari menikmati kenikmatan alam. Saran serupa juga dari Aidh Al-Qarni. Tapi penulis Lâ Tahzan ini dalam bukunya lebih menekankan hari ini untuk kebaikan. Artinya, lebih baik memikirkan hari ini saja untuk berbuat baik. Jangan terlalu bersedih atau terlena masa lalu. Juga jangan terlalu merisaukan masa depan.
 

Nasihat kedua tokoh ini benar. Permasalahannya situasi yang tidak memungkinkan. Entah kemana dan dimana aku dapat menjumpai yang hijau-hijau itu kalau aku menuruti saran Gus Ali. Sedang tinggal di asrama ketatnya begini. Kalau Aidh Al-Qarni kuturuti nasihatnya, kebaikan apa lagi yang hendak kuperbuat. Aku sudah baca Qur`an. Menguras bak kamar mandi tiap malam sebelum tidur. Menyapu kamar jika anak-anak tidak bersih menyapunya. Membantu Gus Ali mengetikkan materi pengajian dan twitter-an saban pagi. Menulis di kala senggang. Pendeknya, di asrama ini justru tiap hari aku selalu mengedepankan fiil yang baik-baik. Tapi kenapa tetap saja tidak mampu mengusir kejenuhan?
 

Tapi yang namanya manusia memang tak bisa rasa jenuh. Makanya dalam rutinitas harian seseorang dituntut untuk membuat schedule harian. Apa yang hendak diperbuat. Kenapa musti melakukan ini. Apa target hari ini. Semuanya harus jelas. Sehingga bilamana ditemukan kejenuhan dalam hidupnya, sudah pasti hal ini diantisipasi sebelumnya.
 

Kiranya Nabi Saw. sudah memberi tips untuk mengatasi masalah ini. Dalam doanya Nabi sudah mengantisipasi bagaimana menghilangkan sikap-sikap yang menyebabkan kemalasan itu. Tentunya sifat kejenuhan, kemalasan, kelemahan adalah manusiawi. Yang penting, aku harus mengikuti Rasulullah yang mengajarkan lewat doanya, bahwa hanya Allah yang dapat membantu menghilangkan sifat-sifat buruk tersebut melalui doa.


اللهم أني أعوذبك من الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ 


Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian

logoblog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar